Dari Ruang Kuliah ke Ruang Sidang: Harli Siregar Ajak Jaksa Naik Kelas, Bukan Sekadar Naik Pangkat
MEDAN — Di tengah zaman ketika gelar akademik kadang lebih cepat dipamerkan daripada dipahami, Badan Pendidikan dan Pelatihan (Badiklat) Kejaksaan RI memilih jalan yang sedikit lebih serius: memperbanyak ilmu, bukan sekadar memperbanyak singkatan di belakang nama.
Jumat (31/7/2026), Kepala Badiklat Kejaksaan RI, Dr. Harli Siregar, S.H., M.Hum., resmi memperkuat kerja sama dengan tiga kampus ternama—Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin. Langkah ini menjadi sinyal bahwa membangun Kejaksaan modern ternyata tidak cukup hanya dengan gedung yang megah dan seragam yang rapi. Otak para aparat juga perlu terus “di-upgrade”.
Di Kampus USU, Medan, Harli Siregar menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) bersama pihak universitas terkait penyelenggaraan pendidikan Program Doktor (S3) Ilmu Hukum bagi pegawai Kejaksaan RI. Penandatanganan dilakukan bersama perwakilan Rektor USU, Prof. Dr. Eng. Himsar Ambarita, serta dilanjutkan dengan Perjanjian Kerja Sama bersama Fakultas Hukum USU yang dihadiri Dekan FH USU, Dr. Mahmul Siregar.
Kalau biasanya orang mengejar gelar demi menambah panjang kartu nama, kerja sama ini justru diharapkan menambah panjang daftar solusi dalam penegakan hukum. Sebab, tantangan hukum hari ini tak lagi sesederhana membuka buku undang-undang dan mencari pasal yang cocok.
Harli Siregar menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM adalah investasi jangka panjang bagi institusi. Bahasa sederhananya, kalau ingin Kejaksaan ikut berlari di era digital dan menghadapi kejahatan yang makin canggih, maka aparatnya juga harus terus belajar. Jangan sampai pelaku kejahatan sudah memakai kecerdasan buatan, sementara penegak hukumnya masih mengandalkan kebiasaan lama.
Kerja sama ini bukan hanya soal kuliah doktoral. Cakupannya juga meliputi penelitian, inovasi, pengabdian kepada masyarakat, hingga pengembangan kelembagaan. Artinya, kampus tidak lagi sekadar menjadi tempat mencetak ijazah, tetapi juga laboratorium untuk melahirkan gagasan-gagasan baru bagi dunia penegakan hukum.
Pihak USU pun menyambut kolaborasi ini dengan optimistis. Kampus siap mendukung peningkatan kompetensi aparatur Kejaksaan melalui pendidikan, riset kolaboratif, dan berbagai program akademik lainnya.
Kolaborasi dengan USU, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin menjadi bagian dari upaya Badiklat Kejaksaan RI membangun sumber daya manusia yang profesional, adaptif, dan berintegritas. Sebab pada akhirnya, institusi penegak hukum yang berkelas dunia tidak lahir dari slogan yang megah, melainkan dari orang-orang yang tidak pernah berhenti belajar.
Dan mungkin, di era sekarang, gelar doktor bukan lagi sekadar kebanggaan pribadi. Yang lebih penting adalah ketika ilmu yang diperoleh benar-benar membuat keadilan terasa lebih dekat dengan masyarakat.(***)







