Gang Garista Akhirnya Dirabat Beton, Warga Lega, Pemko Medan Jangan Cepat Puas

Gang Garista Akhirnya Dirabat Beton, Warga Lega, Pemko Medan Jangan Cepat Puas

MEDAN — Kabar baik datang dari Jalan Bunga Kemuning, Gang Garista, Lingkungan II, Kelurahan Ladang Bambu, Kecamatan Medan Tuntungan. Jalan yang selama bertahun-tahun masih berupa tanah kini telah berubah menjadi jalan rabat beton.

Jalan sepanjang 85 meter dengan lebar 3 meter tersebut dibangun melalui Dana Kelurahan Tahun Anggaran 2026 dalam program Pembangunan Sarana dan Prasarana Kelurahan.

Bagi warga, perubahan ini tentu layak disyukuri. Jika sebelumnya musim kemarau menghadirkan debu dan hujan menghadirkan lumpur, kini warga dapat menikmati akses jalan yang lebih rata, bersih dan nyaman.

Pembangunan itu disebut sebagai bagian dari realisasi program prioritas Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas bersama Wakil Wali Kota H. Zakiyuddin Harahap untuk mempercepat pembenahan infrastruktur hingga ke permukiman warga.

Lurah Ladang Bambu Zugur Purba mengatakan pembangunan rabat beton tersebut merupakan bentuk komitmen Pemko Medan dalam menjawab aspirasi masyarakat sekaligus meningkatkan keamanan dan kenyamanan mobilitas warga.

Namun di balik jalan yang kini mulus, ada satu pertanyaan sederhana yang layak diajukan: mengapa warga harus menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan akses jalan yang layak?

Pertanyaan tersebut bukan berarti mengurangi apresiasi terhadap pembangunan. Justru pemerintah perlu menjadikannya bahan evaluasi agar persoalan infrastruktur serupa tidak terus berulang di lingkungan lain.

Sebab ukuran keberhasilan pembangunan tidak semata-mata dihitung dari berapa meter beton yang sudah dicor. Yang lebih penting adalah seberapa luas manfaat pembangunan tersebut dirasakan masyarakat.

Kalau satu gang sudah mulus sementara gang lain masih berkawan dengan tanah, lubang, lumpur dan genangan, pekerjaan rumah Pemko Medan tentu belum selesai.

Apalagi pembangunan ini menggunakan Dana Kelurahan. Masyarakat tentu berhak mengetahui proses penggunaannya secara terbuka, mulai dari nilai anggaran, pelaksana, spesifikasi teknis hingga pengawasan dan kualitas hasil pekerjaan.

Beton memang keras, tetapi pertanggungjawaban penggunaan uang publik seharusnya lebih keras lagi. Transparansi penting agar pembangunan tidak berhenti pada foto peresmian dan ucapan terima kasih.

Pemko Medan juga perlu memperhatikan persoalan drainase. Jangan sampai jalan sudah mulus, tetapi ketika hujan turun, air justru tidak memiliki saluran yang memadai dan akhirnya menggerus atau menggenangi jalan.

Karena itu, pembenahan infrastruktur permukiman sebaiknya tidak hanya berorientasi pada jalan. Drainase, penerangan, sanitasi dan akses lingkungan perlu dipandang sebagai satu kesatuan.

Apresiasi warga Gang Garista kepada Wali Kota Rico Waas dan Wakil Wali Kota Zakiyuddin tentu patut dihargai. Tetapi ucapan terima kasih tersebut jangan dijadikan alasan bagi pemerintah untuk cepat berpuas diri.

Gang Garista kini sudah mulus. Tantangan berikutnya adalah memastikan jalan tersebut tetap berkualitas dan bertahan lama, sekaligus mempercepat pembenahan gang-gang lain yang masih menunggu giliran. Sebab pembangunan yang baik bukan hanya terlihat bagus ketika selesai, tetapi tetap dirasakan manfaatnya setelah kamera dan pemberitaan berhenti menyorot.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *