Ada dua jenis pameran. Pertama, pameran yang ramai dikunjungi, difoto, lalu produknya pulang dengan nasib yang sama: hanya jadi pajangan. Kedua, pameran yang melahirkan kerja sama, membuka pasar, mempertemukan perajin dengan pembeli, bahkan investor. Dekranas tentu berharap berada di kategori kedua.
Di usia ke-46, Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) kembali menggelar perayaan di Makassar. Ribuan pelaku UMKM dari seluruh Indonesia berkumpul membawa karya terbaiknya. Bukan sekadar adu cantik stan pameran, tetapi adu kualitas, kreativitas, dan keberanian menembus pasar yang lebih luas.
Ketua Dekranasda Kota Bekasi, Wiwiek Hargono, hadir bersama jajaran pengurus membawa delapan brand unggulan hasil kurasi. Sebuah langkah yang patut diapresiasi. Sebab, lolos kurasi berarti produk tidak hanya mengandalkan semangat “buatan lokal”, tetapi juga kualitas yang layak bersaing.
Kadang kita terlalu sibuk memuji produk UMKM dengan kalimat, “Yang penting cintai produk lokal.” Padahal pasar punya bahasa yang lebih sederhana: kualitas, desain, harga, dan konsistensi. Nasionalisme memang penting, tetapi konsumen tetap akan memilih barang yang membuat dompet dan hati sama-sama tersenyum.
Pesan Ketua Umum Dekranas, Selvi Ananda Gibran Rakabuming, juga cukup menarik. Dekranas tidak boleh berhenti sebagai penyelenggara bazar tahunan. Tugasnya lebih besar: membuka akses pelatihan, memperluas jaringan pemasaran, mempertemukan perajin dengan pemodal, dan mendampingi UMKM agar terus berkembang. Karena yang dibutuhkan para perajin bukan hanya tepuk tangan saat membuka stan, melainkan pesanan yang terus berdatangan setelah lampu pameran dipadamkan.
Satirnya sederhana. Jangan sampai UMKM hanya sibuk membuat produk yang indah dipajang, tetapi kesulitan menjualnya. Jangan pula setiap pameran berakhir dengan kalimat klasik, “Yang penting ikut berpartisipasi.” Pelaku usaha tentu berharap yang lebih nyata: omzet bertambah, pelanggan baru datang, dan produksi terus berjalan.
Bekasi sendiri membawa nama-nama seperti Mariline Craft, TruFatma, Batik Sri, Neka Toys, Amniya Fashion, Lastri Croche, Batik Chandrabaga, hingga Ameera Fashion. Delapan merek yang menjadi wajah kreativitas kota industri yang ternyata juga memiliki denyut ekonomi kreatif yang tidak kalah menarik.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah pameran bukanlah berapa banyak pita yang dipotong atau foto yang diunggah ke media sosial. Ukurannya jauh lebih membumi: berapa banyak transaksi yang terjadi, berapa banyak jaringan bisnis yang terbangun, dan berapa banyak UMKM yang benar-benar naik kelas.
Karena karya terbaik para perajin tidak diciptakan untuk selamanya tinggal di etalase. Ia dibuat untuk dipakai, dibanggakan, dan tentu saja… dibeli. Itu baru namanya pameran yang benar-benar menghasilkan karya, bukan sekadar menghasilkan album dokumentasi.(***)







