Bobby Nasution Tawarkan Investasi UEA, dari Sekolah Unggulan hingga Semikonduktor
MEDAN – Sumatera Utara membuka pintu lebih lebar bagi peluang investasi dan kerja sama internasional. Dari pendidikan, pengembangan pelabuhan, pertanian, hingga industri semikonduktor, Gubernur Sumut Muhammad Bobby Afif Nasution menawarkan sejumlah sektor strategis kepada Uni Emirat Arab (UEA).
Namun, di tengah banyaknya peluang yang ditawarkan, pekerjaan penting berikutnya adalah memastikan pembicaraan diplomatik tersebut berlanjut menjadi kerja sama konkret, bukan sekadar daftar harapan di meja pertemuan.
Hal itu mengemuka saat Bobby menerima kunjungan Duta Besar UEA untuk Republik Indonesia, Abdulla Salem Aldhaheri, di Aula Tengku Rizal Nurdin, Rumah Dinas Gubernur Sumut, Jalan Sudirman, Medan, Rabu (28/10/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Bobby memaparkan sejumlah prioritas pembangunan Sumut yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan bersama UEA. Kerja sama itu diharapkan dapat mempercepat pembangunan daerah sekaligus memperkuat hubungan ekonomi dan kemitraan kedua pihak.
Pendidikan Jadi Pintu Masuk Kerja Sama
Salah satu sektor yang ditawarkan Bobby adalah pendidikan, terutama melalui pengembangan sekolah unggulan di Sumatera Utara.
Menurutnya, Pemprov Sumut terus berupaya meningkatkan pemerataan dan mutu pendidikan. Kerja sama dengan UEA diharapkan dapat memperluas wawasan peserta didik sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
“Kami berharap salah satu SMA atau SMK unggulan di Sumut dapat bekerja sama langsung dengan UEA. Kerja sama ini mungkin bisa mencakup penyesuaian materi pembelajaran, pengenalan tentang UEA, serta penyediaan SDM yang sesuai dengan kebutuhan industri di Indonesia maupun di kawasan Arab,” kata Bobby.
Gagasan tersebut membuka peluang bagi pengembangan kurikulum, pertukaran pengetahuan, dan penguatan keterampilan siswa agar lebih siap menghadapi kebutuhan industri.
Tantangannya, tentu bukan sekadar menjalin hubungan antarlembaga pendidikan. Kerja sama tersebut perlu diterjemahkan ke dalam program yang jelas, mulai dari kompetensi yang ingin dibangun hingga manfaat yang dapat dirasakan siswa dan tenaga pendidik.
Sebab, pendidikan unggulan tidak cukup hanya memiliki nama besar. Yang lebih penting adalah kualitas pembelajaran dan kemampuan lulusannya menjawab kebutuhan zaman.
Belawan dan Kuala Tanjung Punya Posisi Strategis
Selain pendidikan, Bobby menawarkan peluang kerja sama dalam pengembangan Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung.
Kedua pelabuhan tersebut dinilai memiliki posisi strategis karena berada di kawasan Selat Malaka, jalur penting perdagangan dan pelayaran internasional.
Potensi tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan aktivitas logistik, perdagangan, dan industri pendukung. Kerja sama dengan mitra internasional seperti UEA diharapkan membuka peluang peningkatan konektivitas ekonomi serta memperkuat daya saing Sumut.
Meski demikian, peluang investasi pelabuhan perlu didukung perencanaan yang matang, kepastian regulasi, infrastruktur pendukung, dan perhitungan kelayakan ekonomi.
Posisi geografis yang strategis memang menjadi modal penting, tetapi manfaatnya baru terasa apabila mampu mendorong aktivitas usaha, memperlancar distribusi barang, dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat.
Industri Semikonduktor Dibidik
Bobby juga memaparkan rencana pengembangan kawasan industri semikonduktor di Sumut. Sektor ini dipandang memiliki peluang untuk memperluas basis industri daerah sekaligus membuka kebutuhan tenaga kerja dengan keterampilan khusus.
Pengembangan industri tersebut, menurut Bobby, harus berjalan seiring dengan penyiapan sumber daya manusia agar kebutuhan tenaga kerja dapat dipenuhi secara memadai.
Peluang kerja sama dengan UEA pun terbuka, baik dalam pengembangan industri maupun penyiapan kompetensi tenaga kerja yang relevan.
Meski menawarkan prospek ekonomi, pengembangan industri semikonduktor membutuhkan perencanaan jangka panjang, dukungan infrastruktur, investasi besar, teknologi, serta tenaga kerja terampil.
Karena itu, gagasan tersebut perlu ditindaklanjuti dengan pembahasan yang lebih teknis untuk menentukan bentuk kemitraan, kebutuhan investasi, dan tahapan pelaksanaannya.
Infrastruktur, Pertanian, dan Kesehatan Ikut Ditawarkan
Dalam pertemuan itu, Bobby juga menyampaikan sejumlah fokus pembangunan Pemprov Sumut lainnya, yakni infrastruktur, pertanian dan ketahanan pangan, pendidikan, kesehatan, serta pengembangan kawasan.
Berbagai sektor tersebut dinilai memiliki ruang untuk dikerjasamakan dengan UEA sesuai kebutuhan dan prioritas pembangunan daerah.
Bobby berharap komunikasi yang telah dibangun dapat berlanjut menjadi kemitraan yang lebih konkret.
“Tentu kami sangat berkeinginan pembangunan ini bisa kita lakukan kerja sama yang lebih konkret nanti ke depannya,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan keinginan Pemprov Sumut untuk tidak berhenti pada penjajakan peluang, tetapi mendorong pembicaraan menuju rencana kerja sama yang dapat dilaksanakan.
Dubes UEA Minta Tiga Prioritas Utama
Duta Besar UEA untuk Indonesia Abdulla Salem Aldhaheri menyambut baik berbagai peluang yang disampaikan Bobby. Ia menyatakan pihaknya akan membahas lebih lanjut sektor-sektor yang berpotensi menjadi prioritas kerja sama.
Menurut Abdulla, pertemuan lanjutan diperlukan untuk menyepakati fokus kemitraan agar pembahasan dapat berjalan lebih terarah dan segera ditindaklanjuti.
“Agar kita bisa bergerak lebih fokus, menurut saya, perlu ada duduk bersama lebih lanjut, dan menyepakati setidaknya tiga bidang prioritas utama yang sangat penting,” kata Abdulla.
Usulan tersebut menjadi langkah penting untuk menyaring berbagai gagasan yang telah disampaikan. Dengan menentukan tiga sektor prioritas, kedua pihak dapat memusatkan perhatian pada peluang yang paling strategis dan memungkinkan untuk direalisasikan.
Langkah berikutnya adalah memperjelas bentuk kerja sama, pihak yang bertanggung jawab, jadwal tindak lanjut, serta indikator keberhasilannya.
Dari Diplomasi ke Manfaat Nyata
Pertemuan Bobby Nasution dengan Dubes UEA membuka ruang penjajakan kerja sama di sejumlah sektor yang berpotensi mendukung pembangunan Sumatera Utara.
Pendidikan dapat memperkuat kualitas sumber daya manusia, pelabuhan berpeluang mendorong perdagangan, sedangkan industri semikonduktor dapat membuka jalan bagi pengembangan sektor teknologi bernilai tambah tinggi.
Namun, keberhasilan diplomasi ekonomi tidak cukup diukur dari banyaknya sektor yang ditawarkan atau hangatnya suasana pertemuan. Ukuran yang lebih penting adalah realisasi investasi, keberlanjutan program, transfer pengetahuan, serta manfaat ekonomi yang diterima masyarakat.
Dengan demikian, usulan penentuan tiga prioritas utama dari pihak UEA patut menjadi momentum untuk memusatkan langkah pada peluang yang paling realistis.
Sebab, investasi yang baik bukan hanya tentang berapa besar modal yang masuk, melainkan juga berapa banyak lapangan kerja yang tercipta, seberapa kuat kemampuan lokal berkembang, dan sejauh mana masyarakat Sumut ikut menikmati hasil pembangunan.
Diplomasi boleh dimulai di meja pertemuan. Namun, keberhasilannya harus terlihat ketika peluang berubah menjadi proyek, kerja sama berjalan, dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.(***)






