Horas! Anak Medan Menggema di Indonesia Fashion Week, Membuktikan Kreativitas Tak Kenal Musim

Horas! Anak Medan Menggema di Indonesia Fashion Week, Membuktikan Kreativitas Tak Kenal Musim

JAKARTA – Panggung Indonesia Fashion Week kembali menjadi ruang unjuk kreativitas para desainer Tanah Air. Di tengah deretan koleksi dari berbagai daerah, Kota Medan datang membawa sesuatu yang berbeda. Bukan sekadar kain dan potongan busana, tetapi juga cerita tentang bagaimana identitas lokal bisa tampil modern tanpa kehilangan akar budayanya.

Ketua Dekranasda Kota Medan, Ny. Airin Rico Waas, menggandeng empat desainer muda berbakat, yakni Riki Damanik, Harry Hasibuan, Dita Mayenda, dan Ayu Andira, menghadirkan koleksi bertema Four Seasons atau Empat Musim.

Tema ini terbilang berani. Maklum, Indonesia hanya mengenal musim hujan dan kemarau. Namun, justru di situlah tantangannya. Empat musim diterjemahkan ke dalam karya yang memadukan estetika dunia dengan sentuhan budaya Medan, tanpa kehilangan identitas lokal yang menjadi ruh setiap rancangan.

“Kreativitas itu tidak mengenal batas. Justru di sanalah letak tantangan utamanya, bagaimana kita mengolah estetika dan filosofi empat musim tanpa melupakan sentuhan budaya serta kearifan lokal yang menjadi identitas utama Kota Medan,” ujar Airin Rico Waas.

Pesan itu seolah menjadi jawaban bahwa dunia mode tidak pernah dibatasi letak geografis. Selama ide terus bergerak, musim apa pun bisa hadir di atas catwalk—bahkan dari kota yang mataharinya lebih akrab daripada salju.

Namun, kejutan Kota Medan tidak berhenti di ujung gaun dan detail kain.

Saat peragaan berlangsung, suasana berubah semakin hangat ketika lagu Anak Medan menggema memenuhi ruangan. Alunan musik yang akrab di telinga itu langsung membangun suasana, menghidupkan panggung yang semula hanya dipenuhi langkah para model menjadi pertunjukan yang penuh energi.

Penampilan Jacky Sembiring bersama Voice Off Indonesia semakin melengkapi atmosfer. Tepuk tangan dan sorak penonton pecah mengikuti irama, membuktikan bahwa sebuah peragaan busana tak hanya memanjakan mata, tetapi juga mampu menyentuh emosi melalui musik dan identitas daerah.

Di tengah derasnya tren mode global yang sering membuat semua tampak seragam, Medan justru memilih jalan berbeda. Membawa budaya sendiri, mengemasnya secara modern, lalu memperkenalkannya dengan percaya diri di panggung nasional. Barangkali memang seperti itu seharusnya dunia fashion bekerja: bukan berlomba menjadi sama, melainkan berani tampil berbeda.

Partisipasi Dekranasda Kota Medan di Indonesia Fashion Week pun menjadi lebih dari sekadar agenda peragaan busana. Ini adalah panggung pembuktian bahwa karya anak daerah mampu bersaing, berinovasi, dan berdiri sejajar dengan karya-karya terbaik lainnya, sekaligus membawa nama Medan semakin dikenal di industri mode Indonesia.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *