Penghargaan Program 3 Juta Rumah, Antara Prestasi dan Pekerjaan Rumah Bobby Nasution

Penghargaan Program 3 Juta Rumah, Antara Prestasi dan Pekerjaan Rumah Bobby Nasution

BATAM — Pemerintah Provinsi Sumatera Utara kembali membawa pulang penghargaan. Kali ini bukan piala olahraga, bukan pula penghargaan karena berhasil membuat rapat berlangsung sampai malam, melainkan apresiasi dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sebagai Terbaik I Tingkat Provinsi kategori Implementasi Program 3 Juta Rumah.

Penghargaan tersebut diterima Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution dalam ajang Apresiasi Pemerintah Daerah 2026 Batch II di Batam, Kepulauan Riau, Rabu (12/8/2026).

Bobby menyebut penghargaan itu bukan sekadar seremoni atau tambahan koleksi penghargaan pemerintah daerah. Menurutnya, capaian tersebut harus menjadi pemicu agar penyediaan hunian layak dan terjangkau bagi masyarakat Sumatera Utara terus ditingkatkan.

“Alhamdulillah, Sumatera Utara berhasil meraih penghargaan Terbaik I Tingkat Provinsi untuk kategori Implementasi Program Tiga Juta Rumah dari Kemendagri,” ujar Bobby.

Di atas kertas, tentu kabar ini menggembirakan. Apalagi kalau penghargaan memang menjadi tanda bahwa program berjalan dan masyarakat mulai merasakan manfaatnya.

Namun, seperti biasa, penghargaan pemerintah punya satu kelemahan kecil: pialanya bisa dipajang di lemari, tetapi rumah masyarakat tidak bisa dipajang di ruang tamu kantor gubernur.

Karena itu, pekerjaan sebenarnya justru dimulai setelah tepuk tangan selesai.

Bobby menegaskan bahwa penghargaan tersebut menjadi motivasi untuk memastikan semakin banyak masyarakat Sumatera Utara memiliki rumah yang layak. Baginya, penyediaan hunian bukan sekadar mengejar target program pemerintah pusat, tetapi bagian dari upaya menghadirkan kebutuhan dasar yang benar-benar dirasakan masyarakat.

“Karena bagi kami, ini bukan sekadar penghargaan, tetapi juga komitmen untuk memastikan semakin banyak masyarakat Sumatera Utara memiliki rumah yang layak,” katanya.

Jangan Sampai Rumah Layak Hanya Layak di Brosur

Program 3 Juta Rumah memang terdengar besar. Tetapi tantangan di lapangan juga tidak kecil.

Harga tanah naik, harga bahan bangunan bergerak, kemampuan masyarakat berbeda-beda, sementara kebutuhan rumah terus bertambah. Di sisi lain, masyarakat tentu tidak membutuhkan rumah yang sekadar berdiri tegak.

Mereka membutuhkan rumah yang layak dihuni, memiliki akses jalan, air bersih, listrik, sanitasi, serta berada di lingkungan yang aman dan tidak membuat penghuni harus berdoa setiap kali hujan turun.

Di sinilah penghargaan tersebut seharusnya menjadi cambuk, bukan bantal untuk beristirahat.

Pemerintah daerah, pemerintah pusat, dunia usaha, perbankan dan berbagai pemangku kepentingan perlu bergerak bersama. Sebab membangun rumah untuk masyarakat tidak cukup dengan seremoni peletakan batu pertama dan foto bersama.

Kalau semua selesai pada sesi foto, masyarakat tentu akan bertanya: rumahnya kapan selesai?

Sinergi Jangan Berhenti di Ruang Rapat

Bobby juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan.

Hal itu disampaikannya setelah mengikuti Rapat Koordinasi Kepala Daerah dan Forkopimda Regional Sumatera di Batam yang dibuka Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.

Menurut Bobby, forum tersebut menjadi momentum memperkuat kerja sama lintas sektor, menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, sekaligus menyelaraskan kebijakan pusat dan daerah.

Semua itu memang penting.

Sebab program besar seperti penyediaan hunian tidak mungkin dikerjakan oleh satu instansi. Pemerintah harus memastikan kebijakan pusat nyambung dengan kondisi daerah, sementara pemerintah daerah harus memastikan program tersebut tidak berhenti sebagai angka dalam laporan.

Karena kalau hanya angka yang naik, sementara jumlah masyarakat yang belum memiliki rumah layak tetap tinggi, berarti yang bertambah hanya statistiknya.

Reward 300 Unit Bedah Rumah

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menjelaskan bahwa penghargaan tersebut merupakan bagian dari upaya menciptakan keseimbangan antara reward dan punishment bagi pemerintah daerah.

Sebagai daerah terbaik dalam implementasi Program 3 Juta Rumah, Sumut memperoleh reward berupa bantuan bedah rumah sebanyak 300 unit.

Kabupaten Deli Serdang juga memperoleh penghargaan sebagai daerah terbaik dalam kategori yang sama dan mendapatkan bantuan bedah rumah sebanyak 300 unit.

Tito mengatakan penghargaan tersebut sekaligus ingin menunjukkan bahwa di tengah adanya kepala daerah yang menghadapi persoalan hukum, masih banyak pemerintah daerah yang menghasilkan prestasi.

Pesannya cukup jelas: jangan sampai kepala daerah hanya terkenal ketika tersandung masalah. Ada pula yang patut diapresiasi ketika berhasil menjalankan program dan memberikan manfaat.

Dan untuk Sumatera Utara, penghargaan ini tentu layak diapresiasi.

Tetapi apresiasi terbaik sesungguhnya bukanlah tepuk tangan di Batam.

Apresiasi terbaik adalah ketika 300 rumah benar-benar berubah menjadi rumah yang lebih layak, kemudian disusul ribuan rumah lainnya yang bisa dihuni masyarakat dengan tenang.

Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak terlalu membutuhkan tahu siapa yang memegang piala.

Mereka lebih membutuhkan tahu kapan bisa punya rumah yang layak dan mampu membayarnya tanpa harus mengorbankan biaya makan, pendidikan anak, dan kebutuhan hidup lainnya.

Penghargaan boleh dipajang.

Piala boleh difoto.

Tapi pekerjaan rumah tetap harus dikerjakan.

Dan untuk urusan rumah, tentu yang paling penting bukan sekadar “rumahnya ada”, tetapi “rumahnya benar-benar layak.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *