Di Tengah Ramainya Konser PRSU, Ada Sudut yang Mengajak Pengunjung ‘Berjalan’ 13 Abad ke Masa Lalu

Di Tengah Ramainya Konser PRSU, Ada Sudut yang Mengajak Pengunjung “Berjalan” 13 Abad ke Masa Lalu

Medan – Di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU), orang biasanya sibuk mencari konser, kuliner, atau diskon produk UMKM. Namun, jika melangkah sedikit ke Paviliun Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Sumut, pengunjung justru diajak “berwisata” ke masa ketika media sosial belum ada, listrik belum ditemukan, bahkan Indonesia pun belum bernama Indonesia.

Di sana dipamerkan replika nisan Syekh Rukunuddin dari kompleks Makam Mahligai di Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah. Sebuah benda sederhana yang mungkin tak seramai panggung musik, tetapi menyimpan kisah panjang tentang perjalanan sejarah Islam di Nusantara.

“Syekh Rukunuddin diyakini sebagai ulama yang pertama menyebarkan Islam di Nusantara. Makam beliau kini menjadi situs sejarah sekaligus tempat ziarah,” ujar petugas UPTD Taman Budaya Sumut, Nadil, didampingi Dina, saat ditemui di Paviliun Disbudparekraf Sumut, Kamis (24/7/2026).

Replika nisan tersebut merupakan koleksi Museum Negeri Sumatera Utara yang dipinjamkan khusus untuk dipamerkan selama PRSU berlangsung. Tujuannya sederhana, agar masyarakat yang mungkin belum sempat berkunjung ke Barus tetap bisa mengenal salah satu peninggalan sejarah penting Sumatera Utara.

Namun, paviliun ini tidak hanya berhenti pada satu nisan.

Pengunjung juga dapat melihat replika situs megalit Bawomataluo dari Nias Selatan, ukiran gorga Batak Toba, Tongkat Tunggal Panaluan, patung-patung tradisional Batak, peralatan membatik, hingga lukisan atraksi lompat batu yang sudah mendunia.

Kalau biasanya orang menghabiskan waktu di PRSU untuk berburu makanan, di paviliun ini justru yang “disantap” adalah pengetahuan.

Berdasarkan informasi yang ditampilkan, Syekh Rukunuddin diyakini wafat pada tahun 672 Masehi dan dimakamkan di Situs Mahligai, Barus. Kompleks pemakaman yang berada di kawasan perbukitan itu memiliki luas sekitar tiga hektare dengan ratusan makam kuno yang menjadi bagian penting dari sejarah penyebaran Islam di Nusantara.

Bagi banyak sejarawan, Barus selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan penting dalam jalur perdagangan dunia sekaligus memiliki jejak sejarah awal masuknya Islam di wilayah Nusantara. Karena itu, keberadaan situs Mahligai dan Papan Tinggi terus menjadi perhatian dalam kajian sejarah dan kebudayaan.

Di tengah hingar-bingar konser, lampu warna-warni, dan aroma jajanan yang memenuhi PRSU, paviliun ini seolah menjadi pengingat bahwa Sumatera Utara tidak hanya kaya akan destinasi wisata dan kuliner, tetapi juga menyimpan warisan sejarah yang usianya melampaui belasan abad.

Ironisnya, tak sedikit orang yang rela menempuh ribuan kilometer untuk melihat peninggalan sejarah di luar negeri, tetapi belum pernah mengenal situs bersejarah yang ada di tanahnya sendiri. Padahal, benda-benda seperti replika nisan Syekh Rukunuddin bukan sekadar pajangan museum. Ia adalah pengingat bahwa sejarah tidak lahir dari cerita yang viral, melainkan dari jejak-jejak yang berhasil dijaga lintas generasi.

Mungkin memang benar, konser mampu menghibur selama beberapa jam. Tetapi sejarah, jika mau dipelajari, bisa memberi pelajaran untuk seumur hidup. Dan di PRSU tahun ini, keduanya bisa dinikmati dalam satu kawasan yang sama.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *