Ketua DPRD Medan Hadiri Muscab PKB Medan, Konsolidasi, dan Harapan yang Selalu Diperbarui

Ketua DPRD Medan Hadiri Muscab PKB Medan, Konsolidasi, dan Harapan yang Selalu Diperbarui

Musyawarah Cabang (Muscab) partai politik selalu punya daya tarik tersendiri. Di atas panggung, semua berbicara soal konsolidasi, strategi, dan pengabdian kepada rakyat. Di luar panggung, tentu saja kopi lebih cepat habis daripada perdebatan soal visi. Politik memang unik, tempat di mana kata “solid” kadang diuji sebelum makan siang.

Begitu pula saat Ketua DPRD Kota Medan, Drs. Wong Chun Sen, M.Pd.B., menghadiri Muscab DPC PKB Kota Medan masa bakti 2026–2031 di Hotel Madani Medan pada Senin 06 April 2026 . Kehadiran Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas beserta jajaran pengurus dan kader membuat suasana terasa lengkap. Kalau di dunia sepak bola ada kick-off, di dunia politik ada foto bersama yang jumlahnya hampir setara dengan jumlah peserta.

Agenda resminya terdengar sangat meyakinkan: memperkuat konsolidasi organisasi, menyusun arah kebijakan strategis, mengevaluasi kinerja partai, hingga memperkuat peran sebagai mitra pemerintah daerah. Kalimat-kalimat yang begitu akrab di telinga publik, sampai kadang masyarakat bisa menebak isinya bahkan sebelum pembawa acara selesai membaca sambutan.

Namun begitulah demokrasi bekerja. Muscab bukan sekadar memilih pengurus baru, tetapi juga ajang menyegarkan semangat. Ibarat memperbarui aplikasi di telepon genggam, harapannya bukan hanya tampilannya yang berubah, tetapi juga performanya. Sebab kalau yang berubah hanya wallpaper, masyarakat pasti cepat menyadarinya.

Di sisi lain, masyarakat sebenarnya memiliki harapan yang sangat sederhana. Mereka tidak terlalu sibuk menghitung siapa duduk di kursi nomor satu atau nomor dua. Yang lebih penting adalah apakah setelah rapat selesai, jalan tetap mulus, pelayanan publik makin baik, lapangan kerja bertambah, dan harga kebutuhan pokok tidak ikut “bermusyawarah” untuk naik.

Ketua DPRD dan Wali Kota yang hadir dalam forum tersebut juga menjadi simbol bahwa komunikasi antara unsur legislatif, eksekutif, dan partai politik tetap berjalan. Idealnya, komunikasi itu tidak berhenti di ruang hotel berpendingin udara, tetapi berlanjut hingga ke gang-gang sempit tempat warga lebih sering berdiskusi soal harga cabai daripada konfigurasi politik.

Pada akhirnya, setiap Muscab selalu membawa harapan baru. Publik tentu tidak keberatan mendengar istilah “konsolidasi” berkali-kali, asalkan setelah itu yang terkonsolidasi bukan hanya kursi pengurus, tetapi juga komitmen untuk bekerja. Karena rakyat memiliki kebiasaan yang cukup unik: mereka mungkin lupa isi pidato, tetapi jarang lupa siapa yang benar-benar bekerja.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *