Dari Benang ke Branding: Ketika UMKM Bekasi Tak Lagi Cukup Hebat di Etalase Tetangga

Kalau ada yang masih mengira UMKM cukup terkenal di grup WhatsApp kompleks, mungkin sudah saatnya jalan-jalan ke Makassar. Di sana, ribuan pelaku usaha dari seluruh Indonesia berkumpul dalam peringatan HUT ke-46 Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), membuktikan bahwa produk lokal kini bukan lagi sekadar “buatan rumahan”, melainkan karya yang siap bersaing di pasar yang lebih luas.

Ketua Dekranasda Kota Bekasi, Wiwiek Hargono, bersama jajaran pengurus Dekranasda Kota Bekasi hadir dalam ajang yang berlangsung di Trans Studio Mall Makassar. Bukan sekadar memenuhi undangan, tetapi membawa misi yang lebih penting: memastikan karya para perajin Bekasi mendapat panggung di tingkat nasional.

Satirnya sederhana. Membuat produk bagus memang penting, tetapi kalau hanya disimpan di lemari atau dipajang di media sosial tanpa strategi, nasibnya tak jauh berbeda dengan bakat yang hanya dipuji keluarga sendiri. Produk hebat juga perlu bertemu pembeli, investor, pelatih, hingga pasar yang lebih besar.

Pesan itulah yang disampaikan Ketua Umum Dekranas, Selvi Ananda Gibran Rakabuming. Menurutnya, Dekranas bukan hanya tempat berkumpul para pengurus, tetapi jembatan yang menghubungkan perajin dengan pelatihan, kolaborasi, akses permodalan, dan peluang usaha. Kreativitas memang penting, tetapi jejaring sering kali menjadi pembeda antara usaha yang bertahan dan usaha yang berkembang.

Pameran yang berlangsung selama lima hari ini menghadirkan sekitar 3.000 pelaku UMKM dengan 200 stan yang dipenuhi beragam karya, mulai dari batik, fesyen, aksesori, kerajinan tangan, hingga berbagai produk kreatif lainnya. Sebuah pengingat bahwa Indonesia memang kaya akan ide—tantangannya tinggal bagaimana membuat ide itu laku di pasar.

Kota Bekasi pun tak datang dengan tangan kosong. Delapan brand hasil kurasi Dekranasda tampil membawa identitas daerah, yakni Mariline Craft, TruFatma, Batik Sri, Neka Toys, Amniya Fashion, Lastri Croche, Batik Chandrabaga, dan Ameera Fashion. Mereka menjadi wajah kreativitas Bekasi yang berani keluar dari zona nyaman dan bersaing di panggung nasional.

Wiwiek Hargono mengapresiasi para perajin yang berhasil melewati proses kurasi. Baginya, lolos ke ajang nasional bukan garis finis, melainkan titik awal untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing.

Harapannya juga sederhana namun penting: semakin banyak pelaku UMKM Kota Bekasi yang berani berinovasi, meningkatkan kualitas produk, dan mempersiapkan diri mengikuti berbagai pameran maupun proses kurasi di masa depan. Sebab persaingan hari ini tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling murah, melainkan siapa yang paling mampu menghadirkan kualitas, cerita, dan kepercayaan kepada konsumen.

Pada akhirnya, membangun UMKM bukan sekadar soal menjual barang. Ini tentang membangun merek, membuka jaringan, dan mengubah kreativitas menjadi nilai ekonomi. Karena Indonesia tidak kekurangan perajin berbakat. Yang dibutuhkan adalah lebih banyak kesempatan agar karya-karya mereka tidak hanya dikenal di kota sendiri, tetapi juga mampu menembus pasar nasional, bahkan suatu hari nanti, menjadi kebanggaan di pasar dunia.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *