Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Capai 5,61% pada Kuartal I 2026, PIER Nilai Konsumsi Domestik Tetap Jadi Penopang Utama

Ekonomi9 Dilihat
Permata Bank melalui Permata Institute for Economic Research (PIER) merilis analisis terbaru terkait kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026.
Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tercatat tumbuh 5,61% secara tahunan (YoY), meningkat dari 5,39% pada kuartal IV 2025 dan menjadi laju pertumbuhan tertinggi sejak kuartal III 2022.
Pertumbuhan terutama ditopang konsumsi domestik, percepatan belanja pemerintah, serta investasi yang tetap resilien. Namun secara triwulanan, ekonomi masih terkontraksi 0,77%, sehingga capaian pertumbuhan tahunan yang tinggi perlu dibaca bersama konteksnya yakni efek pembanding yang rendah pada kuartal I 2025, dorongan musiman Ramadan dan Idulfitri, serta percepatan belanja pemerintah pada awal tahun.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menyampaikan, “Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal 2026 masih didukung kuat oleh permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah. Namun demikian, dinamika eksternal seperti perang dagang, konflik geopolitik, dan perlambatan ekonomi global tetap perlu dicermati karena dapat memengaruhi stabilitas dan prospek pertumbuhan ke depan.”
Sebagai kontributor terbesar terhadap PDB, konsumsi rumah tangga tumbuh menjadi 5,52% YoY pada kuartal I 2026, meningkat dari 5,11% YoY pada kuartal sebelumnya. Penguatan konsumsi didukung meningkatnya aktivitas belanja masyarakat selama periode Ramadan dan Idulfitri serta membaiknya indikator keyakinan konsumen dan penjualan ritel pada Maret 2026.
Dari sisi investasi, pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) termoderasi menjadi 5,96% YoY dari 6,12% YoY pada kuartal sebelumnya, namun aktivitas investasi domestik tetap resilien terutama didukung investasi bangunan dan struktur terkait program prioritas pemerintah. Sementara itu, belanja pemerintah melonjak signifikan hingga 21,31% YoY seiring percepatan realisasi fiskal pada awal tahun, termasuk untuk mendukung program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
Secara eksternal, ekspor hanya tumbuh 0,90% YoY di tengah meningkatnya ketidakpastian global, sementara impor tumbuh 3,22% YoY sejalan dengan kebutuhan bahan baku dan barang modal domestik. Meskipun kinerja keseluruhan positif, dominasi konsumsi dan belanja pemerintah menunjukkan bahwa mesin pertumbuhan belum sepenuhnya bertumpu pada ekspansi investasi swasta yang kuat dan berkelanjutan, sebagian pendorongnya masih bersifat musiman dan berbasis kebijakan.
Secara sektoral, sektor akomodasi dan makanan-minuman mencatat pertumbuhan tertinggi dari 7,41% YoY pada kuartal sebelumnya menjadi 13,14% YoY pada kuartal I 2026, diikuti sektor jasa lainnya serta transportasi dan pergudangan. Industri pengolahan sebagai kontributor terbesar PDB mengalami moderasi pertumbuhan menjadi 5,04% YoY dari 5,40% YoY, sementara sektor pertambangan masih tertekan akibat pengendalian produksi sejumlah komoditas mineral utama. Berdasarkan wilayah, pertumbuhan di Bali & Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Jawa tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional, masing-masing 7,93% YoY, 6,95% YoY, dan 5,79% YoY, didorong oleh normalisasi pertambangan di Nusa Tenggara Barat, kuatnya industri manufaktur di Sulawesi, dan akselerasi konsumsi domestik di Jawa.
Kehati-hatian dunia usaha turut tercermin dalam pasar tenaga kerja dan sektor manufaktur. Tingkat Pengangguran Terbuka Februari 2026 tercatat 4,68%, dengan penduduk bekerja 147,67 juta orang, naik 1,896 juta orang dibandingkan Februari 2025.
Meski penyerapan masih positif, kualitasnya perlu dicermati di mana proporsi pekerja formal turun tipis 0,02 poin persentase, sementara pekerja paruh waktu naik 0,16 poin persentase. Risiko yang muncul bukan lonjakan pengangguran besar, melainkan meningkatnya informalitas dan tekanan pendapatan kelompok menengah bawah. Di sisi manufaktur, Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis kuartal I 2026 masih di zona ekspansi pada level 51,37, namun melambat dari 52,21 pada kuartal sebelumnya. Sinyal perlambatan semakin kuat pada April dengan PMI Manufaktur turun ke 49,1, mengindikasikan kontraksi output, lonjakan biaya input, dan menurunnya keyakinan usaha.
Dinamika di sektor riil berkaitan erat dengan pasar keuangan yang belum sepenuhnya pulih. Pertumbuhan PDB yang positif belum cukup menghapus kekhawatiran investor terhadap pelemahan rupiah, kenaikan harga energi, ketidakpastian geopolitik, sempitnya ruang penurunan suku bunga, serta tekanan fiskal dari subsidi energi. Pada kuartal I 2026, investor asing mencatat arus keluar bersih sekitar USD 1,79 miliar dari pasar domestik (obligasi -USD 1,48 miliar; saham -USD 1,95 miliar), meskipun SRBI tetap menarik arus masuk USD 1,64 miliar. Meski demikian, sektor jasa keuangan dan sisi konsumen tetap memberikan bantalan — Survei Perbankan Bank Indonesia menunjukkan penyaluran kredit baru kuartal I tetap tumbuh walau lebih rendah dari kuartal sebelumnya dengan standar yang lebih selektif, sementara Indeks Keyakinan Konsumen April 2026 tetap optimistis di level 123,0. Namun, daya tahan konsumsi perlu dijaga mengingat pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi berpotensi merambat ke harga barang impor, biaya logistik, dan biaya produksi.
PIER memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tetap berada pada kisaran 5,1–5,3%, dengan permintaan domestik masih menjadi motor utama pertumbuhan. Namun demikian, risiko eksternal seperti ketegangan geopolitik, perang dagang global, dan perlambatan ekonomi Tiongkok tetap perlu dicermati karena berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan dan kinerja ekspor nasional. Secara keseluruhan, pertumbuhan PDB kuartal I 2026 sebesar 5,61% merupakan capaian positif dan kredibel, tetapi belum mencerminkan perbaikan yang menyeluruh. Perlambatan belanja modal, kehati-hatian rekrutmen, tekanan biaya, pelemahan manufaktur, dan volatilitas pasar keuangan menunjukkan bahwa kualitas pertumbuhan perlu mendapat perhatian serius.
“Ke depan, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter tetap penting untuk menjaga keseimbangan antara dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makroekonomi, termasuk menjaga stabilitas nilai tukar serta kepercayaan pasar di tengah dinamika global. Pemerintah perlu menjaga daya beli, mempercepat belanja produktif, dan menjaga kredibilitas APBN. Bank Indonesia perlu terus menjaga stabilitas rupiah dan inflasi sambil memastikan likuiditas mengalir ke sektor produktif. Sementara dunia usaha perlu menjaga efisiensi dan memperkuat rantai pasok tanpa mengorbankan tenaga kerja secara berlebihan. Dengan sinergi kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi tidak hanya terlihat kuat dalam angka, tetapi juga lebih terasa nyata dalam investasi, penciptaan pekerjaan formal, dan peningkatan pendapatan masyarakat,” tutup Josua.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *