Berawal dari Minat Fotografi, Daffa Rizky Hervindo Membangun Bisnis dari Nol

Berawal dari Minat Fotografi, Daffa Rizky Hervindo Membangun Bisnis dari Nol

Ruth Syahputri Situmorang

Medan – Ketertarikan pada fotografi dan videografi sejak bangku sekolah menjadi awal perjalanan Daffa Rizky Hervindo dalam dunia usaha. Mahasiswa Program Studi Kewirausahaan Universitas Sumatera Utara (USU) ini mulai melihat peluang bisnis dari hal yang disukainya.

Dari sana, ia membangun Cekrekbox, layanan photobooth untuk berbagai acara, yang menjadi salah satu langkah awalnya sebagai pengusaha muda.

Minat tersebut sudah tumbuh sejak Daffa duduk di bangku SMP dan SMA. Ia menyukai fotografi, pembuatan video, hingga proses penyuntingan. Namun, saat itu ia belum memiliki peralatan yang memadai. Keinginan untuk memiliki kamera yang lebih baik membuatnya mulai menabung sejak masa pandemi COVID-19.

Saat memasuki bangku kuliah, Daffa mulai memikirkan cara agar ketertarikannya tersebut dapat menghasilkan sesuatu. Ia kemudian melihat peluang bisnis photobooth dan mulai menyiapkan Cekrekbox pada 2023.

Dengan menggunakan tabungan pribadi, ia membeli berbagai peralatan yang dibutuhkan, mulai dari kamera hingga perlengkapan pencahayaan. Modal yang terbatas membuatnya harus menyesuaikan konsep dan memanfaatkan peralatan yang tersedia.

Pada awal menjalankan bisnisnya, Daffa belajar secara otodidak. Ia mempelajari fotografi, pencahayaan, perangkat komputer, hingga perangkat lunak untuk menjalankan layanan photobooth. Kesempatan membuka layanan pada sebuah acara kampus menjadi langkah awal Cekrekbox beroperasi.

Dari pengalaman tersebut, ia mulai memahami bahwa membangun bisnis tidak cukup hanya dengan memiliki ide, tetapi juga membutuhkan persiapan dan keberanian untuk menjalankannya.

Daffa mengaku tidak ingin mengambil keputusan usaha hanya berdasarkan keinginan sesaat. Ia mempertimbangkan kemampuan dan kondisi sebelum memulai sesuatu.

“Aku optimis dan realistis sih, enggak pesimis. Aku jarang pesimis tapi realistis mungkin,” ungkapnya dalam wawancara.

Baginya, optimisme tetap perlu disertai pertimbangan agar keputusan yang diambil sesuai dengan kemampuan.
Seiring berjalannya waktu, tantangan yang dihadapi Daffa tidak lagi terbatas pada pengadaan peralatan.

Ia juga harus memikirkan pengelolaan tim, pembagian tugas, pemasukan, pengeluaran, serta strategi pemasaran. Ia menyadari bahwa setiap orang yang direkrut harus memiliki peran yang jelas agar pekerjaan berjalan efektif dan biaya operasional dapat dikelola dengan baik.

Dalam mengembangkan Cekrekbox, Daffa memilih untuk tetap berfokus pada kualitas layanan dan kebutuhan pelanggan. Ia tidak ingin terlalu jauh mengikuti tren apabila hal tersebut justru membuat bisnisnya kehilangan arah.

“Jadi gimana cara survive itu, aku tetap the basic aja,” jelasnya. Prinsip tersebut menunjukkan pilihannya untuk mempertahankan konsep dasar bisnis yang dinilai masih memiliki pasar.

Selain Cekrekbox, Daffa juga menjalankan usaha penyewaan PlayStation bernama Mentabox. Usaha tersebut menyediakan layanan bermain di tempat maupun penyewaan dengan pengantaran ke lokasi pelanggan.

Ia juga pernah menjalankan usaha warung kopi dan sedang merencanakan perubahan konsep menjadi kafe bersama ibunya. Berbagai pengalaman itu memberinya gambaran bahwa setiap jenis usaha memiliki tantangan dan proses pengelolaan yang berbeda.

Perjalanan Daffa turut diwarnai pengalaman mengikuti kompetisi kewirausahaan. Bersama timnya, ia meraih juara ketiga dalam ajang Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Expo. Pencapaian tersebut menjadi pengalaman berkesan karena ia harus meyakinkan anggota tim untuk terus menjalankan bisnis sekaligus mengikuti perlombaan.

Kini, Daffa juga dipercaya menjadi Ketua HIPMI Perguruan Tinggi Sumatera Utara. Meski memiliki tanggung jawab dalam organisasi, pengalaman membangun bisnis tetap menjadi bagian penting dari perjalanannya. Ia terus belajar mengelola usaha, menghadapi tantangan, dan melihat peluang dari berbagai pengalaman.

Bagi Daffa, membangun bisnis merupakan proses yang membutuhkan persiapan dan kemauan untuk belajar. Berawal dari minat pada fotografi, ia menemukan peluang yang kemudian berkembang menjadi usaha.

Perjalanannya menunjukkan bahwa sebuah bisnis tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar, tetapi dapat tumbuh dari ketertarikan yang ditekuni dan keberanian untuk mencoba.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *