Pemko Medan dan Kodim 0201 Solid: Bangun Kota Jangan Cuma Mengandalkan Aspal, Beton, dan Seremoni

Pemko Medan dan Kodim 0201 Solid: Bangun Kota Jangan Cuma Mengandalkan Aspal, Beton, dan Seremoni

MEDAN — Membangun kota ternyata tidak cukup hanya dengan mengurusi jalan, jembatan, gedung, dan proyek fisik lainnya. Kalau hanya mengandalkan beton dan aspal, mungkin kota memang terlihat semakin kokoh. Tetapi apakah masyarakatnya ikut semakin sejahtera? Nah, di situlah ceritanya menjadi lebih panjang.

Karena itu, sinergi antara pemerintah daerah dan TNI menjadi salah satu modal penting untuk menerjemahkan program pemerintah agar tidak berhenti sebagai daftar kegiatan di atas meja.

Hal tersebut ditegaskan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas bersama Dandim 0201/Medan Letkol Arm Delli Yudha Adi Nurcahyo saat menjadi narasumber dalam program podcast TVRI Sumut, Selasa (11/8/2026).

Obrolannya santai, tetapi topiknya cukup serius: mulai dari koperasi, infrastruktur, makanan bergizi, pendidikan, hingga bagaimana pemerintah dan TNI ikut memastikan program nasional benar-benar menyentuh masyarakat.

Rico Waas mengatakan komunikasi dan koordinasi intensif antara Pemko Medan, TNI, Polri serta berbagai stakeholder menjadi kunci menghadapi persoalan kota sekaligus menjaga keutuhan bangsa.

Bahasa sederhananya: kalau semua bekerja sendiri-sendiri, yang cepat mungkin hanya rapatnya.

Koperasi Merah Putih, Jangan Sampai Merah Putihnya Saja

Salah satu fokus kolaborasi Pemko Medan dan Kodim 0201/Medan adalah pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).

Pemko Medan bersama Kodim kini memetakan aset lahan daerah yang bisa dimanfaatkan untuk program tersebut.

Rico Waas menyebut sejumlah lokasi sudah siap beroperasi, antara lain di Medan Tuntungan, Denai dan Amplas. Khusus Medan Tuntungan, lokasinya dinilai strategis karena berdekatan dengan fasilitas Sekolah Rakyat.

“Lokasi KDMP yang saat ini sudah siap beroperasi itu ada di Medan Tuntungan, Denai dan juga Amplas. Khusus di Medan Tuntungan lokasinya sangat strategis karena berdekatan langsung dengan fasilitas Sekolah Rakyat,” ujar Rico.

Di atas kertas, konsepnya tentu menarik.

Tetapi tantangan sebenarnya justru dimulai setelah papan nama koperasi terpasang.

Sebab koperasi bukan sekadar bangunan, logo, struktur pengurus dan foto peresmian. Koperasi baru terasa manfaatnya ketika mampu menjadi instrumen ekonomi masyarakat.

Kalau koperasi hanya ramai ketika diresmikan, lalu sepi ketika masyarakat membutuhkan, tentu ada yang harus dievaluasi.

Jembatan Dibangun, Jarak Warga Dipangkas

Kolaborasi Pemko Medan dan Kodim juga menyentuh sektor infrastruktur.

Rico memberikan apresiasi terhadap kontribusi TNI dalam pembangunan fasilitas publik, termasuk jembatan yang menghubungkan Kecamatan Medan Polonia dan Medan Maimun.

“Keberadaan jembatan ini sangat penting karena memudahkan mobilitas harian warga, khususnya akses anak-anak menuju sekolah,” katanya.

Jembatan memang benda mati.

Tetapi manfaatnya hidup setiap hari.

Anak sekolah lebih mudah berangkat, warga lebih cepat berpindah, aktivitas ekonomi bisa lebih lancar. Jadi, ada pembangunan yang tidak perlu terlalu banyak baliho untuk menjelaskan manfaatnya—cukup masyarakat yang menggunakannya.

Dan mungkin inilah bentuk pembangunan yang paling mudah diuji: apakah warga merasa lebih mudah atau tidak?

MBG: Jangan Sampai Gizinya Lengkap, Logistiknya yang Kurang

Sinergi berikutnya hadir melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Rico mengatakan Pemko Medan bersama Kodim 0201/Medan ikut mengawal ketercukupan gizi generasi muda.

Targetnya tidak kecil. Kota Medan ditargetkan memiliki 255 SPPG untuk menjangkau sekitar 700.000 anak.

“Kami berkomitmen penuh mendukung program ini, dengan fokus menjaga kelancaran suplai pasokan bahan pokok,” ujar Rico.

Di sinilah pekerjaan rumahnya bukan hanya soal menu.

Karena anak-anak tidak bisa makan tabel perencanaan.

Mereka membutuhkan makanan yang benar-benar sampai, tepat waktu, bergizi dan memenuhi standar.

Jadi, kalau program MBG ingin sukses, koordinasi logistik menjadi sama pentingnya dengan pidato tentang gizi.

Nasi harus sampai sebelum slogan selesai dibacakan.

Sekolah Rakyat dan Tantangan Membangun Generasi

Sektor pendidikan juga menjadi perhatian.

Rico Waas mendukung kehadiran Sekolah Rakyat di Kota Medan yang dinilai menjadi pintu gerbang masa depan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Menurutnya, Sekolah Rakyat mengajarkan kedisiplinan dengan pendekatan yang tetap menyenangkan serta didukung fasilitas pendidikan yang memadai.

“Di Sekolah Rakyat anak-anak kita diajarkan kedisiplinan namun tetap menyenangkan bagi para siswa. Berbeda dengan sekolah biasa pada umumnya. Fasilitas yang ada juga cukup lengkap untuk menunjang kualitas pendidikan siswa,” ungkapnya.

Namun lagi-lagi, fasilitas hanyalah salah satu bagian.

Gedung yang bagus memang penting. Tetapi kualitas guru, karakter siswa, pola pengasuhan, kesempatan melanjutkan pendidikan dan lingkungan sosial juga menentukan apakah sekolah benar-benar menjadi jalan keluar dari kemiskinan.

Sebab kalau ingin membangun masa depan, jangan hanya membangun ruang kelas.

Bangun juga kepercayaan diri anak-anak yang berada di dalamnya.

TNI Masuk ke Pembangunan, Bukan Sekadar Baris-Berbaris

Dandim 0201/Medan Letkol Arm Delli Yudha Adi Nurcahyo menegaskan keterlibatan TNI dalam berbagai program strategis pemerintah merupakan bagian dari Operasi Militer Selain Perang (OMSP) sebagaimana diamanatkan undang-undang, termasuk membantu percepatan tugas negara pada masa damai.

Menurutnya, sinergi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kota yang inklusif membutuhkan kolaborasi dan kekuatan bersama antarinstansi.

Dan memang, kota sebesar Medan terlalu kompleks jika semua persoalan diserahkan kepada satu institusi.

Pemerintah punya kewenangan. TNI punya kapasitas. Polri punya peran. Dunia usaha punya sumber daya. Masyarakat punya pengetahuan lapangan.

Tinggal satu pertanyaan penting: apakah semuanya bisa benar-benar duduk dalam satu meja untuk menyelesaikan persoalan, bukan sekadar hadir dalam satu foto?

Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak terlalu membutuhkan siapa yang paling sering muncul di podium.

Masyarakat membutuhkan jalan yang bisa dilalui, jembatan yang berfungsi, makanan bergizi yang benar-benar sampai, sekolah yang berkualitas, koperasi yang hidup dan pelayanan pemerintah yang terasa.

Kalau semua itu berjalan, sinergi bukan lagi sekadar kata yang terdengar gagah dalam konferensi pers.

Sinergi menjadi sesuatu yang benar-benar terasa sampai ke meja makan masyarakat.

Dan untuk ukuran pembangunan kota, mungkin itulah penghargaan paling penting—meski tidak selalu berbentuk piala.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *