Dari “Tukang Parkir” ke Wakil Wali Kota: Ternyata Cinta Memang Suka Parkir di Tempat Tak Terduga
Kalau selama ini PRSU dikenal sebagai tempat berburu kuliner, wahana permainan, atau belanja, ternyata ada satu “produk” lain yang usianya jauh lebih panjang: kisah cinta.
Hal itu kembali mengemuka saat buku biografi “Cinta Tukang Parkir” diluncurkan dalam Festival Literasi Sumatera Utara 2026. Judulnya memang terdengar seperti sinetron menjelang magrib, tetapi isinya justru menceritakan perjalanan nyata Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap bersama sang istri, Martinijal.
Yang paling menarik tentu cerita awal perkenalan mereka. Saat bertemu di arena PRSU bertahun-tahun silam, Zakiyuddin konon berseloroh mengaku sebagai tukang parkir. Entah itu strategi pendekatan atau sekadar candaan spontan, yang jelas “modus” sederhana itu ternyata berhasil. Cinta memang sering kali tidak membutuhkan mobil mewah, cukup tempat parkir yang tepat.
Kalau mengikuti logika zaman sekarang, mungkin kisah itu sudah lebih dulu viral di media sosial dengan judul, “Ngaku Tukang Parkir, Berakhir di Balai Kota.” Untung saja waktu itu belum ada konten kreator yang mengejar setiap momen romantis untuk dijadikan video berdurasi satu menit.
Peluncuran buku ini juga membawa pesan yang lebih serius. Zakiyuddin berharap kisah tersebut bisa menjadi inspirasi sekaligus mendorong anak muda lebih gemar membaca dan menulis. Sebuah harapan yang patut diapresiasi, mengingat saat ini banyak orang lebih kuat menghafal komentar di media sosial daripada isi sebuah buku.
Ia bahkan berencana menyediakan ruang bagi komunitas literasi di Taman Budaya Medan. Ide yang menarik, sebab komunitas membaca memang lebih membutuhkan ruang berkumpul daripada sekadar slogan bahwa “minat baca harus ditingkatkan.” Literasi tidak tumbuh hanya lewat spanduk, tetapi lewat tempat yang membuat orang nyaman berdiskusi, membaca, dan berkarya.
Martinijal sendiri mengaku sempat tidak percaya diri ketika kisah hidupnya hendak dibukukan. Baginya masih banyak tokoh yang lebih layak ditulis. Kerendahan hati seperti itu justru menjadi salah satu alasan mengapa sebuah biografi layak dibaca. Sebab tidak semua inspirasi lahir dari orang yang merasa dirinya luar biasa.
Sementara itu, penulis muda Anisa Putri Indriana menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya bisa membuat konten pendek, tetapi juga mampu menyusun kisah panjang yang sarat nilai kehidupan. Ketertarikannya terhadap sosok Martinijal berawal dari kegiatan Duta Genre, lalu berkembang menjadi sebuah buku biografi.
Pada akhirnya, “Cinta Tukang Parkir” bukan sekadar cerita romantis tentang dua insan yang dipertemukan di PRSU. Buku ini mengingatkan bahwa perjalanan hidup sering dimulai dari hal-hal kecil yang tak pernah direncanakan. Sebuah candaan bisa menjadi awal keluarga, sebuah pertemuan singkat bisa menjadi perjalanan seumur hidup, dan sebuah buku bisa menjadi alasan seseorang kembali mencintai kegiatan membaca.
Siapa tahu, setelah membaca kisah ini, ada anak muda yang lebih sering berkunjung ke perpustakaan daripada sekadar mencari tempat parkir. Karena ternyata, yang bisa mengubah masa depan bukan hanya jabatan, tetapi juga kebiasaan membaca dan menulis.(***)







