Bobby Nasution Lantik Timur Tumanggor sebagai Pj Sekdaprov Sumut, Titip Tiga Pesan
MEDAN – Jabatan sekretaris daerah boleh sementara, tetapi pekerjaannya jelas tidak sementara. Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution melantik Timur Tumanggor sebagai Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sumut menggantikan Sulaiman Harahap, Jumat (14/8/2026).
Dalam pelantikan yang berlangsung di Aula Raja Inal Siregar (RIS), Kantor Gubernur Sumut, Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 30, Medan, Bobby menitipkan tiga pesan kepada Timur untuk dijadikan pegangan selama menjalankan amanah tersebut.
Prosesi pelantikan diawali pembacaan Surat Keputusan, kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara dan pengambilan sumpah jabatan.
Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Gubernur Sumut Surya, Ketua DPRD Sumut Erni Ariyanti Sitorus, serta jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemprov Sumut.
Pertama: Jangan Sampai OPD Jalan Sendiri-sendiri
Pesan pertama Bobby terdengar sederhana, tetapi pelaksanaannya bisa menjadi pekerjaan rumah tersendiri: menjaga kondusivitas seluruh OPD.
Timur diminta memperkuat kolaborasi antarlembaga, termasuk dengan legislatif, yudikatif, Forkopimda, dan seluruh pemangku kepentingan di Sumut.
Pemerintahan, kata Bobby, tidak bisa bekerja dengan model “jalan sendiri-sendiri”. Sebab kalau masing-masing OPD merasa paling benar dan paling penting, yang paling mungkin kebingungan justru masyarakat.
Karena itu, Pj Sekdaprov diminta menjadi penghubung sekaligus pengendali koordinasi agar roda pemerintahan berjalan dalam satu arah.
Kedua: Anggaran Jangan Cuma Besar, Harus Tepat
Pesan kedua berkaitan dengan posisi Timur sebagai Ketua Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).
Bobby meminta penyusunan dan penetapan anggaran memperhatikan tiga kepentingan utama: mendukung kebijakan pemerintah pusat, menyukseskan RPJMD Provinsi Sumut, serta mendukung pembangunan di kabupaten/kota.
“Mohon tiga poin ini dalam anggaran kedepannya harus bisa berjalan beriringan tanpa mencederai salah satu dan hal lain,” ucapnya.
Kalimat tersebut menjadi penting karena anggaran daerah bukan sekadar persoalan menambah angka di kolom pendapatan dan belanja. Di balik setiap angka ada kebutuhan masyarakat yang menunggu untuk dikerjakan.
Karena itu, anggaran yang baik bukan hanya yang besar, melainkan yang tepat sasaran.
Kalau anggaran besar tetapi manfaatnya kecil, masyarakat tentu akan bertanya-tanya. Apalagi kalau manfaatnya baru terasa ketika baliho proyek dipasang. Baliho bisa menjelaskan bahwa pembangunan sedang berjalan, tetapi jalan yang bagus tetap lebih meyakinkan.
Ketiga: Jaga Amanah, Jangan “Main Mata”
Pesan ketiga Bobby mungkin menjadi yang paling tegas: menjaga amanah dan menjauhi praktik korupsi.
Bobby secara terbuka mengingatkan Timur agar tidak melakukan permainan dalam pengelolaan anggaran.
“Jaga amanah, jangan ada ‘main mata’. Jangan ada korupsi anggaran, jangan ada mark up-mark up anggaran,” ucapnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa jabatan bukan ruang untuk mencari keuntungan pribadi.
Pj Sekdaprov memiliki posisi strategis dalam pemerintahan, termasuk dalam pengelolaan anggaran. Karena itu, integritas menjadi syarat mutlak.
Sebab uang yang dikelola pemerintah bukan uang milik pejabat. Itu uang rakyat yang dititipkan melalui mekanisme APBD. Kalau amanahnya dijaga, masyarakat yang mendapatkan manfaat. Kalau amanahnya diselewengkan, masyarakat pula yang akhirnya menanggung akibatnya.
Apresiasi untuk Sulaiman Harahap
Dalam kesempatan tersebut, Bobby juga menyampaikan terima kasih kepada Sulaiman Harahap yang sebelumnya menjalankan tugas sebagai Pj Sekdaprov Sumut.
Ia mengapresiasi kinerja Sulaiman selama mengemban amanah tersebut.
“Pergantian Pj Sekda kali ini telah ditetapkan Pemerintah Pusat. Kami mengucapkan selamat bertugas kepada Pak Timur Tumanggor yang akan melaksanakan sebagai Pj Sekda Sumut,” ujar Bobby.
Timur Tumanggor sendiri bukan orang baru dalam urusan birokrasi dan pemerintahan daerah. Saat ini ia menjabat sebagai Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Provinsi Sumut. Sebelumnya, ia pernah menjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Deliserdang.
Pengalaman tersebut tentu menjadi modal penting untuk menjalankan tugas barunya.
Kini tantangannya adalah membuktikan bahwa tiga pesan Gubernur bukan sekadar kalimat yang terdengar tegas dalam ruang pelantikan.
Menjaga OPD tetap kompak, memastikan anggaran berpihak pada pembangunan, serta menjauhkan pengelolaan keuangan dari praktik korupsi adalah pekerjaan yang harus dibuktikan setiap hari.
Karena dalam birokrasi, sumpah jabatan hanya diucapkan sekali. Tetapi amanahnya harus dijaga setiap hari.(***)







