Indian Film Festival 2026 di Medan: Saat Film dan Bahasa Ikut Berdiplomasi
MEDAN — Kalau diplomasi biasanya identik dengan meja perundingan, jas resmi, dan bahasa yang kadang terdengar kaku, Konsulat Jenderal India di Medan memilih cara yang jauh lebih santai: membawa film ke layar lebar.
Lewat Indian Film Festival 2026, Konsulat Jenderal India di Medan bersama Indonesia Youth Diplomacy (IYD) mengajak mahasiswa, dosen, generasi muda dan Friends of India menikmati sinema sekaligus membicarakan satu persoalan yang sering dianggap sepele, tetapi ternyata bisa menjadi tembok tinggi: bahasa.
Kegiatan digelar di Maple Theater, Grand City Hall Medan, Rabu (7/10/2026). Hadir dalam kegiatan tersebut mahasiswa dan dosen Universitas Katolik Santo Thomas, organisasi kepemudaan serta masyarakat umum.
Pesannya cukup sederhana. Berbeda bahasa tidak harus berarti berbeda dunia. Sebab kalau komunikasi saja sudah menyerah sebelum dimulai, bagaimana mau membangun hubungan antarbudaya?
Festival menampilkan film India yang mendapat apresiasi luas, English Vinglish. Film tersebut mengangkat kisah keluarga, kepercayaan diri, identitas, serta pergulatan seseorang menghadapi keterbatasan bahasa dan perbedaan budaya.
Menariknya, film ini tidak sekadar bercerita soal belajar bahasa. Ada pesan yang lebih dalam: belajar tidak mengenal usia dan kepercayaan diri tidak semestinya ditentukan oleh seberapa fasih seseorang mengucapkan bahasa asing.
Dengan kata lain, tidak ada istilah “terlambat belajar”. Yang ada mungkin hanya terlalu lama merasa minder.
Konsul Jenderal India di Medan, Ravi Shanker Goel, mengajak para mahasiswa dan peserta mengambil inspirasi dari film yang ditayangkan.
Menurutnya, proses belajar merupakan perjalanan sepanjang hayat. Bahasa, kata dia, dapat menjadi jembatan kuat untuk menghubungkan individu, budaya dan masyarakat.
Ia juga berharap para mahasiswa terus belajar, mengenal budaya baru serta memanfaatkan kemampuan bahasa untuk memahami dan membangun hubungan yang lebih erat dengan orang lain.
Pesan itu terasa relevan di tengah dunia yang semakin terkoneksi. Sebab hari ini orang bisa berkomunikasi dengan siapa saja dari berbagai negara hanya melalui telepon genggam. Namun, kemampuan memahami orang lain tetap tidak otomatis ikut ter-download bersama aplikasi.
Bahasa Bukan Sekadar Kosakata
Selain pemutaran film, Indian Film Festival 2026 menghadirkan talk show bertajuk “Finding Her Voice: How Language Breaks Cultural Barriers and Stereotypes.”
Diskusi menghadirkan tiga pembicara, yakni Elnoviamy, Founder of The Language Access; Melly Christin, Co-Founder of SHEraya Indonesia; dan Sares Wari, Chair of IYD North Sumatera.
Ketiganya berbagi pengalaman dan perspektif mengenai bagaimana bahasa dapat menjadi instrumen pemberdayaan, khususnya bagi perempuan dan generasi muda.
Diskusi tidak berhenti pada persoalan apakah seseorang mampu berbicara bahasa Inggris, India, Indonesia atau bahasa lainnya. Lebih jauh, bahasa dipandang sebagai alat untuk membangun keberanian, membuka akses, memperluas pemahaman dan melawan stereotip.
Sebab stereotip sering kali lahir dari ketidaktahuan. Ketika seseorang tidak mengenal budaya lain, maka yang muncul bisa saja hanya prasangka, asumsi atau penilaian berdasarkan cerita yang belum tentu benar.
Di sinilah bahasa mengambil peran penting.
Bahasa memungkinkan seseorang bertanya, mendengar, memahami dan akhirnya mengenal orang lain secara lebih manusiawi. Jadi, bahasa bukan cuma urusan tata bahasa, vocabulary dan nilai ujian. Ia juga bisa menjadi pintu masuk untuk memahami dunia yang lebih luas.
Film Jadi Diplomasi yang Tidak Bikin Tegang
Indian Film Festival 2026 sekaligus memperlihatkan bahwa sinema dapat menjadi instrumen diplomasi budaya yang efektif.
Film mampu membawa penonton masuk ke dalam kehidupan masyarakat lain tanpa harus terlebih dahulu membaca buku sejarah setebal bantal.
Melalui cerita, karakter dan pengalaman manusia yang ditampilkan di layar, penonton dapat mengenal perspektif, kebiasaan, nilai dan persoalan yang mungkin berbeda dari kehidupan mereka sendiri.
Karena itu, film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Ia juga dapat menjadi ruang perjumpaan budaya.
Dalam konteks hubungan India dan Indonesia, pendekatan semacam ini menjadi penting. Hubungan antarnegara tidak hanya dibangun oleh pemerintah dan pejabat diplomatik, tetapi juga oleh masyarakat, mahasiswa, akademisi dan generasi muda.
Mereka adalah wajah diplomasi yang sesungguhnya ketika berada di ruang publik.
Kolaborasi antara Konsulat Jenderal India di Medan, IYD dan Universitas Katolik Santo Thomas menjadi salah satu contoh bagaimana pertukaran budaya dapat dikemas secara lebih dekat dengan generasi muda.
Tidak harus selalu dalam forum resmi yang penuh podium. Kadang cukup dengan film, diskusi dan kesempatan untuk saling mendengar.
Generasi Muda dan Diplomasi Masa Depan
Konsulat Jenderal India di Medan menyampaikan apresiasi kepada Indonesia Youth Diplomacy dan Universitas Katolik Santo Thomas atas kolaborasi serta partisipasinya dalam festival tersebut.
Kegiatan seperti Indian Film Festival dinilai turut memperkuat hubungan antarmasyarakat India dan Indonesia sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk terlibat dalam pertukaran budaya dan pendidikan.
Festival pun ditutup dalam suasana apresiasi, refleksi dan dialog.
Pesannya barangkali sederhana, tetapi penting: perbedaan budaya tidak harus menjadi tembok. Bahasa dapat menjadi jembatan, film dapat menjadi pintu, dan generasi muda adalah mereka yang nantinya menentukan apakah jembatan itu benar-benar digunakan atau hanya bagus untuk difoto.
Indian Film Festival 2026 di Medan akhirnya bukan sekadar agenda menonton film India. Ia menjadi pengingat bahwa diplomasi tidak selalu harus berbicara dengan bahasa yang rumit.
Kadang, diplomasi cukup dimulai dari satu film, satu percakapan dan keberanian untuk mengatakan, “Saya ingin mengenal budaya Anda.”
Dan dari situlah persahabatan dua bangsa bisa tumbuh—pelan-pelan, tetapi nyata.(***)






