Sungai Musi Keruh, Warga Tanjung Tiga Cemas: Diduga Terdampak Aktivitas Terminal Batubara PT SDJ

Sungai Musi Keruh, Warga Tanjung Tiga Cemas: Diduga Terdampak Aktivitas Terminal Batubara PT SDJ

BANYUASIN — Sungai Musi bagi warga Desa Tanjung Tiga, Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin, bukan sekadar hamparan air yang membelah daratan. Sungai itu menjadi semacam “sumur raksasa” ketika sumur-sumur warga sudah lebih dulu menyerah pada musim.

Masalahnya, ketika sungai yang menjadi tumpuan hidup itu mulai keruh dan dipenuhi serpihan berwarna gelap, warga pun mulai bertanya: kalau air sungai ikut berubah warna, lalu warga harus mengambil air dari mana?

Keluhan mengenai dugaan pencemaran Sungai Musi tersebut disampaikan warga melalui akun Facebook Wulan Diken Ju, Senin (21/9/2026).

Warga menyebut sumur-sumur di Desa Tanjung Tiga telah mengering. Akibatnya, Sungai Musi menjadi sumber utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari minum, memasak hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.

Namun belakangan, kondisi sungai disebut semakin memprihatinkan. Permukaan air terlihat keruh dan terdapat lapisan serta serpihan berwarna gelap yang oleh warga diduga merupakan serbuk batubara.

Ironisnya, sumber kehidupan warga tersebut berada berhadapan langsung dengan kawasan aktivitas terminal batubara.

Lokasi yang disorot warga adalah terminal atau pelabuhan pemuatan batubara milik PT Swarnadwipa Dermaga Jaya (SDJ), bagian dari Titan Infra Energy Group, di Desa Prambatan, Kecamatan Abab, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).

Posisinya berada di seberang bantaran Sungai Musi Desa Tanjung Tiga.

Warga menduga aktivitas pemuatan batubara ke tongkang menjadi salah satu sumber material yang kemudian terbawa angin maupun aliran air menuju perairan di sisi desa mereka.

“Aktivitas pemuatan ke tongkang berukuran besar terus berlangsung, debu dan serbuknya terbawa angin dan air sampai ke perairan kami. Air sungai sudah tidak jernih lagi, ikan pun makin jarang ditemukan,” demikian keluhan warga dalam unggahan tersebut.

Kalau benar dugaan itu terbukti, persoalannya tentu bukan sekadar soal air berubah warna. Sebab bagi warga Tanjung Tiga, Sungai Musi adalah dapur, kamar mandi, sumber ikan sekaligus tumpuan kehidupan.

Jadi, ketika sungai mulai “berdebu”, warga tentu sulit diajak santai dengan mengatakan semuanya baik-baik saja.

Ikan Makin Sulit, Kekhawatiran Kesehatan Meningkat

Nelayan tradisional di kawasan tersebut juga mengeluhkan hasil tangkapan yang disebut menurun drastis.

Warga khawatir perubahan kondisi perairan turut berdampak terhadap ekosistem sungai. Kekhawatiran semakin besar karena Sungai Musi digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tidak hanya soal ikan, warga juga mengaku mulai merasakan kekhawatiran terhadap gangguan kesehatan, terutama pada anak-anak.

Namun demikian, seluruh dugaan tersebut tentu membutuhkan pembuktian secara ilmiah. Air yang keruh belum otomatis membuktikan pencemaran batubara, sebagaimana dugaan pencemaran juga tidak semestinya berhenti sebagai cerita dari mulut ke mulut.

Karena itu, satu-satunya cara paling masuk akal adalah mengambil sampel, mengujinya di laboratorium resmi, lalu membuka hasilnya kepada publik.

Dengan begitu, perdebatan tidak perlu berubah menjadi lomba tebak-tebakan antara warga, perusahaan dan pemerintah.

LIRA Minta Pemerintah Turun Tangan

Melalui Roni Paslah, Bupati Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Banyuasin, warga meminta pemerintah dan instansi terkait segera melakukan pemeriksaan lapangan.

Ada sedikitnya tiga hal yang diminta warga.

Pertama, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten PALI diminta segera turun ke lokasi, mengambil sampel air Sungai Musi dan melakukan pengujian di laboratorium resmi.

Kedua, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Palembang diminta mengevaluasi kepatuhan operasional serta aspek keselamatan pelayaran di lintasan tersebut.

Ketiga, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan diminta menyalurkan bantuan air bersih secara darurat bagi warga Desa Tanjung Tiga dan Desa Tanjung Pasir.

Permintaan bantuan air bersih menjadi penting mengingat warga menyebut sumur-sumur mereka telah mengering. Artinya, persoalan ini tidak hanya berbicara mengenai dugaan pencemaran, tetapi juga menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.

Sebab agak sulit meminta warga menjaga kesehatan jika air bersihnya saja harus dicari seperti mencari barang langka.

PT SDJ Belum Beri Penjelasan

Hingga berita ini ditayangkan, pihak PT Swarnadwipa Dermaga Jaya (SDJ) belum memberikan keterangan resmi mengenai keluhan warga maupun dugaan keterkaitan aktivitas terminal batubara dengan kondisi perairan di sekitar Desa Tanjung Tiga.

Konfirmasi dari pihak perusahaan penting untuk memberikan perspektif yang berimbang, termasuk menjelaskan bagaimana pengelolaan debu batubara, pengendalian material saat proses pemuatan serta mekanisme pencegahan agar aktivitas terminal tidak berdampak terhadap lingkungan sekitar.

Sementara itu, DPD LIRA Banyuasin menyatakan akan meneruskan laporan resmi warga beserta Berita Acara Kerusakan dan dokumentasi bukti kepada Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuasin serta Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Selatan pada Selasa (23/9/2026).

Kini bola berada di tangan pemerintah dan instansi berwenang.

Warga tidak meminta Sungai Musi kembali berwarna biru seperti gambar kalender. Mereka hanya ingin air yang mereka gunakan sehari-hari aman, ikan tetap bisa hidup dan lingkungan tidak menjadi “biaya sampingan” dari aktivitas ekonomi.

Sebab batubara boleh berlayar menuju tujuan bisnisnya. Tetapi air Sungai Musi tetap harus pulang kepada warga dalam keadaan layak digunakan.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *