Wartawan, DLH, dan Mimpi Besar Menyapu Medan Sampai ke Daun Terakhir

Medan7 Dilihat

Medan — Di sebuah pagi yang cukup bersih, setidaknya di ruang rapat berpendingin udara, Persatuan Wartawan Pemko Medan (PWPM) bersilaturahmi ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Medan, Selasa (19/5/2026). Pertemuan ini bukan sekadar temu kangen antara pena dan tong sampah, melainkan upaya serius menyatukan kekuatan kata-kata dengan armada pengangkut sampah.

Ketua PWPM, M. Edison Ginting, datang membawa semangat kolaborasi. Sebab di zaman sekarang, membangun kota tidak cukup hanya dengan truk pengangkut sampah. Dibutuhkan juga headline yang bersih, narasi yang rapi, dan foto-foto yang mampu membuat tumpukan sampah terlihat seperti bagian dari proses menuju peradaban.

Menurut Edison, kunjungan tersebut merupakan arahan langsung dari Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas. Sebuah arahan yang sederhana namun bermakna: OPD dan wartawan sebaiknya akur, karena pembangunan tanpa publikasi ibarat menyapu halaman malam hari—kerja kerasnya ada, tapi tak banyak yang tahu.

“Kalau DLH bekerja membersihkan kota, maka kami membersihkan linimasa dari prasangka buruk. Intinya sama-sama menjaga kebersihan,” kira-kira begitu semangat yang ingin disampaikan PWPM.

Edison menegaskan bahwa wartawan Pemko Medan siap mendukung seluruh program pemerintah kota. Apalagi jika program tersebut bertujuan menjadikan Medan lebih bersih, tertata, dan tidak lagi membuat warganya harus memainkan permainan tebak-tebakan: “Ini tumpukan sampah atau instalasi seni modern?”

Dari pihak DLH, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan, Wily Irawan, menyambut baik kehadiran para wartawan. Ia memahami bahwa di era digital, keberhasilan program tak hanya ditentukan oleh banyaknya sampah yang terangkut, tetapi juga oleh seberapa jauh informasi itu sampai ke gawai masyarakat.

Menurut Wily, DLH terus berupaya menata wajah Kota Medan agar semakin nyaman dipandang. Sebab wajah kota, seperti halnya wajah manusia, akan lebih sedap dilihat jika bebas dari “jerawat” berupa tumpukan sampah di sudut jalan.

“Kami berharap rekan-rekan media dapat mengangkat berbagai kinerja positif DLH,” ujarnya. Karena sesungguhnya, truk sampah yang bekerja sejak subuh juga layak mendapatkan sorotan, meskipun bukan dalam rubrik otomotif.

Sinergi antara pemerintah dan media, lanjut Wily, ibarat sapu lidi: satu batang mungkin tak berarti, tetapi bila disatukan bisa membersihkan banyak hal, termasuk debu-debu pesimisme bahwa kota besar tak mungkin rapi.

Dengan kolaborasi ini, DLH optimistis program Wali Kota Rico Tri Putra Bayu Waas untuk mewujudkan Medan yang bersih dan tertata dapat tercapai. Sebab ketika petugas kebersihan, pemerintah, dan wartawan berjalan seirama, sampah pun mungkin mulai merasa tidak lagi punya tempat dalam sejarah kota.

Turut hadir dalam silaturahmi tersebut jajaran pengurus PWPM dan pejabat DLH Kota Medan. Mereka datang dengan satu keyakinan: bahwa Kota Medan yang bersih bukan sekadar slogan, tetapi cita-cita yang bisa diwujudkan—selama semua pihak mau turun tangan, bukan hanya turun status.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *