Ada anggapan lama yang masih sering beredar: kalau sudah lansia, tugasnya tinggal duduk di teras, menjaga cucu, lalu sesekali memberi nasihat yang belum tentu diminta. Padahal, usia boleh bertambah, tetapi semangat berkarya tidak memiliki batas pensiun.
Itulah suasana yang terasa dalam Kriyaan Lansia Kota Bekasi 2026 di GOR Bang Yan, Stadion Patriot Candrabhaga. Mengusung tema “Lansia Berdaya, Berkarya, dan Bahagia”, kegiatan ini menghadirkan ribuan peserta dari Sekolah Lansia Kota Bekasi. Ada angklung, line dance, fashion show, hingga berbagai pertunjukan yang membuktikan bahwa panggung bukan hanya milik mereka yang masih muda.
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menyampaikan bahwa program Sekolah Lansia mulai dibangun sejak 2022 dengan target sekitar 3.000 peserta. Siapa sangka, dalam waktu kurang dari dua tahun jumlahnya justru melampaui target dan kini mencapai sekitar 3.436 anggota. Sebuah angka yang seolah mengatakan bahwa kebutuhan lansia bukan hanya layanan kesehatan, tetapi juga ruang untuk tetap merasa dibutuhkan.
Satirnya sederhana. Selama ini kita sering mengukur pembangunan dari berapa banyak jalan yang dicor, gedung yang berdiri, atau taman yang diresmikan. Padahal, ada satu ukuran yang jauh lebih manusiawi: apakah orang tua kita masih punya alasan untuk bangun pagi dengan penuh semangat.
Sekolah Lansia menjawab kebutuhan itu. Bukan sekadar mengisi waktu luang, melainkan menghadirkan ruang belajar, bersosialisasi, berolahraga, berkesenian, dan membangun pertemanan baru. Karena kesepian sering kali lebih berat daripada usia itu sendiri.
Tri Adhianto mengingatkan bahwa pembangunan sumber daya manusia harus berlangsung sepanjang hayat. Lansia tidak boleh dipandang sebagai kelompok yang hanya menerima pelayanan, tetapi juga sebagai warga yang masih memiliki pengalaman, pengetahuan, dan energi untuk terus berkontribusi.
Pesan tersebut diperkuat oleh Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga RI, Dr. H. Wihaji, yang mengapresiasi inovasi Kota Bekasi. Menurutnya, Sekolah Lansia bukan hanya memberikan pelayanan, tetapi juga menghadirkan ruang agar para lansia tetap belajar, berkarya, dan aktif di tengah masyarakat. Sebuah pendekatan yang layak menjadi inspirasi bagi daerah lain.
Data Badan Pusat Statistik pun memberi gambaran menarik. Angka harapan hidup Kota Bekasi mencapai 76,61 tahun, termasuk yang tertinggi di Jawa Barat. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi cerminan bahwa kualitas hidup juga ditentukan oleh kesempatan untuk tetap sehat secara fisik, sosial, dan psikologis.
Pada akhirnya, menjadi lansia bukan berarti berhenti bertumbuh. Justru di usia senja, pengalaman hidup menjadi modal yang tak dimiliki generasi lain. Maka jika hari ini kita melihat para lansia memainkan angklung, menari, berjalan di atas panggung peragaan busana, atau tertawa bersama teman-temannya, mungkin yang sedang mereka tunjukkan bukan sekadar hiburan.
Mereka sedang memberi pelajaran bahwa kebahagiaan tidak mengenal batas usia. Sebab masa tua yang berkualitas bukan tentang menghitung sisa waktu, melainkan tetap mengisi setiap harinya dengan makna, karya, dan kebersamaan.(***)







