Dari WA Group ke Rak Modern, Itiyyy Snack Membuktikan Mimpi Besar Bisa Berawal dari Satu Kilogram Keripik Bawang
Medan – Di tengah ramainya Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50, orang mungkin lebih sibuk berburu konser atau kuliner kekinian. Namun, di salah satu sudut Stand Dekranasda Sumatera Utara, ada kisah yang jauh lebih menarik daripada sekadar camilan yang renyah.
Namanya Siti Absah Nainggolan, atau lebih akrab disapa Itty. Senin sore (20/7/2026), saat hujan mengguyur kawasan PRSU, ia tetap berdiri di balik etalase Itiyyy Snack. Senyum tak lepas dari wajahnya setiap kali menyambut pengunjung yang mampir melihat-lihat, mencicipi, hingga akhirnya membawa pulang produknya.
Di balik kemasan yang kini terlihat rapi dan modern, siapa sangka usaha itu dulunya hanya berawal dari satu kilogram keripik bawang.
Setelah mengundurkan diri dari pekerjaannya di sebuah perusahaan multinasional usai menikah, Itty sempat bingung menentukan langkah berikutnya. Daripada terlalu lama berteman dengan kebingungan, ia memilih masuk ke dapur.
Awalnya sederhana. Membuat keripik bawang, lalu menawarkan kepada teman-teman melalui WhatsApp Group, media sosial, dan lingkungan sekitar. Tanpa strategi pemasaran rumit, tanpa influencer, apalagi iklan jutaan rupiah.
Ternyata, rasa tidak pernah pandai berbohong.
Pesanan yang semula hanya satu kilogram perlahan naik menjadi tujuh kilogram, lalu terus bertambah karena pelanggan kembali membeli. Dalam dunia usaha, itu yang disebut repeat order. Dalam bahasa ibu-ibu, itu artinya, “Eh, keripiknya masih ada, nggak?”
Namun, Itty sadar satu hal. Produk yang enak saja belum cukup. Kalau ingin naik kelas, usaha juga harus terlihat profesional.
Ia pun mulai mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB), berkonsultasi ke Dinas Koperasi dan UKM Sumatera Utara, hingga mengikuti berbagai arahan untuk mengembangkan usahanya.
Salah satu saran yang paling berkesan adalah mengurus sertifikat halal. Bukan sekadar memenuhi syarat administrasi, tetapi juga membangun kepercayaan konsumen.
Tak berhenti di situ, Itty juga belajar sendiri soal desain kemasan. Internet menjadi ruang kelasnya. Ia mengamati produk lain, mempelajari tampilannya, lalu memodifikasi sesuai identitas usahanya.
Yang paling menarik, ia memasang ilustrasi wajah kartunnya sendiri di kemasan.
Alasannya sederhana, tetapi jujur.
“Dulu banyak teman yang tidak percaya kalau produk itu benar-benar buatan saya. Akhirnya saya pasang gambar kartun wajah saya supaya mereka yakin,” katanya sambil tersenyum.
Kadang memang begitu. Di zaman sekarang, orang lebih mudah percaya setelah melihat wajah pemiliknya daripada sekadar membaca slogan “produk berkualitas.”
Kini Itiyyy Snack tak lagi hanya menjual keripik bawang. Produknya bertambah menjadi akar kelapa, peyek kacang tanah, peyek kacang hijau, hingga kacang intip. Semuanya sudah bersertifikat halal dan memiliki merek dagang sendiri.
Perjalanan usahanya juga semakin jauh. Produk Itiyyy Snack sudah dipamerkan di Jakarta, Kendari, Makassar, hingga kini hadir di PRSU. Bahkan, produknya telah masuk ke sejumlah gerai, tersedia di PT KAI, dipasarkan melalui e-commerce, dan memiliki jaringan reseller.
Omzetnya kini mencapai sekitar Rp15 juta per bulan. Angka yang mungkin terlihat biasa bagi perusahaan besar, tetapi menjadi pencapaian luar biasa bagi usaha yang dulu lahir dari dapur rumah.
Itty mengaku tidak pernah melupakan peran Dinas Koperasi dan UKM Sumatera Utara yang membimbingnya sejak awal hingga akhirnya menjadi UMKM binaan Dekranasda Sumut.
Baginya, pendampingan bukan sekadar seminar atau pelatihan yang selesai setelah foto bersama. Yang lebih penting adalah adanya arahan yang benar-benar membantu pelaku usaha melangkah ke tahap berikutnya.
Meski sudah berkembang, Itty belum merasa selesai belajar. Ia terus mengikuti pelatihan bisnis, termasuk sekolah bisnis yang diselenggarakan JNE, serta aktif mencari peluang agar produknya semakin dikenal.
Impian berikutnya pun sederhana, tetapi besar maknanya.
Ia ingin memiliki galeri sendiri dan menjadikan Itiyyy Snack sebagai produk yang semakin dikenal masyarakat luas.
Kisah Itty menjadi pengingat bahwa UMKM tidak selalu membutuhkan modal raksasa untuk tumbuh. Yang sering kali lebih dibutuhkan adalah keberanian memulai, kemauan terus belajar, serta pendampingan yang benar-benar hadir, bukan sekadar slogan dalam spanduk kegiatan.
Karena pada akhirnya, bisnis besar hampir selalu berawal dari langkah kecil. Dalam kisah Itiyyy Snack, langkah kecil itu bahkan dimulai dari satu kilogram keripik bawang dan keyakinan bahwa mimpi yang dibungkus dengan kerja keras suatu hari akan menemukan pasarnya sendiri.(***)







