Dari Ayam Sampai Telur, PRSU Mengajarkan Bahwa Peluang Usaha Kadang Berkokok dari Kandang
Kalau selama ini banyak orang datang ke Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) untuk berburu hiburan, kuliner, atau konser, di salah satu sudut stan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan Ketapang) Sumut, pengunjung justru diajak melihat peluang usaha dari sesuatu yang akrab dengan kehidupan sehari-hari: ayam petelur.
Tak ada musik keras atau lampu panggung yang berkedip-kedip. Yang terdengar justru obrolan ringan tentang kandang, pakan, vaksin, hingga bagaimana seekor ayam bisa menjadi sumber penghasilan jika dipelihara dengan benar.
“Jangan anggap remeh ayam. Kalau dirawat dengan baik, dia lebih rajin ‘lembur’ daripada sebagian manusia,” celetuk seorang pengunjung yang langsung disambut tawa orang-orang di sekitarnya.
Di stan itu, Prasetyo, staf Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumut, menjelaskan bahwa budidaya ayam petelur bukan lagi usaha yang hanya cocok untuk peternakan besar. Masyarakat pun bisa memulainya dari skala rumah tangga.
Jenis ayam seperti Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) dan ELBA diperkenalkan sebagai ayam yang memiliki daya tahan tubuh baik, mudah beradaptasi, dan mampu menghasilkan telur yang disukai masyarakat.
Namun, seperti usaha lainnya, ayam juga tidak bisa diminta langsung bertelur hanya karena sudah diberi kandang baru.
Prasetyo menjelaskan, ada beberapa tahapan yang harus diperhatikan. Mulai dari memilih bibit yang sehat, menyiapkan kandang yang bersih dan memiliki sirkulasi udara baik, memberikan pakan sesuai umur ayam, menjaga kebersihan kandang melalui vaksinasi dan biosekuriti, hingga mengatur pencahayaan agar produksi telur tetap optimal.
“Kalau semua dijalankan dengan baik, ayam biasanya mulai bertelur pada usia enam hingga tujuh bulan,” jelasnya.
Pengunjung terlihat antusias. Ada yang bertanya soal biaya memulai usaha, ada yang penasaran apakah ayam KUB cocok dipelihara di pekarangan rumah. Diskusi pun mengalir santai. Rasanya lebih seperti berbincang dengan tetangga yang sudah lama beternak daripada mengikuti penyuluhan resmi.
Di luar edukasi peternakan, stan Distan Ketapang Sumut juga menghadirkan banyak hal menarik. Berbagai komoditas unggulan Sumatera Utara seperti kelapa sawit, kopi, kakao, karet, kelapa, buah-buahan lokal hingga sayuran segar dipamerkan kepada pengunjung.
Tak jauh dari situ, tersedia pula zona hidroponik lengkap dengan layanan konsultasi gratis. Ada juga kampanye B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) yang mengajak masyarakat memahami pentingnya pola makan sehat, serta aneka produk olahan hasil karya kelompok tani binaan yang menunjukkan bahwa hasil pertanian bisa memiliki nilai tambah jika diolah dengan baik.
PRSU akhirnya kembali membuktikan bahwa sebuah pameran tidak hanya menjadi tempat bersenang-senang. Kadang, di sela menikmati wahana dan jajanan, seseorang bisa pulang membawa ide baru untuk memulai usaha.
Sebab inspirasi bisnis memang tidak selalu datang dari ruang rapat atau seminar mahal. Kadang ia justru muncul dari seekor ayam yang setiap pagi setia bertelur, asalkan diberi makan, dirawat, dan diperlakukan dengan baik.
Kalau dipikir-pikir, ayam petelur mengajarkan satu filosofi sederhana. Jangan hanya sibuk menghitung hasilnya, tetapi rawat dulu prosesnya. Karena telur yang berkualitas tidak pernah lahir dari kandang yang asal-asalan. Begitu pula sebuah usaha.(***)







