Kongres XXXIII HMI Harus Menjadi Momentum Menyatukan Organisasi

Jakarta, 10 September 2026 – Menjelang Kongres XXXIII Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) 2026, dinamika kontestasi kepemimpinan organisasi mulai mengemuka. Namun, momentum kongres dinilai tidak semestinya hanya dipandang sebagai arena perebutan suara dan posisi Ketua Umum PB HMI.

M. Isnen Harahap melalui tulisannya berjudul “Membangun Kepercayaan, Menyatukan HMI” menilai Kongres XXXIII HMI harus menjadi momentum untuk mempertemukan gagasan, rekam jejak, pengalaman, serta harapan kader mengenai arah masa depan organisasi.

Menurut Isnen, dalam sebuah kontestasi organisasi, popularitas hanya menjadi modal awal. Seorang kandidat tidak cukup hanya dikenal, tetapi harus mampu membangun penerimaan, kepercayaan, dukungan, hingga konsolidasi di tingkat kader dan Cabang.

Tahapan tersebut dapat dirangkum dalam lima proses, yakni dikenal, diterima, dipercaya, didukung, dan dikonsolidasikan.

“Kepercayaan tidak lahir secara instan. Ia dibangun melalui rekam jejak, konsistensi, kontribusi, dan kemampuan seorang kandidat dalam menjawab persoalan organisasi,” demikian gagasan yang disampaikan Isnen dalam tulisannya.

Isnen juga menilai kandidat Ketua Umum PB HMI perlu menawarkan gagasan yang konkret mengenai masa depan organisasi. Kontestasi tidak boleh berhenti pada perebutan dukungan, tetapi harus diisi dengan pembahasan mengenai kaderisasi, penguatan Cabang dan Komisariat, tradisi intelektual, kemandirian ekonomi kader, serta tata kelola organisasi.

Menurutnya, kaderisasi harus tetap menjadi jantung HMI. Tradisi membaca, menulis, berdiskusi, melakukan riset, dan melahirkan gagasan perlu diperkuat agar HMI tetap memiliki posisi strategis dalam menjawab berbagai persoalan kebangsaan.

Di sisi lain, hubungan antara PB HMI dengan Cabang dan Komisariat juga perlu diperkuat. PB HMI harus hadir bukan hanya ketika membutuhkan dukungan politik, tetapi juga ketika kader dan Cabang membutuhkan penguatan organisasi.

Isnen menekankan pentingnya kemampuan kandidat untuk mendengar persoalan Cabang sebelum berbicara atas nama Cabang. Menurutnya, gagasan kepemimpinan nasional seharusnya berangkat dari kebutuhan nyata kader di berbagai daerah. Ia juga mengingatkan agar kompetisi menjelang Kongres tidak berubah menjadi permusuhan antarkader.

“Kompetitor bukan musuh,” menjadi salah satu prinsip penting yang perlu dijaga dalam kontestasi. Perbedaan pilihan harus ditempatkan sebagai bagian dari dinamika demokrasi organisasi, bukan alasan untuk memutus silaturahmi.

Selain gagasan dan konsolidasi, kandidat Ketua Umum PB HMI juga dinilai perlu memiliki agenda kerja yang jelas setelah memperoleh mandat. Agenda 100 hari, misalnya, dapat menjadi instrumen untuk menunjukkan keseriusan kepemimpinan dalam memperkuat kaderisasi, membangun komunikasi dengan Cabang, mengembangkan tradisi intelektual, serta melakukan pembenahan tata kelola organisasi.

Isnen juga mengingatkan pentingnya menjaga etika selama proses menuju Kongres. Kompetisi tidak semestinya diwarnai politik uang, tekanan terhadap Cabang, fitnah, penyebaran informasi yang tidak terverifikasi, maupun serangan personal. Menurutnya, Kongres memang memiliki batas waktu, tetapi HMI harus terus berjalan setelah seluruh proses kompetisi selesai.

Karena itu, setelah Kongres tidak semestinya ada pembelahan antara kelompok pemenang dan kelompok yang kalah. Seluruh kader tetap harus mendapatkan ruang untuk berkontribusi dalam organisasi.

Pada akhirnya, keberhasilan seorang Ketua Umum PB HMI tidak hanya diukur dari kemampuannya memenangkan Kongres, tetapi juga dari kemampuannya menjaga marwah organisasi, membangun kepercayaan kader, dan menyatukan seluruh kekuatan HMI.

Kongres boleh menghadirkan perbedaan pilihan, tetapi setelah Kongres HMI harus kembali menjadi satu rumah bagi seluruh kader.

Gagasan tersebut menjadi pesan utama M. Isnen Harahap dalam melihat momentum Kongres XXXIII HMI: membangun kepercayaan untuk menyatukan HMI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *