48 Paskibraka Medan Dikukuhkan: Besok Bendera Berkibar, Disiplin Jangan Ikut Turun

48 Paskibraka Medan Dikukuhkan: Besok Bendera Berkibar, Disiplin Jangan Ikut Turun

MEDAN — Merah Putih sebentar lagi berkibar di langit Kota Medan. Di bawahnya, 48 putra-putri terbaik yang terpilih sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Medan 2026 sudah resmi dikukuhkan.

Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mengukuhkan 48 anggota Paskibraka tersebut di halaman tengah Kantor Wali Kota Medan, Jumat (14/8/2026). Mereka akan bertugas pada upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2026.

Prosesi diawali dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Suasananya khidmat, seperti layaknya sebuah momen yang hanya datang setahun sekali, tetapi membawa beban sejarah yang tidak ringan.

Hadir Wakil Wali Kota Medan H Zakiyuddin Harahap bersama unsur Forkopimda, di antaranya Dandim 0201/Medan Letkol Arm Delli Yudha Adi Nurcahyo, Dandenpom I/5 Medan Letkol Cpm Atep Priatna, Wakapolrestabes AKBP Rudi Silaen serta jajaran pimpinan perangkat daerah Pemko Medan.

Sebanyak 48 anggota Paskibraka kemudian mengucapkan ikrar. Mereka menyatakan kesediaan menerima dan mengamalkan Dharma Mulia Putera Indonesia serta mengucapkan Ikrar Putera Indonesia.

Setelah itu, Rico Waas mengukuhkan mereka secara resmi sebagai anggota Paskibraka Kota Medan 2026. Secara simbolis, Wali Kota juga menyematkan Lencana dan Kendit Kepemimpinan Perintis Muda kepada Pemimpin Upacara, Sapta Dwi Atmaja Harahap.

Secara seremoni, semua berjalan sebagaimana mestinya.

Tetapi Paskibraka sebenarnya bukan sekadar soal berdiri tegak, menghitung langkah dan mengangkat bendera dengan gerakan yang seragam.

Ada pesan yang jauh lebih besar di baliknya.

Rico Waas mengingatkan bahwa membawa Sang Merah Putih bukanlah pekerjaan sederhana. Bendera tersebut, menurutnya, membawa semangat, kehormatan dan kebanggaan yang mampu menyuntikkan spirit kebangsaan kepada masyarakat yang melihatnya.

Benar.

Sebab kalau sekadar kain merah dan putih, mungkin pekerjaan mengibarkan bendera tidak perlu membutuhkan latihan berbulan-bulan. Yang membuatnya berat adalah simbol yang dibawa.

Merah Putih membawa cerita tentang perjuangan, pengorbanan, kemerdekaan dan identitas sebuah bangsa.

Karena itu, 48 pelajar yang berdiri di barisan Paskibraka bukan sekadar “pemain utama” dalam upacara 17 Agustus. Mereka sedang dipercaya memegang simbol yang selama puluhan tahun dijaga dengan penuh penghormatan.

Rico menilai proses seleksi dan pelatihan yang ketat menjadi bukti bahwa mereka bukan dipilih secara kebetulan. Tidak semua pelajar memperoleh kesempatan tersebut. Apalagi untuk sampai pada tahap pengukuhan, mereka harus melewati proses pembentukan disiplin dan latihan khusus.

Di sinilah Paskibraka sebenarnya memberi pelajaran yang cukup sederhana kepada generasi muda: prestasi tidak lahir dari tepuk tangan, tetapi dari latihan yang sering kali tidak terlihat.

Menariknya, pesan itu juga berlaku di luar lapangan upacara.

Sebab disiplin yang dibutuhkan untuk berjalan dalam formasi Paskibraka mestinya tidak berhenti ketika seragam dikembalikan. Ketepatan waktu, tanggung jawab, kerja sama dan kemampuan menahan ego justru merupakan bekal yang jauh lebih penting ketika mereka kembali ke sekolah dan lingkungan masyarakat.

Jangan sampai barisan tetap lurus saat upacara, tetapi kehidupan setelah upacara justru mulai belok ke mana-mana.

Rico Waas berharap pengalaman menjadi Paskibraka bukan hanya menjadi puncak prestasi selama duduk di bangku sekolah. Ia ingin pengalaman tersebut menjadi batu loncatan untuk mengejar cita-cita dan mengabdi kepada bangsa serta negara.

Apalagi, menurutnya, rata-rata anggota Paskibraka memiliki cita-cita tinggi untuk mengabdi kepada negara.

Harapan itu tentu bukan sesuatu yang berlebihan.

Indonesia memang membutuhkan generasi muda yang tidak hanya pintar membuat konten, tetapi juga punya karakter, disiplin dan kesadaran bahwa menjadi warga negara berarti memiliki tanggung jawab sosial.

Pada akhirnya, ketika Merah Putih perlahan naik menuju puncak tiang pada 17 Agustus nanti, masyarakat mungkin hanya melihat beberapa menit dari seluruh proses tersebut.

Yang terlihat adalah barisan rapi.

Yang terdengar adalah aba-aba.

Yang kemudian tampak adalah bendera berkibar.

Namun di balik beberapa menit itu ada latihan panjang, keringat, kedisiplinan dan 48 anak muda yang sedang belajar memahami arti tanggung jawab.

Dan mungkin itulah makna Paskibraka yang paling penting.

Bendera boleh naik ke puncak tiang, tetapi semangat kebangsaan jangan berhenti di sana. Ia harus ikut turun ke bumi—masuk ke sekolah, keluarga, lingkungan, dan kelak ke ruang-ruang pengabdian mereka.

Karena Indonesia tidak hanya membutuhkan anak muda yang bisa mengibarkan Merah Putih dengan sempurna.

Indonesia juga membutuhkan generasi yang setelah bendera diturunkan, tetap tahu untuk siapa mereka berdiri.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *