Delegasi Malaysia-Thailand Diajak Menikmati Sumut: Jangan Pulang Cuma Bawa Dokumen Rapat
DELISERDANG — Datang ke Sumatera Utara untuk menghadiri rapat internasional tentu sah-sah saja. Tetapi kalau sudah sampai Sumut lalu hanya melihat ruang meeting, rasanya seperti datang ke rumah orang hanya untuk membaca notulen. Karena itu, Pemprov Sumut ikut memperkenalkan wisata dan kuliner daerah kepada delegasi Malaysia dan Thailand yang hadir dalam 32nd Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) Ministerial Meeting and Related Meetings, 7–10 September 2026.
Delegasi Malaysia disambut Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sumut Basarin Yunus Tanjung bersama Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekdaprov Sumut Ardan Noor Hasibuan di CIP/VIP Lounge Bandara Internasional Kualanamu, Deliserdang, Senin (7/9/2026).
Dalam penyambutan tersebut, Basarin memberikan informasi mengenai kondisi terkini Indonesia dan Sumut, termasuk aktivitas sejumlah gunung api yang sedang mengalami erupsi. Salah satunya Gunung Sinabung. Informasi ini penting, supaya wisatawan tahu mana gunung yang cukup dilihat dari jauh dan mana yang sebaiknya jangan dijadikan tempat selfie.
Tak berhenti pada informasi kebencanaan, Basarin langsung menawarkan sejumlah destinasi wisata kepada para delegasi, khususnya untuk city tour di Kota Medan. Ada Istana Maimon, Rumah Tjong A Fie, Masjid Raya, Museum Rahmadsyah, hingga kawasan Kesawan yang dikenal sebagai kota lama Medan.
“Untuk city tour, bisa mengunjungi Istana Maimon, Rumah Tjong A Fie, Masjid Raya, dan Museum Rahmadsyah. Atau bisa juga menikmati suasana kota lama yang disebut Kesawan,” ujar Basarin.
Basarin juga memperkenalkan Tjong A Fie, pengusaha sukses, bankir, filantropis, sekaligus Kapitan Tionghoa asal Guangdong, Tiongkok. Sosok tersebut disebut memiliki peran besar dalam perkembangan ekonomi Kota Medan sekaligus menjaga kerukunan dan keberagaman budaya.
Pesan tersiratnya cukup jelas: Medan bukan hanya kota tempat orang datang untuk rapat dan mencari oleh-oleh. Di balik kemacetan, bangunan tua, dan hiruk-pikuk kota, ada sejarah panjang yang bisa dijual sebagai pengalaman wisata.
Kalau waktu memungkinkan, para peserta IMT-GT juga ditawarkan mengunjungi dua destinasi andalan Sumut lainnya: Danau Toba dan Berastagi. Dua nama yang sebenarnya tidak membutuhkan terlalu banyak promosi, tetapi tetap perlu terus dikenalkan kepada wisatawan mancanegara.
Sebab, agak sayang kalau sudah terbang jauh-jauh ke Sumut, tetapi pengalaman yang dibawa pulang hanya foto bersama pejabat dan tumpukan bahan rapat. Apalagi Danau Toba bukan sekadar latar belakang foto, melainkan salah satu ikon pariwisata terbesar Sumatera Utara.
Tak hanya pemandangan, Pemprov Sumut juga mencoba “menyerang” lewat jalur yang biasanya lebih sulit ditolak: makanan. Para delegasi disuguhi sejumlah kue tradisional, seperti wajik, lemper, puding, hingga jambu biji.
Suguhan tersebut mendapat sambutan positif, salah satunya dari Chief Minister of Perlis Abu Bakar bin Hamzah. Ia bahkan menemukan kemiripan sejumlah makanan tersebut dengan kuliner tradisional Malaysia, meskipun penyebutannya berbeda.
Abu Bakar juga menyatakan keinginannya mengunjungi Danau Toba. “Rasanya tak lengkap kalau sudah sampai ke Sumut tak ke Danau Toba. Plan lainnya, bisa juga ke Berastagi,” ujarnya.
Bersama Perlis State Secretary Dato’ Noor Azman bin Abdul Rahman dan rombongan, Abu Bakar menyampaikan apresiasi atas sambutan Pemprov Sumut. Menurutnya, Sumut merupakan salah satu destinasi wisata yang banyak dikunjungi masyarakat Malaysia.
Sementara itu, delegasi Thailand disambut Ardan Noor Hasibuan bersama sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah Sumut. Kedatangan mereka juga diramaikan penampilan pakaian khas daerah Sumut, sebuah cara sederhana untuk mengingatkan bahwa Sumut memiliki kekayaan budaya yang tidak kalah menarik dari agenda diplomasi di ruang rapat.
Para delegasi Malaysia dan Thailand berada di Sumut untuk mengikuti rangkaian IMT-GT, forum kerja sama ekonomi subregional yang dibentuk pada 1993 untuk mempercepat transformasi ekonomi, integrasi, dan konektivitas Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
IMT-GT sendiri diresmikan oleh para pemimpin ketiga negara saat itu, yakni Presiden RI Soeharto, Perdana Menteri Malaysia Tun Dr. Mahathir Mohamad, dan Perdana Menteri Thailand Chuan Leekpai. Kini, puluhan tahun kemudian, kerja sama tersebut kembali menjadi panggung pertemuan para pejabat kawasan.
Namun bagi Sumut, pertemuan ini idealnya tidak berhenti pada meja konferensi, foto bersama, dan dokumen kerja sama. Kalau para delegasi pulang membawa kesan tentang Danau Toba, sejarah Medan, keramahan masyarakat, dan rasa kuliner Sumut, maka diplomasi ekonomi telah menemukan bentuknya yang paling sederhana: orang datang untuk rapat, tetapi pulang membawa alasan untuk kembali.(***)






