Penanaman Pohon, Tebar Ikan, dan Kata ‘Disiplin’: Saat Kunjungan Jenderal Lebih Sibuk dari Masalah di Lapangan

Di negeri ini, ada satu ritual yang selalu berjalan nyaris sempurna: kunjungan pejabat tinggi. Semakin tinggi pangkatnya, semakin rapi barisan, semakin banyak sambutan, dan semakin lengkap pula simbol-simbol “kemajuan” yang ditampilkan ke kamera.

Kali ini giliran Pangdam I/BB mendampingi Wakasad ke Yonif TP 852/ABY. Seperti biasa, paket lengkap pun tersaji: laporan satuan, foto bersama, penanaman pohon, pengarahan tentang disiplin, hingga penebaran ribuan bibit ikan patin. Semua serba tertib, serba terukur, dan tentu saja serba dokumentatif.

Dari luar, semuanya tampak ideal. Prajurit berdiri tegap, jenderal memberi wejangan tentang disiplin, loyalitas, dan profesionalisme. Kata-kata yang sudah sangat sering diucapkan hingga nyaris menjadi mantra wajib setiap kunjungan. Tidak salah, tidak keliru. Tapi pertanyaannya sederhana: setelah semua pidato itu selesai, apa yang benar-benar berubah di lapangan?

Kita seperti sedang menyaksikan negara yang terlalu rajin mengingatkan tentang disiplin kepada prajurit, tetapi di saat yang sama terlalu sibuk memastikan acara berjalan sempurna untuk dokumentasi. Seakan-akan keberhasilan satuan diukur dari seberapa bagus foto penanaman pohon, bukan dari seberapa siap mereka menghadapi tugas nyata di lapangan.

Program ketahanan pangan yang ditampilkan—greenhouse, peternakan ayam, hingga budidaya ikan patin—juga menjadi bagian dari narasi besar kemandirian satuan. Di atas kertas, ini terdengar seperti model ideal militer modern yang produktif. Namun di balik itu, publik tentu boleh bertanya: apakah ini benar-benar sistem produksi yang berkelanjutan, atau sekadar etalase yang aktif saat ada kunjungan pejabat?

Fenomena ini bukan hal baru. Setiap kunjungan pejabat tinggi hampir selalu menghasilkan “vitrinisasi” satuan: sesuatu yang siap dipamerkan, ditata ulang, dan diperindah sementara waktu. Setelah rombongan pergi, yang tersisa sering kali hanya rutinitas lama yang kembali berjalan tanpa sorotan.

Menariknya, pesan utama yang selalu diulang adalah hal yang sama: disiplin, loyalitas, profesionalisme. Tiga kata yang sangat kuat, tetapi justru menjadi lemah karena terlalu sering diucapkan dalam konteks seremoni. Seolah-olah masalah utama militer selalu pada kurangnya pengulangan kata, bukan pada evaluasi sistem yang lebih dalam.

Kunjungan ini tentu tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Setiap institusi membutuhkan momentum untuk evaluasi dan motivasi. Namun ketika setiap momentum berubah menjadi panggung simbolik yang seragam, publik berhak mempertanyakan: apakah ini pembinaan, atau sekadar pertunjukan yang sudah terlalu sering diulang dengan naskah yang sama?

Penanaman pohon, penebaran ikan, hingga penyerahan cinderamata memang tampak indah secara visual. Tapi pembangunan institusi tidak bisa berhenti di simbol-simbol hijau di depan kamera. Ia harus masuk ke hal yang lebih sunyi: kualitas pelatihan, kesiapan tempur, kesejahteraan prajurit, dan sistem pembinaan yang berjalan bahkan ketika tidak ada kamera yang merekam.

Karena pada akhirnya, kekuatan sebuah satuan tidak ditentukan oleh seberapa megah acara kunjungan pejabatnya, tetapi oleh seberapa siap mereka ketika tidak ada satu pun kamera, tidak ada sambutan, dan tidak ada kata-kata indah yang harus diucapkan.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *