Setmilpres Turun ke Yonif 502/UY Kostrad, Bukan Sekadar Lihat Senjata, Rumah Prajurit Pun Ikut Dicek
MALANG — Penghargaan untuk prajurit ternyata tidak cukup hanya dilihat dari gagahnya seragam, rapi barisan, atau deretan senjata yang dipajang saat kunjungan pejabat. Ada cerita penugasan yang harus diverifikasi, ada peralatan yang harus dilihat, bahkan kehidupan sosial prajurit pun ikut menjadi bagian dari perhatian.
Hal itu terlihat saat Tim Sekretariat Militer Presiden Republik Indonesia (Setmilpres RI) melaksanakan verifikasi lapangan terkait rencana penganugerahan Samkaryanugraha kepada Yonif 502/UY/18/2 Kostrad di markas satuan tersebut, Jabung, Malang, Kamis (17/9/2026).
Tim dipimpin Kolonel Kav Makhdum Habiburrahman, S.Sos., M.Sc., selaku Kepala Bagian Penganugerahan. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan data dan informasi mengenai kiprah satuan benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan.
Maklum, untuk urusan penghargaan negara, cerita di atas kertas tentu tidak cukup. Kertas bisa rapi, laporan bisa tersusun, tetapi pengalaman prajurit di medan penugasan adalah cerita yang tidak selalu bisa disederhanakan menjadi beberapa paragraf laporan.
Karena itu, tim Setmilpres memilih melihat dan mendengar langsung dari prajurit yang pernah menjalankan penugasan Yonif 502/UY/18/2 Kostrad.
Di hadapan tim, para prajurit menyampaikan pengalaman pelaksanaan tugas secara terbuka, sesuai dengan apa yang mereka alami di lapangan. Proses verifikasi tersebut didampingi langsung Danyonif 502/UY/18/2 Kostrad Letkol Inf Ihsan Hanafi Pulungan, S.S.T.Han., S.I.P., bersama Wadanyonif 502/UY/18/2 Kostrad Mayor Inf Sahang Subaktiyo, S.S.T.Han., S.I.P.
Dengan begitu, verifikasi bukan sekadar acara melihat-lihat markas sambil mencatat beberapa poin. Tim ingin memastikan bahwa penghargaan yang akan diberikan memang memiliki dasar pengalaman dan pengabdian yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dari Senjata hingga Alat Komunikasi
Usai mendengarkan paparan dan pengalaman prajurit, Tim Setmilpres meninjau sejumlah perlengkapan satuan.
Display senjata, alat peralatan optik (aloptik), serta perangkat komunikasi diperlihatkan langsung oleh prajurit. Bagi kalangan militer, barang-barang tersebut tentu bukan sekadar koleksi untuk mempercantik etalase. Peralatan itu merupakan bagian dari instrumen yang menopang pelaksanaan tugas di lapangan.
Namun kunjungan rupanya tidak berhenti di wilayah yang identik dengan dunia militer.
Tim juga menyempatkan diri mengunjungi bank sampah dan salah satu rumah prajurit.
Bagian ini menarik. Sebab, bila senjata dan perlengkapan menggambarkan kesiapan tempur, bank sampah dan rumah prajurit memperlihatkan sisi lain dari kehidupan satuan: bagaimana prajurit menjalani kehidupan sosial dan membangun lingkungan di luar urusan latihan serta penugasan.
Dengan kata lain, yang diperiksa bukan cuma seberapa siap prajurit menghadapi tugas, tetapi juga bagaimana satuan mengelola kehidupan di belakang garis tugas.
Penghargaan Bukan Sekadar Soal Upacara
Verifikasi lapangan ini menjadi bagian penting dalam proses penganugerahan Samkaryanugraha, karena data yang dikumpulkan akan menjadi bahan evaluasi sebelum keputusan penghargaan diberikan.
Bagi Yonif 502/UY/18/2 Kostrad, proses tersebut tentu menjadi momentum untuk menunjukkan rekam jejak pelaksanaan tugas secara apa adanya.
Tidak ada gunanya membangun cerita terlalu tinggi jika ketika tim datang ke lapangan ternyata kenyataannya berbeda. Dalam urusan penghargaan negara, antara laporan dan kenyataan memang idealnya harus akur—bukan seperti dua prajurit yang sedang berbeda pendapat di kantin.
Melalui verifikasi langsung, Setmilpres RI diharapkan memperoleh gambaran yang utuh mengenai pelaksanaan tugas, kesiapan satuan, perlengkapan pendukung, hingga aspek kehidupan prajurit.
Kegiatan kemudian ditutup dengan penyampaian hasil peninjauan dan koordinasi lebih lanjut antara Tim Setmilpres RI dengan jajaran Yonif 502/UY/18/2 Kostrad.
Jika seluruh proses berjalan sesuai ketentuan, penghargaan bukan sekadar simbol yang disematkan dalam sebuah upacara. Ia menjadi bentuk pengakuan negara terhadap pengabdian satuan dan prajurit yang selama ini bekerja jauh dari sorotan kamera.
Sebab, di dunia militer, tepuk tangan biasanya datang belakangan. Yang lebih dulu datang justru perintah tugas.(***)






