Jembatan Sudah Jadi, Kini Warga Desa Hou Tak Perlu Lagi Bertaruh dengan Arus Sungai

Jembatan Sudah Jadi, Kini Warga Desa Hou Tak Perlu Lagi Bertaruh dengan Arus Sungai

Nias – Ada satu kabar baik dari Kabupaten Nias yang mungkin terdengar sederhana, tetapi dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar memotong pita peresmian. Sebuah jembatan gantung sepanjang 35 meter yang melintasi Sungai Hou di Desa Hou, Kecamatan Bawolato, akhirnya rampung dibangun.

Sabtu (1/8/2026), pembangunan jembatan yang menjadi bagian dari Program Bakti TNI AD Untuk Rakyat resmi dituntaskan. Bagi sebagian orang, jembatan hanyalah susunan baja, kabel, dan papan. Namun bagi warga Desa Hou, jembatan berarti waktu yang lebih singkat, perjalanan yang lebih aman, dan rasa tenang saat harus menyeberangi sungai.

Selama ini, banyak daerah terpencil yang lebih akrab dengan cerita sulitnya akses daripada cerita tentang pembangunan. Padahal, hasil panen tak bisa menunggu jalan bagus, anak-anak tetap harus berangkat sekolah, dan orang sakit tak bisa menunda perjalanan hanya karena sungai sedang meluap.

Pembangunan jembatan ini dikerjakan secara gotong royong oleh personel Koramil 03/Idanogawo, Kodim 0213/Nias, Yon TP 906, dan Yonzipur 1/DD. Kolaborasi lintas satuan tersebut berhasil menyelesaikan pekerjaan sesuai target hingga kini jembatan sudah dapat digunakan masyarakat sebagai jalur penghubung yang lebih aman dan efektif.

Program ini merupakan bagian dari percepatan pembangunan infrastruktur di wilayah tertinggal yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto melalui Program Bakti TNI AD Untuk Rakyat. Setidaknya, pembangunan kali ini benar-benar bisa diinjak, bukan hanya dibahas dalam rapat.

Kapendam I/Bukit Barisan Kolonel Infanteri Sandy mengatakan, pembangunan jembatan merupakan bentuk kepedulian TNI AD dalam membantu mengatasi kesulitan masyarakat. Kehadiran jembatan diharapkan memperlancar mobilitas warga, mempercepat distribusi hasil pertanian, sekaligus memudahkan akses menuju sekolah, fasilitas kesehatan, dan pusat-pusat kegiatan ekonomi.

Pada akhirnya, pembangunan memang seharusnya seperti jembatan ini: menghubungkan, bukan memisahkan. Sebab masyarakat di pelosok tidak selalu meminta proyek yang megah. Mereka lebih membutuhkan infrastruktur yang benar-benar bisa dipakai setiap hari. Dan ketika sebuah jembatan mampu memangkas jarak sekaligus membuka peluang ekonomi, manfaatnya jauh lebih terasa daripada sekadar deretan angka dalam laporan pembangunan.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *