Perjalanan Ronny Mengembangkan Potensi melalui Kompetisi Ilmiah
MEDAN– Ronny, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sumatera Utara (USU), kembali meraih prestasi dalam kompetisi karya tulis ilmiah dengan meraih juara II LKTI INVASI Nasional FMIPA Universitas Udayana 2026. Pencapaian terbaru ini menambah track record-nya dalam kompetisi karya tulis ilmiah nasional dan internasional, yang telah ia tekuni sejak pertama kali mengikuti lomba karya tulis ilmiah pada 2024.
Perjalanan Ronny dalam dunia karya tulis ilmiah berawal dari ketertarikannya untuk mecoba hal baru. Sebelumnya, Ronny mengaku bahwa dia lebih menyukai debat dan tidak terlalu menyukai kegiatan menulis. Namun, ketika minatnya pada debat mulai berkurang dan meilhat juniornya mengikuti kompetisi karya tulis ilmiah, ia tertarik untuk mecoba hal yang serupa.
Pada 2024, ia mengikuti kompetisi Inovasi Sains Nasional di Universitas Nusa Cendana dan berhasil meraih Juara 2 melalui karya berjudul “TBC’S ZERO PRISON: IGMPT (Inovasi Gadget Multifungsi Pencegah Tuberkulosis) Pada Lembaga Pemasyarakatan Dengan Solar Tracker Berbasis Internet of Things (IOT)”
Meski langsung meraih juara pada kompetisi pertamanya, Ronny mengaku pada awalnya dia belum memiliki pemahaman yang kuat mengenai penulisan karya ilmiah. Ia mengatakan bahwa saat itu dia masih kebingungan menentukan struktur tulisan, memilih metode penelitian, hingga menyusun bagian hasil dan pembahasan.
“Waktu pertama kali saya ikut lomba, saya sama sekali nggak paham apa itu KTI. Saya bahkan di situ nol banget,” ungkap Ronny
Untuk mengatasi hal tersebut, Ronny mulai belajar secara mandiri. Ia mencari referensi, membaca jurnal, dan berusaha memahami struktur penulisan serta metode yang sesuai dengan tulisan yang dikembangkan. Proses tersebut tidak mudah, terutama ketika ia harus membaca banyak jurnal dalam waktu bersamaan. Menurutnya, kemampuan menyusun karya ilmiah membutuhkan waktu dan jam terbang agar pemahaman terhadap suata topik dapat dikembangkan secara lebih mendalam.
“Jadi saya memang mengeksplorasi sendiri, saya buat sendiri strukturnya, sehingga saya bisa paham,” lanjut Ronny.
Tujuan Ronny mengikuti lomba juga perlahan berubah seiring pengalaman. Jika pada awalnya ia hanya ingin memperoleh pengalaman, sekarang ia menetapkan target dan tujuan untuk menang. Baginya, mengikuti kompetisi berarti memberi usaha terbaik dalam proses penyusunan karya, bukan sekedar berpartisipasi.
“Awalnya goals-nya untuk menambah pengalaman aja. Tapi makin kesini itu, goals saya untuk juara,” ujarnya.
Keinginan untuk terus berkembang turut mendorong Ronny mengeksplorasi bidang di luar kesehatan masyarakat. Di awal, ia banyak mengembangkan karya seputar kesehatan dan teknologi kesehatan seperti, Internet of Thing (IoT) dan sensor. Mulai dari 2025, ia mulai mencoba bidang lain, seperti kimia, biologi, psikologi, hingga teknik.
Dalam memperlajari bidang yang belum dikuasai, Ronny menyesuaikan proses riset dengan sub tema dan ketentuan kompetisi. Ia mencari tahu persoalan yang ingin diangkat, menentukan kata kunci, kemudian medalami referensi yang relevan.
Di balik proses pengembangan tulisan, Ronny menekankan pentingnya kerja sama tim. Meskipun ia terbiasa mendalami riset secara mandiri, diskusi dan pembagian tugas tetap menjadi bagian penting dalam kompetisi yang dikerjakan bersama. Pengalaman berkolaborasi dengan mahasiswa dari bidang berbeda juga memberinya kesempatan untuk melihat bagimana keahlian yang berbeda dapat saling melengkapi dalam mengembangkan inovasi.
Bagi Ronny, kompetisi ilmiah merupakan proses untuk memperluas pengetahuan dan mengembangkan kemampuan. Dari pengalaman pertama yang penuh kebingungan, kekalahan berulang, hingga puluhan pencapaian di berbagai kompetisi, ia terus berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses belajar dan eksplorasi.(***)
Penulis: Rifka Febrian dari Hilo Publisher Prodi Ilmu Komunikasi USU






