Setiap peringatan hari besar biasanya punya dua agenda yang hampir selalu hadir: doa bersama dan foto bersama. Keduanya penting. Namun masyarakat tentu berharap ada satu agenda lagi yang tak kalah penting, yaitu kerja bersama.
Suasana itulah yang tampak saat Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menghadiri doa bersama dan ramah tamah dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80 di Polres Metro Bekasi Kota. Bersama Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Pol. Kusumo Wahyu Bintoro dan jajaran, kegiatan berlangsung hangat sebagai simbol eratnya hubungan antara Pemerintah Kota Bekasi dan kepolisian.
Acara diawali dengan doa bersama sebagai ungkapan syukur atas pengabdian Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Setelah itu, suasana berlanjut lebih akrab melalui makan bersama. Tradisi yang sederhana, tetapi sering kali menjadi ruang lahirnya komunikasi yang lebih cair dibandingkan rapat yang dipenuhi mikrofon dan presentasi.
Satirnya sederhana. Sinergi antarlembaga memang mudah diucapkan dalam sambutan. Yang lebih menantang adalah menjaga sinergi itu tetap hidup ketika menghadapi kemacetan, konflik sosial, bencana, kriminalitas, hingga keluhan masyarakat yang datang tanpa jadwal.
Dalam sambutannya, Tri Adhianto menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran Polri, khususnya Polres Metro Bekasi Kota, atas dedikasi mereka menjaga keamanan dan ketertiban. Ia berharap Polri terus tumbuh menjadi institusi yang profesional, humanis, sekaligus semakin dipercaya masyarakat.
Harapan itu bukan tanpa alasan. Sebab keamanan merupakan fondasi bagi hampir seluruh aktivitas kota. Investasi membutuhkan rasa aman. Pelayanan publik membutuhkan ketertiban. Aktivitas ekonomi pun akan bergerak lebih baik ketika masyarakat merasa terlindungi.
Tri juga menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah dan kepolisian harus terus diperkuat. Tantangan kota modern tidak lagi bisa diselesaikan oleh satu institusi sendirian. Persoalan sosial, ketertiban, lalu lintas, hingga penanganan bencana memerlukan koordinasi yang cepat dan saling mendukung.
Doa yang dipanjatkan dalam kegiatan ini pun menjadi simbol harapan agar seluruh anggota Bhayangkara diberikan kesehatan, keselamatan, dan kekuatan dalam menjalankan tugasnya. Sebuah pengingat bahwa di balik seragam dan kewenangan, ada manusia yang setiap hari bekerja di lapangan menghadapi berbagai situasi yang tidak selalu mudah.
Pada akhirnya, masyarakat tentu tidak menilai sinergi hanya dari seberapa sering pejabat duduk semeja. Yang lebih penting adalah seberapa cepat persoalan warga bisa diselesaikan ketika pemerintah daerah dan kepolisian bergerak bersama.
Karena keamanan bukan hanya soal banyaknya personel yang berjaga. Keamanan juga lahir dari kepercayaan, komunikasi, dan kerja sama yang konsisten. Jika semangat itu terus dijaga setelah perayaan HUT Bhayangkara usai, maka doa yang dipanjatkan hari ini benar-benar menemukan maknanya dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.(***)







