Rumah Sakharina Hampir Rampung, Bukti Gotong Royong Masih Lebih Cepat dari Janji Banyak Orang
Nias Utara – Di negeri yang kadang lebih sering meresmikan spanduk daripada menyelesaikan persoalan, kabar dari Desa Onozalukhu, Kecamatan Lahewa, Kabupaten Nias Utara, terasa cukup menyegarkan. Rumah milik Sakharina Zalukhu yang sebelumnya masuk kategori tidak layak huni kini hampir selesai direhabilitasi melalui Program Bakti TNI untuk Rakyat.
Per Sabtu (1/8/2026), progres pembangunan sudah mencapai 97,25 persen. Artinya, tinggal sedikit sentuhan akhir sebelum rumah itu benar-benar berubah menjadi tempat tinggal yang nyaman. Bukan sekadar angka di laporan, tetapi perubahan yang bisa langsung dirasakan oleh penghuninya.
Personel Yonif TP 906/SLG bersama Koramil 05/Lahewa dan warga setempat masih sibuk mengecat dinding, membersihkan area rumah, dan memastikan semua pekerjaan selesai dengan baik. Semangat gotong royong yang belakangan lebih sering muncul di pidato, kali ini benar-benar terlihat di lapangan.
Rumah yang semula berukuran 9 x 6 meter direhabilitasi menjadi 7 x 6 meter dengan konstruksi yang lebih layak. Berbagai material bangunan digunakan, mulai dari semen, pasir, batu belah, batako, kayu, papan, hingga seng spandek serta perlengkapan pintu dan jendela. Yang dibangun bukan hanya tembok, tetapi juga rasa aman bagi keluarga yang akan menempatinya.
Bagi Sakharina Zalukhu dan keluarganya, rumah ini tentu jauh lebih berarti daripada sekadar bangunan baru. Setelah sekian lama tinggal di rumah yang kurang layak, mereka kini memiliki harapan baru untuk hidup dengan lebih nyaman. Ucapan terima kasih pun disampaikan kepada Presiden RI Prabowo Subianto, TNI, dan masyarakat yang ikut bergotong royong menyelesaikan pembangunan tersebut.
Kapendam I/Bukit Barisan Kolonel Inf Sandy mengatakan bahwa program rehabilitasi rumah tidak layak huni merupakan bagian dari komitmen TNI AD dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, capaian pembangunan yang hampir tuntas merupakan hasil kerja bersama antara prajurit dan warga.
Sesederhana itu sebenarnya. Ketika semua turun tangan, rumah yang hampir roboh bisa berdiri kembali. Barangkali inilah pengingat bahwa masyarakat tidak selalu membutuhkan janji yang tinggi-tinggi. Kadang yang paling mereka perlukan hanyalah atap yang tidak bocor saat hujan, dinding yang kokoh, dan kepedulian yang benar-benar hadir, bukan sekadar hadir dalam sambutan.(***)







