Dari PRSU ke Negeri Sakura, Ketika Mimpi Bekerja di Jepang Dimulai dari Sebuah Stan Sederhana
Di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU), orang biasanya datang membawa daftar keinginan yang sederhana: mencoba kuliner baru, menonton konser, atau berburu produk UMKM. Namun di salah satu sudut arena, ada stan yang menawarkan sesuatu yang tak bisa dimasukkan ke dalam kantong belanja.
Yang dibawa pulang dari sana adalah harapan.
Stan Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Provinsi Sumatera Utara beberapa hari terakhir ramai didatangi anak-anak muda. Mereka bukan mengantre doorprize atau promo belanja, melainkan mencari informasi bagaimana caranya bisa bekerja hingga ke Negeri Sakura.
Mungkin inilah satu-satunya tempat di PRSU di mana pertanyaan yang paling sering terdengar bukan, “Diskonnya berapa?”, melainkan, “Kalau mau magang ke Jepang, syaratnya apa?”
Pengawas Ketenagakerjaan Disnaker Sumut, Erlina, dengan sabar melayani satu per satu pertanyaan pengunjung. Pesannya sederhana, tetapi penting.
Kalau ingin bekerja di luar negeri, gunakan jalur resmi.
Menurutnya, pemerintah terus mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur iming-iming pekerjaan bergaji besar dari pihak yang tidak jelas. Sebab, mimpi bekerja di luar negeri seharusnya dimulai dengan langkah yang benar, bukan dengan mengambil jalan pintas yang justru bisa berakhir di jalan buntu.
Di stan itu, pengunjung mendapat kabar bahwa rekrutmen pemagangan ke Jepang Gelombang II masih dibuka hingga 29 September 2026. Program ini diperuntukkan bagi laki-laki berusia 18 hingga 26 tahun, lulusan SMA atau SMK, terutama yang memiliki keterampilan di bidang teknik.
Namun, menuju Jepang ternyata tidak cukup hanya bermodal semangat menonton anime atau hafal mengucapkan arigatou. Ada tahapan yang harus dilalui.
Mulai dari seleksi administrasi, tes matematika, tes kebugaran, wawancara, pemeriksaan kesehatan, hingga pelatihan bahasa Jepang dan pembentukan disiplin kerja. Semua dirancang agar peserta benar-benar siap menghadapi budaya kerja yang dikenal sangat menghargai ketepatan waktu, tanggung jawab, dan etos kerja.
“Di LPK mereka dilatih bahasa Jepang, fisik, mental, kedisiplinan, hingga kecepatan bekerja. Karena itu peserta harus memiliki komitmen yang kuat,” ujar Erlina.
Instruktur bahasa Jepang, Adi, yang pernah bekerja di Jepang, menambahkan bahwa peluang tenaga kerja Indonesia masih terbuka di berbagai sektor, mulai dari manufaktur, otomotif, kelistrikan hingga teknik. Selama mengikuti pelatihan sekitar enam bulan, peserta dipersiapkan agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan industri di sana.
Penghasilan yang ditawarkan pun cukup menarik, berkisar belasan juta rupiah hingga sekitar Rp25 juta per bulan, tergantung perusahaan dan lokasi penempatan. Namun, Adi mengingatkan bahwa angka tersebut datang bersama tanggung jawab dan tuntutan kerja yang tinggi.
Di luar informasi pemagangan, stan Disnaker Sumut juga membuka layanan konsultasi ketenagakerjaan secara gratis. Pengunjung bisa bertanya soal upah minimum, BPJS Ketenagakerjaan, pesangon, jam kerja, hingga hak-hak pekerja apabila menghadapi persoalan hubungan industrial.
Suasananya terasa hangat. Tidak sedikit orang tua yang datang menemani anaknya bertanya. Ada yang mencatat syarat-syarat pendaftaran, ada yang memotret brosur, dan ada pula yang sekadar memastikan bahwa kesempatan itu benar-benar nyata.
PRSU akhirnya kembali menunjukkan bahwa sebuah pameran bukan hanya tempat mencari hiburan. Kadang, di sela riuh musik dan aroma jajanan, seseorang bisa menemukan arah baru dalam hidupnya.
Karena ternyata perjalanan menuju Jepang tidak selalu dimulai dari bandara. Bagi sebagian anak muda Sumatera Utara, perjalanan itu justru dimulai dari sebuah stan sederhana di PRSU, dari keberanian bertanya, kemauan belajar, dan keyakinan bahwa mimpi besar selalu berawal dari langkah pertama yang benar.(***)







