India-Sumatra Business Forum 2026 Buka Peluang Ekspor UMKM, Pasar Digital Tak Lagi Sekadar Pajangan

India-Sumatra Business Forum 2026 Buka Peluang Ekspor UMKM, Pasar Digital Tak Lagi Sekadar Pajangan

MEDAN – Peluang UMKM Sumatera Utara menembus pasar internasional kembali dibuka melalui India-Sumatra Business Forum 2026 yang digelar di Hotel Aryaduta Medan, Kamis (8/10/2026). Forum ini menawarkan tiga hal penting bagi pelaku usaha: akses perdagangan India, jaringan digital terbuka, dan dukungan pembiayaan untuk transaksi lintas negara.

Kegiatan yang diselenggarakan Konsulat Jenderal India di Medan bersama Junior Chamber International (JCI), Indonesia Open Network (ION), dan State Bank of India (SBI) Indonesia tersebut mengusung tema “Opening New Digital Opportunities: Unlocking Export-Import Opportunities for MSMEs in the Digital Marketplace”.

Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, mengapresiasi penyelenggaraan forum yang dinilainya menjadi ruang untuk memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dan India, khususnya di Sumatera Utara.

Menurut Rico, perkembangan ekonomi digital membuka peluang lebih besar bagi pelaku usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Pemerintah Kota Medan, kata dia, mendukung penguatan kerja sama ekonomi dan siap bersinergi dengan Konsulat Jenderal India, dunia usaha, komunitas, serta berbagai pemangku kepentingan.

Dalam pantun pembukanya, Rico menyampaikan, “Medan dan India, bergandengan tangan, membuka peluang ekonomi untuk masa depan.”

Pantun itu terdengar sederhana. Namun, pekerjaan sesungguhnya tentu lebih panjang daripada merangkai kata: bagaimana peluang yang dibicarakan di forum benar-benar berubah menjadi pesanan, transaksi, dan peningkatan pendapatan bagi UMKM.

India Bukan Pasar Kecil, Sumut Punya Modal Perdagangan

Konsul Jenderal India di Medan, Ravi Shanker Goel, memaparkan besarnya peran UMKM dalam perekonomian India. Negara tersebut memiliki sekitar 63 juta UMKM yang menyerap kurang lebih 111 juta tenaga kerja, menyumbang 28,77 persen produk domestik bruto, serta berkontribusi 45 persen terhadap ekspor.

Indonesia juga tercatat sebagai mitra dagang terbesar kedua India di kawasan ASEAN. Hubungan perdagangan kedua negara yang terus berkembang dinilai membuka ruang bagi pelaku usaha Sumatera Utara untuk memperluas pasar.

Data perdagangan India dengan sepuluh provinsi di Sumatera menunjukkan Riau berada di posisi teratas dengan nilai sekitar US$2,05 miliar. Berikutnya Sumatera Utara sebesar US$1,10 miliar dan Kepulauan Riau sekitar US$1,05 miliar.

Khusus Sumatera Utara, nilai ekspor ke India mencapai sekitar US$865 juta, sementara impor dari India sekitar US$239 juta. Data yang dipaparkan menunjukkan ekspor Sumatera ke India melampaui impornya di seluruh provinsi yang dibahas.

Angka tersebut memberi gambaran bahwa hubungan dagang dengan India bukan sekadar peluang di atas kertas. Sumatera Utara sudah memiliki aktivitas perdagangan yang dapat dikembangkan lebih jauh.

Tantangannya, bagaimana pelaku UMKM ikut masuk ke dalam arus perdagangan itu. Sebab, besarnya nilai ekspor daerah belum otomatis berarti seluruh pelaku usaha kecil telah menikmati manfaatnya.

UMKM Tak Cukup Hanya Punya Akun Daring

Pada sesi pertama, Head of Operation Indonesia Open Network, Tutus Kusuma, menjelaskan bahwa perkembangan ekonomi digital Indonesia menyediakan peluang besar bagi pelaku usaha.

Ia memaparkan, sekitar 212 juta penduduk Indonesia aktif menggunakan internet, lebih dari 80 persen pengguna internet pernah berbelanja secara daring, dan nilai ekonomi digital Indonesia mencapai US$82 miliar pada 2024.

Namun, persoalan UMKM saat ini bukan lagi semata-mata bagaimana hadir di internet. Tantangan berikutnya adalah bagaimana mereka terhubung dengan ekosistem bisnis yang lebih luas, mulai dari pelanggan, pembayaran, logistik, pembiayaan hingga pasar regional dan global.

ION diperkenalkan sebagai jaringan yang menghubungkan berbagai ekosistem tersebut tanpa menggantikan aplikasi maupun cara berbisnis yang sudah digunakan pelaku usaha.

Dengan pendekatan itu, UMKM diharapkan dapat memperluas jangkauan tanpa harus membangun seluruh infrastruktur digital sendiri.

Sebab, memiliki akun media sosial atau toko daring memang bisa menjadi langkah awal. Tetapi, jika pesanan sulit dijangkau, pembayaran tidak praktis, dan pengiriman tidak efisien, kehadiran digital berisiko hanya menjadi etalase yang ramai dilihat tetapi belum tentu menghasilkan penjualan.

Dari Bergabung hingga Bertumbuh

Head of Product and Ecosystem ION, Santosh Adsul, memaparkan empat tahap bagi UMKM untuk bergabung dengan jaringan terbuka, yakni bergabung, menyiapkan bisnis, beroperasi, dan bertumbuh.

Melalui ilustrasi pelaku usaha kopi bernama Bu Sari dari Sumatera Utara, peserta diperlihatkan bagaimana UMKM dapat masuk ke jaringan melalui aplikasi penjual yang telah digunakan.

ION, menurut pemaparan tersebut, tidak memiliki penjual maupun pelanggan, tidak mengatur tampilan aplikasi pembeli, serta tidak menahan dana pelanggan. Penyelesaian pembayaran dilakukan oleh penyedia jasa pembayaran.

Model ini diharapkan membantu pelaku usaha memperluas koneksi tanpa kehilangan kendali atas bisnisnya sendiri.

Meski demikian, penerapan di lapangan tetap membutuhkan kesiapan UMKM, mulai dari kualitas produk, kapasitas memenuhi pesanan, konsistensi pelayanan, hingga pemahaman terhadap ketentuan perdagangan lintas negara.

Teknologi dapat membuka pintu pasar, tetapi menjaga pelanggan agar kembali membeli tetap menjadi pekerjaan pelaku usaha.

SBI Tawarkan Pembiayaan hingga Rp10 Miliar

Persoalan lain yang kerap membatasi ekspansi UMKM adalah modal. Peluang pasar bisa terbuka, tetapi kemampuan memenuhi pesanan tetap bergantung pada kesiapan produksi dan arus kas.

Dalam sesi pembiayaan, Raden Novi Nugroho dari State Bank of India Indonesia memaparkan sejumlah layanan yang dapat dimanfaatkan dunia usaha, mulai dari kredit modal kerja dan kredit investasi dengan limit Rp100 juta hingga Rp10 miliar, kredit back to back, hingga pembiayaan perdagangan.

Layanan tersebut mencakup letter of credit, bank garansi, dan documentary collection. SBI Indonesia juga menyediakan layanan remitansi ke sekitar 120 mata uang.

Untuk mendukung layanan tersebut, SBI Indonesia memiliki jaringan kantor di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Medan.

Fasilitas itu berpotensi membantu perusahaan maupun pelaku usaha yang memenuhi persyaratan bank dalam menjalankan transaksi perdagangan. Namun, ketersediaan fasilitas pembiayaan tidak berarti setiap UMKM otomatis memperoleh kredit. Kelayakan usaha, dokumen, risiko, dan persyaratan perbankan tetap menjadi bagian dari proses penilaian.

Peluang Terbuka, UMKM Perlu Akses Nyata

India-Sumatra Business Forum 2026 menyatukan tiga unsur yang saling berkaitan: informasi pasar, konektivitas digital, dan dukungan pembiayaan.

Bagi Sumatera Utara, data perdagangan dengan India menunjukkan adanya pasar yang sudah terbentuk. Jaringan digital menawarkan jalur untuk memperluas jangkauan, sedangkan layanan perbankan menyediakan pilihan untuk mendukung kebutuhan transaksi dan pengembangan usaha.

Kini, tantangan berikutnya adalah memastikan informasi dan jejaring yang dibangun dalam forum tidak berhenti sebagai bahan presentasi.

UMKM membutuhkan akses yang mudah dipahami, pendampingan yang sesuai kebutuhan, mitra dagang yang dapat diverifikasi, serta pembiayaan yang realistis bagi kemampuan usaha mereka.

Sebab, dalam perdagangan internasional, peluang memang penting. Tetapi bagi UMKM, peluang baru benar-benar bernilai ketika berujung pada transaksi yang sehat, pasar yang berkelanjutan, dan pendapatan yang ikut bertumbuh.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *