Tri Adhianto Gilir Senam Sehat di 12 Kecamatan Bekasi, Lansia Bugar, UMKM Ikut Putar Ekonomi

Tri Adhianto Gilir Senam Sehat di 12 Kecamatan Bekasi, Lansia Bugar, UMKM Ikut Putar Ekonomi

KOTA BEKASI – Urusan kesehatan sering kali baru mendapat perhatian serius ketika tubuh mulai mengirimkan sinyal protes. Padahal, menjaga kebugaran tidak harus menunggu usia muda kembali atau dompet siap membayar biaya pengobatan. Kadang, langkah sederhana seperti senam bersama justru menjadi awal yang baik untuk hidup lebih sehat.

Semangat itulah yang dibawa Wali Kota Bekasi Tri Adhianto bersama Wiwiek Hargono, Ketua Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kota Bekasi, saat mengikuti senam sehat bersama para lanjut usia (lansia) dan komunitas olahraga masyarakat di Lapangan Kecamatan Pondok Gede, Minggu (18/10/2026).

Kegiatan tersebut bukan sekadar menggerakkan tangan dan kaki mengikuti irama musik. Pemerintah Kota Bekasi berencana menggelar senam sehat secara bergilir di 12 kecamatan setiap pekan, sekaligus memperluas partisipasi masyarakat dalam olahraga dan membuka ruang promosi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Program ini membawa pesan bahwa kesehatan masyarakat tidak semestinya hanya menjadi urusan fasilitas kesehatan. Ruang publik, komunitas, dan kegiatan bersama juga memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan hidup sehat.

Tri Adhianto mengatakan, kegiatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjadikan olahraga sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari.

“Yang ingin kita bangun adalah kesadaran bahwa kesehatan merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Ketika tubuh sehat dan bugar, masyarakat bisa menjalankan aktivitas dengan lebih semangat dan produktif. Karena itu, kami ingin kegiatan seperti ini menjangkau seluruh kecamatan agar masyarakat Kota Bekasi semakin aktif berolahraga, sehat jasmani, dan sehat rohani,” ujar Tri.

Lansia Aktif, Usia Bukan Alasan Berhenti Bergerak

Kehadiran para lansia dari berbagai komunitas menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan di Pondok Gede. Mereka mengikuti senam bersama sekaligus memanfaatkan kesempatan untuk bersosialisasi dan mempererat hubungan dengan sesama anggota komunitas.

Tri mengapresiasi para lansia yang tetap aktif menjaga kebugaran melalui kegiatan olahraga masyarakat. Menurutnya, bertambahnya usia bukan alasan untuk berhenti bergerak maupun membatasi interaksi sosial.

Pesan ini penting di tengah kehidupan perkotaan yang serba cepat. Kesibukan, rutinitas, dan keterbatasan ruang interaksi bisa membuat aktivitas fisik maupun kegiatan sosial tersisih dari agenda sehari-hari.

Padahal, bagi kelompok lansia, kegiatan olahraga yang sesuai kemampuan dapat menjadi sarana menjaga kebugaran sekaligus mempertahankan hubungan sosial. Pelaksanaannya tentu perlu memperhatikan kondisi peserta, keamanan lokasi, serta intensitas gerakan agar manfaatnya tidak berubah menjadi risiko.

Karena itu, jika program senam akan dilaksanakan rutin di 12 kecamatan, kesinambungan kegiatan menjadi hal yang patut diperhatikan. Jangan sampai semangat peserta hanya tinggi ketika pejabat hadir, sementara kegiatan komunitas justru kehilangan tenaga ketika agenda seremonial selesai.

Ukuran keberhasilan program bukan sekadar banyaknya peserta yang hadir pada satu Minggu pagi, melainkan tumbuhnya kebiasaan berolahraga secara berkelanjutan.

Senam Jalan, UMKM Ikut Mendapat Panggung

Kegiatan di Pondok Gede juga memberikan kesempatan kepada pelaku UMKM untuk memperkenalkan dan memasarkan produk mereka kepada masyarakat.

Kehadiran lapak usaha lokal di tengah kegiatan olahraga membuka peluang bagi pedagang untuk bertemu calon konsumen secara langsung. Pengunjung pun dapat mengenal produk warga sekaligus berkontribusi terhadap perputaran ekonomi setempat melalui pembelian.

Pendekatan ini patut diapresiasi karena satu kegiatan masyarakat dapat membawa manfaat lebih dari satu sektor. Warga memperoleh ruang untuk berolahraga, komunitas lansia mendapatkan kesempatan berinteraksi, sementara pelaku usaha lokal memiliki akses promosi.

Namun, sebagaimana program pembinaan ekonomi lainnya, menyediakan tempat berjualan baru merupakan langkah awal. Dampak yang lebih besar akan terlihat apabila kegiatan tersebut benar-benar meningkatkan transaksi, memperluas pelanggan, dan membantu UMKM membangun pasar secara berkelanjutan.

Dengan kata lain, lapangan olahraga bisa menjadi ruang kebugaran sekaligus ruang ekonomi. Tinggal bagaimana penyelenggara memastikan manfaatnya tidak berhenti pada ramainya pengunjung.

Bekasi Bersiap Menjadi Tuan Rumah Porprov

Di tengah program olahraga masyarakat, Tri juga menyinggung persiapan Kota Bekasi menghadapi penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Barat, dengan Kota Bekasi sebagai salah satu tuan rumah sebagaimana disampaikan dalam sambutannya.

“Beberapa waktu lagi, Pemerintah Kota Bekasi akan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi Jawa Barat, akan banyak tamu dari berbagai daerah dan kita siap dengan sarana olahraga untuk para atlet cabang olahraga bertanding,” tutup Tri.

Pernyataan tersebut menempatkan olahraga masyarakat dan olahraga prestasi dalam satu agenda besar pembangunan olahraga daerah. Keduanya memang berbeda dari sisi tujuan dan kebutuhan, tetapi sama-sama memerlukan fasilitas yang layak, pengelolaan yang baik, dan partisipasi masyarakat.

Jika persiapan Porprov menuntut kesiapan arena pertandingan dan pelayanan bagi atlet, program olahraga masyarakat menuntut ruang publik yang nyaman, akses yang merata, serta kegiatan yang dapat dijangkau berbagai kelompok usia.

Tantangannya adalah memastikan perhatian terhadap ajang olahraga besar tidak membuat olahraga sehari-hari kehilangan tempat. Sebab, kota yang siap menjadi tuan rumah pertandingan juga idealnya mampu mendorong warganya aktif bergerak jauh setelah para atlet dan tamu meninggalkan arena.

Melalui senam sehat bergilir di 12 kecamatan, Pemkot Bekasi berharap budaya olahraga semakin tumbuh, para lansia tetap aktif, dan UMKM lokal memperoleh kesempatan promosi yang lebih luas.

Pada akhirnya, membangun kota yang sehat tidak cukup hanya dengan menyiapkan arena pertandingan atau menggelar senam bersama sesekali. Yang lebih penting adalah memastikan masyarakat memiliki kesempatan dan kebiasaan untuk hidup sehat setiap hari.

Sebab, piala olahraga mungkin hanya diperebutkan oleh atlet. Namun, kesempatan untuk hidup lebih sehat semestinya menjadi milik seluruh warga, dari generasi muda hingga para lansia.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *