Rico Waas Minta PUD Pasar Naik Kelas, Jangan Cuma Jago Tagih Retribusi
Kalau selama ini PUD Pasar identik dengan urusan kios, lapak, retribusi, dan keluhan atap bocor saat hujan, tampaknya Wali Kota Medan Rico Waas ingin mengubah jalan ceritanya. Targetnya bukan lagi sekadar mengelola pasar, tetapi menjadikannya “mesin pencetak keuntungan”.
Pesan itu disampaikan dalam rapat evaluasi Triwulan II. Bahasanya cukup lugas: jangan bekerja biasa-biasa saja. PUD Pasar diminta berpikir layaknya perusahaan profesional yang mampu menarik investasi, mengembangkan aset, dan menghasilkan laba.
Tentu saja kalimat “mesin pencetak keuntungan” terdengar menarik. Namun, publik pasti berharap yang dicetak benar-benar keuntungan perusahaan, bukan sekadar tumpukan laporan rapat, spanduk sosialisasi, atau presentasi penuh grafik yang indah dilihat tetapi sulit dirasakan pedagang.
Rico juga memberi tenggat kepada jajaran PUD Pasar untuk membenahi sistem pengelolaan secara menyeluruh. Sebab mengelola pasar hari ini tak cukup hanya memastikan kios terisi. Pasar harus menjadi ruang ekonomi yang hidup, bersih, aman, nyaman, dan mampu bersaing dengan pusat perbelanjaan modern yang terus bermunculan.
Yang tak kalah penting, Rico mengingatkan soal integritas. Ia menegaskan tidak akan ragu memberikan teguran keras jika ditemukan praktik kecurangan. Pesan ini terdengar sederhana, tetapi justru menjadi fondasi. Sebab sebaik apa pun konsep bisnis yang dibuat, semuanya akan runtuh kalau masih ada kebocoran di sana-sini.
Di sisi lain, PUD Pasar mulai menawarkan sejumlah gagasan baru. Ada rencana menghadirkan Petisah Night Market, membangun pasar percontohan, memperkuat tata kelola perusahaan (good corporate governance), hingga menghadirkan dashboard digital.
Digitalisasi memang terdengar modern. Namun jangan sampai digitalisasi hanya berhenti di layar monitor ruang direksi. Pedagang tentu lebih senang jika yang ikut berubah adalah pelayanan, kebersihan pasar, keamanan, parkir yang tertata, dan pengelolaan yang transparan. Teknologi seharusnya mempermudah urusan, bukan sekadar mempercantik presentasi.
Petisah Night Market juga menarik untuk ditunggu. Jika dikelola serius, kawasan itu bisa menjadi pusat kuliner dan wisata malam yang menggerakkan ekonomi masyarakat. Tetapi kalau hanya ramai saat peresmian lalu sepi beberapa bulan kemudian, yang hidup justru dokumentasi media sosialnya.
Komitmen Direktur Utama PUD Pasar Anggia Ramadhan untuk langsung “tancap gas” patut diapresiasi. Tantangannya sekarang bukan lagi menyusun daftar inovasi, melainkan memastikan inovasi itu benar-benar berjalan dan menghasilkan perubahan yang dirasakan pedagang maupun pembeli.
Pada akhirnya, pasar bukan hanya tempat transaksi jual beli. Ia adalah denyut ekonomi kota. Karena itu, jika PUD Pasar benar-benar ingin menjadi mesin pencetak keuntungan, ukuran keberhasilannya bukan sekadar laba perusahaan, tetapi juga meningkatnya kenyamanan pedagang, bertambahnya pengunjung, dan tumbuhnya kepercayaan masyarakat. Sebab pasar yang sehat bukan hanya ramai saat hari besar, melainkan ramai karena orang memang ingin datang dan berbelanja.(***)







