Rico Waas Siapkan 177 Armada Sampah pada 2027, Sampah Menumpuk Jangan Sampai Jadi Pemandangan Rutin

Rico Waas Siapkan 177 Armada Sampah pada 2027, Sampah Menumpuk Jangan Sampai Jadi Pemandangan Rutin

MEDAN – Sampah menumpuk hingga satu atau dua minggu tentu bukan pemandangan yang diinginkan warga. Apalagi, jika jadwal pengangkutan seharusnya tiga kali sepekan. Melihat kondisi itu, Pemerintah Kota (Pemko) Medan berencana menambah 26 unit truk sampah dan 151 becak motor pengangkut sampah pada 2027. Totalnya 177 armada baru, dengan harapan sampah tak lagi betah berlama-lama di lingkungan warga.

Rencana tersebut disampaikan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas saat kegiatan Gotong Royong dan Sapa Warga di Jalan Mistar, Kelurahan Sei Putih Barat, Kecamatan Medan Petisah, Sabtu (24/10/2026). Dalam dialog itu, seorang warga bernama Susi menyampaikan keluhan soal sampah yang terkadang tak terangkut selama satu hingga dua minggu. Rupanya, jadwal di atas kertas belum selalu sejalan dengan kenyataan di lapangan.

Menurut informasi yang diterima warga dari petugas, keterlambatan pengangkutan terjadi karena sejumlah armada mengalami kerusakan, sementara kendaraan operasional yang tersedia belum mencukupi kebutuhan. Artinya, persoalan kebersihan bukan sekadar soal kesadaran membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga soal kesiapan armada dan ketepatan pelayanan.

Rico Waas mengakui pengangkutan sampah membutuhkan armada yang memadai agar pelayanan dapat berjalan lebih intensif. Ia mengatakan kondisi sejumlah truk yang sudah beragam menjadi perhatian pemerintah kota untuk memperbaiki layanan kebersihan.

“Memang dibutuhkan, karena pengangkutan sampah harus lebih intensif. Belum lagi truk-truk sampah kita, kalau dilihat di tengah jalan, kondisinya sudah macam-macam. Ini nanti akan menjadi atensi supaya kota kita lebih bersih lagi,” kata Rico, yang disambut tepuk tangan warga.

Penambahan 177 armada pada 2027 tentu menjadi angin segar bagi warga yang setiap hari berhadapan dengan persoalan sampah. Namun, kendaraan baru nantinya perlu dibarengi pemeliharaan rutin, pengaturan rute yang efektif, serta pengawasan jadwal pengangkutan. Sebab, truk yang tersedia tetapi mogok, atau becak motor yang tidak menjangkau permukiman, tak banyak membantu mengurangi tumpukan sampah.

Selain persoalan kebersihan, warga juga menyampaikan keluhan mengenai kerusakan Jalan Sei Siguti. Rico menyatakan jalan tersebut akan diperbaiki. Bagi warga, kepastian perbaikan tentu lebih penting daripada sekadar janji yang terdengar mulus saat dialog, sementara kondisi jalan masih menguji keseimbangan pengendara.

Persoalan pelayanan kesehatan turut mengemuka. Warga meminta kepastian akses berobat bagi masyarakat yang tidak memiliki jaminan kesehatan. Rico menjelaskan, warga Kota Medan dapat memanfaatkan program Universal Health Coverage (UHC) dengan menggunakan KTP untuk memperoleh layanan berobat gratis di puskesmas maupun rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, sesuai ketentuan program yang berlaku.

Kegiatan Gotong Royong dan Sapa Warga merupakan agenda rutin Pemko Medan setiap Sabtu, yang digelar bergilir di sejumlah kecamatan. Melalui kegiatan ini, warga dapat menyampaikan berbagai persoalan secara langsung, mulai dari sampah, banjir, jalan rusak hingga lampu penerangan jalan yang tidak berfungsi. Dengan begitu, pemerintah memiliki bahan untuk memetakan kebutuhan dan menentukan prioritas penanganan.

Dalam kegiatan tersebut, Pemko Medan juga menyerahkan bantuan makanan tambahan bagi balita, bantuan untuk anak yatim, serta piagam penghargaan dan bantuan kepada dua atlet berprestasi asal Kecamatan Medan Petisah. Mereka adalah Kirana Aulia, atlet panjat tebing yang menorehkan sejumlah prestasi sepanjang 2026, dan Anggiat Mauliate Parningotan Tamba, atlet karate yang berprestasi di tingkat kota dan kejuaraan terbuka.

Sebelum berdialog dengan warga, Rico memimpin gotong royong membersihkan Sungai Sei Sikambing. Ia kemudian meninjau perajin rotan di kawasan tersebut. Agenda ini memperlihatkan bahwa persoalan kota tak hanya berkutat pada sampah, tetapi juga lingkungan, infrastruktur, pelayanan publik, dan ekonomi warga.

Pada akhirnya, rencana penambahan 177 armada sampah akan diuji bukan saat diumumkan, melainkan ketika kendaraan benar-benar beroperasi dan sampah terangkut sesuai jadwal. Sebab, ukuran kota yang bersih bukan seberapa banyak truk yang dimiliki, melainkan seberapa cepat sampah meninggalkan permukiman. Warga tentu berharap, pada 2027 nanti, yang rutin datang bukan hanya keluhan, tetapi juga petugas pengangkut sampah.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *