Rico Waas Dukung Atlet Disabilitas Intelektual, Jangan Cuma Dipuji Saat Sudah Membawa Medali

Rico Waas Dukung Atlet Disabilitas Intelektual, Jangan Cuma Dipuji Saat Sudah Membawa Medali

MEDAN — Prestasi olahraga tidak semestinya hanya menjadi milik mereka yang lahir tanpa hambatan. Anak-anak penyandang disabilitas intelektual juga memiliki hak untuk tumbuh, berlatih, bertanding, dan menunjukkan kemampuan di arena olahraga.

Pesan itu mengemuka ketika Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menerima audiensi jajaran Special Olympics Indonesia (SOIna) Sumatera Utara di Balai Kota Medan, Rabu (23/9/2026).

Pertemuan tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi Rico untuk berinteraksi langsung dengan sejumlah atlet yang dipersiapkan mewakili Sumatera Utara pada Pekan Special Olympics Nasional (PESONAS) II 2026 di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Oktober mendatang.

Di hadapan atlet, pelatih, dan pengurus SOIna Sumut, Rico menegaskan Pemko Medan tidak ingin mengabaikan keberadaan maupun potensi anak-anak penyandang disabilitas intelektual.

Menurutnya, mereka memiliki hak untuk memperoleh perhatian, pembinaan, kesempatan berprestasi, serta masa depan yang jelas.

“Kita tidak melupakan atlet anak spesial ini. Mereka harus mendapatkan kebutuhan dan perhatian. Apa yang bisa kami bantu dalam menjalankan ini, akan kita lihat,” ujar Rico Waas, didampingi Kepala Dinas Sosial Khoiruddin Rangkuti dan Kepala Dispora T Chairuniza.

Pernyataan tersebut penting karena pembinaan atlet disabilitas tidak selesai hanya dengan memberikan tepuk tangan ketika mereka memenangkan pertandingan.
Tepuk tangan memang gratis.
Tetapi latihan, perlengkapan olahraga, pelatih, fasilitas, transportasi, kompetisi dan pembinaan berkelanjutan jelas membutuhkan dukungan nyata.
Karena itu, perhatian pemerintah idealnya tidak berhenti pada seremoni audiensi.

Prestasi Tidak Datang dari Ruang Tunggu

Rico juga menyampaikan keinginannya melihat langsung para atlet bertanding sekaligus mengetahui perkembangan pembinaan yang dilakukan SOIna.
Keinginan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memastikan pembinaan atlet berjalan secara berkelanjutan, bukan sekadar menjelang keberangkatan ke sebuah kompetisi.

Sebab seorang atlet tidak tiba-tiba menjadi atlet hanya karena namanya masuk daftar kontingen.

Ada proses panjang di belakangnya.
Ada latihan yang berulang, ada pelatih yang mendampingi, ada keluarga yang memberi dukungan, dan tentu ada fasilitas yang memungkinkan kemampuan mereka berkembang.

Bagi atlet disabilitas intelektual, dukungan ekosistem seperti itu menjadi semakin penting agar kesempatan berprestasi tidak bergantung pada kebetulan atau belas kasihan.
Olahraga seharusnya memberikan ruang berdasarkan kemampuan dan kesempatan, bukan membatasi seseorang hanya karena kondisi yang dimilikinya.

PESONAS dan Jalan Menuju Dunia
Ketua SOIna Sumut August Sinaga bersama jajaran pengurus dan pelatih menyampaikan persiapan atlet Sumatera Utara menghadapi PESONAS II 2026 di Kupang.
Mereka juga meminta doa dan dukungan Pemko Medan bagi para atlet yang akan bertanding.

PESONAS menjadi ajang olahraga nasional bagi penyandang disabilitas intelektual dengan tujuh cabang olahraga. Kompetisi ini juga menjadi bagian dari proses seleksi atlet yang berpeluang mewakili Indonesia pada Special Olympics World Games 2027 di Santiago, Chili. Artinya, arena di Kupang bukan sekadar tempat bertanding. Ada peluang lebih besar yang dapat terbuka bagi atlet yang menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Namun peluang tersebut tentu membutuhkan pembinaan yang konsisten. Pemerintah daerah, organisasi olahraga, pelatih, keluarga dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam memastikan atlet memperoleh ruang berkembang.

Medan Diminta Punya SOIna
Dalam audiensi tersebut, SOIna Sumut juga meminta dukungan Pemko Medan untuk membentuk SOIna tingkat Kota Medan.
Usulan ini patut dilihat sebagai bagian dari kebutuhan memperluas akses pembinaan olahraga bagi penyandang disabilitas intelektual.

Jika organisasi tingkat kota terbentuk, pembinaan dapat dilakukan lebih dekat dengan calon atlet dan keluarga. Potensi yang selama ini mungkin belum terlihat juga berpeluang lebih cepat ditemukan.
Sebab bukan tidak mungkin ada bibit atlet di lingkungan masyarakat yang sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi belum pernah mendapat kesempatan berlatih secara serius.
Dalam konteks itu, pembentukan organisasi bukan sekadar menambah struktur.

Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah struktur tersebut berdiri.
Ada program pembinaan atau tidak? Ada pelatih atau tidak? Ada agenda kompetisi atau tidak? Ada fasilitas atau tidak?
Jangan sampai organisasi sudah lengkap, papan nama sudah terpasang, tetapi atlet masih harus mencari sendiri tempat latihan.

Atlet Hadir, Prestasi Bicara
Dalam audiensi itu hadir sejumlah atlet, di antaranya atlet lari Jhon, atlet renang Putra Abbas dan Zidan, serta atlet Bocce Mika Hutahaean.

Kehadiran mereka menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi atlet disabilitas intelektual kepada pemerintah sekaligus masyarakat.
Mereka tidak datang sekadar untuk menerima perhatian.

Mereka datang membawa kemampuan.
Dan tugas lingkungan di sekitarnya adalah memastikan kemampuan tersebut memiliki ruang untuk berkembang.

Pada akhirnya, ukuran keberpihakan terhadap atlet disabilitas bukan hanya seberapa sering mereka disebut dalam sambutan pejabat.

Ukuran yang lebih konkret adalah apakah tersedia pembinaan, fasilitas, pendanaan, kompetisi, pelatih, organisasi dan kesempatan yang berkelanjutan.
Medali tentu membanggakan.

Tetapi jauh sebelum medali itu datang, ada hak yang harus dipenuhi: hak untuk berlatih, hak untuk bertanding, hak untuk berkembang dan hak untuk dihargai atas kemampuan mereka.

Kalau dukungan hanya datang ketika medali sudah tergantung di leher, pemerintah sebenarnya datang terlambat.
Sebab prestasi bukan dimulai dari podium.
Prestasi dimulai dari kesempatan.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *