Dari Nongkrong ke Ngobrol Pintar: Bekasi Siapkan Perpustakaan yang Tak Lagi Bikin Mengantuk

Perpustakaan punya citra yang kadang kurang beruntung. Di kepala sebagian orang, tempat ini identik dengan rak buku yang sunyi, meja kayu yang kaku, dan petugas yang lebih cepat menegur suara daripada menyapa pengunjung. Padahal, zaman sudah berubah. Anak muda hari ini mencari ruang yang bukan hanya nyaman untuk membaca, tetapi juga untuk berpikir, berdiskusi, dan berkarya.

Mungkin itulah sebabnya Pemerintah Kota Bekasi mulai mematangkan pembangunan perpustakaan modern di eks Gedung Dinas Kesehatan Kota Bekasi, tepat di depan Grand Mall Bekasi. Lokasinya strategis, idenya pun mencoba mengikuti perubahan zaman.

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menegaskan bahwa perpustakaan masa depan tidak cukup hanya dipenuhi buku. Ia harus menjadi ruang hidup yang mampu mempertemukan pengetahuan dengan kreativitas. Konsep yang disiapkan menghadirkan Digital Library dengan koleksi buku fisik dan digital, ruang diskusi, area kolaborasi, working space, videotron, taman, ruang anak, hingga desain bangunan yang memanfaatkan cahaya alami agar lebih hemat energi.

Satirnya sederhana. Selama ini anak muda sering dicap terlalu betah nongkrong di kafe. Padahal, mungkin yang mereka cari bukan sekadar kopi, melainkan tempat yang nyaman untuk belajar, berdiskusi, mengerjakan tugas, atau sekadar mencari inspirasi. Kalau perpustakaan bisa menghadirkan suasana yang sama—bahkan lebih kaya dengan ilmu—mengapa tidak?

Yang menarik, gagasan pembangunan ini disebut lahir dari aspirasi anak muda Kota Bekasi. Sebuah pengingat bahwa mendengarkan generasi muda ternyata tidak selalu berakhir dengan permintaan konser atau festival. Kadang yang mereka minta justru ruang belajar yang lebih layak.

Tri Adhianto berharap perpustakaan ini menjadi pusat literasi sekaligus ruang kolaborasi yang memanfaatkan teknologi digital. Sebab membaca hari ini tidak lagi selalu berarti membuka halaman demi halaman. Ada e-book, arsip digital, multimedia, hingga diskusi yang lahir dari pertemuan berbagai ide dalam satu ruang.

Tak kalah penting, perpustakaan ini juga dirancang lebih inklusif. Akses bagi penyandang disabilitas, lift, jalur khusus, hingga koleksi buku Braille disiapkan agar literasi benar-benar menjadi hak semua warga, bukan hanya mereka yang tidak memiliki hambatan fisik.

Pemerintah Kota Bekasi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk memberikan masukan selama proses perencanaan. Langkah yang patut diapresiasi, karena perpustakaan yang baik bukan dibangun berdasarkan selera perancang semata, melainkan kebutuhan para penggunanya.

Jika target pembangunan selesai pada akhir 2028 benar-benar terwujud, Bekasi berpeluang memiliki lebih dari sekadar gedung baru. Kota ini bisa memiliki ruang yang mempertemukan pengetahuan, teknologi, kreativitas, dan komunitas dalam satu atap.

Karena pada akhirnya, ukuran kota yang maju bukan hanya berapa banyak pusat perbelanjaan yang berdiri. Tetapi juga berapa banyak ruang yang membuat warganya semakin gemar membaca, berpikir kritis, dan berani melahirkan gagasan baru. Dan kalau suatu hari antrean menuju perpustakaan sama panjangnya dengan antrean kedai kopi, mungkin itulah pertanda literasi sedang benar-benar naik kelas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *