Lulusan Antropologi USU, Salman Suarakan Isu Perempuan dan Kesetaraan Gender di Lingkungan Kerja

Lulusan Antropologi USU, Salman Suarakan Isu Perempuan dan Kesetaraan Gender di Lingkungan Kerja

Laki-laki yang membicarakan isu kesetaraan gender, apalagi soal perempuan terdengar “tabu” saat ini. Namun, bagi Salman, yang menyaksikan sendiri betapa perempuan masih kerap mendapatkan objektifikasi, ia memegang prinsipnya untuk menyuarakan isu tersebut.

Salman Al Farici merupakan pemuda asal Rantau Parapat, yang kini telah resmi lulus dari Program Studi Antropologi Sosial di Universitas Sumatera Utara (USU). Perjalanannya untuk menyuarakan isu kesetaraan gender dimulai dari hal yang sederhana, yakni bergabung dalam proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) USU dengan topik Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 5, yakni Gender Equality (Kesetaraan Gender).

Perjalanannya berlanjut dengan tawaran untuk menjadi sukarelawan di United Nation Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women (UN Women) di Jakarta. Saat itu, UN Women membuka kesempatan untuk generasi muda agar menjadi Youth Advocate. Kesempatan tersebut berhubungan dengan kampanye anti kekerasan gender yang bertepatan pada Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, yang dinamakan dengan Kampanye 16for16.

Keikutsertaannya di UN Women masih berlanjut hingga saat ini. Awalnya, Salman mulai tergerak untuk menerapkan kesetaraan gender tersebut di lingkup yang saat itu dekat dengannya, yakni ruang kelas.

“Gerakan kecil yang aku lakukan adalah kalau dalam kelompok kuliah, itu minimal ada satu perempuan. Bahkan penelitian pun, aku mau dosen pembimbingnya ada perempuan. Sesimpel untuk menegaskan kalau perempuan itu ada,” tegasnya.

Saat menjalani kegiatan magang di sejumlah instansi, Salman semakin menyadari bahwa teman-teman perempuannya pun kerap mendapatkan objektifikasi dalam kehidupan sehari-hari. Saat itu, ia menyaksikan teman perempuannya menjadi objek seksualisasi di lingkungan magangnya. Kemudian, Salman turut menegur pelaku dengan mengatakan bahwa tindakan tersebut tidak sopan. Namun, kejadian serupa tidak hanya terjadi sekali saja.

“Bagiku, selain motivasi yang realistis untuk menambah uang saku, magang sendiri menjadi ruang untuk menerapkan nilai kesetaraan gender yang selama ini dipelajari,” ujarnya.

Kini, Salman sendiri telah mendapatkan pekerjaan tetap, dan hal tersebut pun masih ia temui. Salah satu kisahnya adalah bahwa masih ada teman perempuannya yang sulit menyalurkan kemampuan sesuai dengan bidang pekerjaannya karena anggapan bahwa perempuan tidak bisa kerja berat, tidak bisa pulang malam, dan hal-hal lainnya masih terasa. Oleh karena itulah, Salman terus konsisten menyuarakan perihal perempuan dan kesetaraan gender. Menurutnya, bukan soal membela laki-laki atau perempuan, tetapi memperjuangkan hak yang sama antara laki-laki dan perempuan di semua bidang.

“Laki-laki dan perempuan akan selalu hidup berdampingan. Untuk kemudian tidak saling mematahkan, itu yang ingin dikejar dari isu. Lalu, terdengar klise sekali, tetapi bagaimana kita dapat menghargai Tuhan dan diri kita sendiri kalau kita tidak menghargai sumber kehidupan itu sendiri, yaitu perempuan. Anak lahir dari perempuan, menyusui ke perempuan, terkadang ada Ibu yang rela banting tulang untuk perempuan,” tutupnya.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *