Sabu Itu Pedagang Kematian, Bukan Jalan Rezeki

Residivis Tak Pernah Belajar, 328 Gram Sabu Disita Sebelum Menjadi Tiket Menuju Kuburan Generasi

Ada orang yang setelah keluar penjara memilih memperbaiki hidup. Ada pula yang keluar penjara justru kangen masuk lagi. Bedanya hanya satu: yang pertama mencari nafkah, yang kedua menjual musibah.

Di Medan, seorang residivis kembali diciduk polisi. Bukan karena sedang membuka usaha halal atau membangun masa depan, melainkan karena diduga kembali menjadi pemasok sabu ke kawasan Jalan Brigjen Katamso dan Mangkubumi. Polisi menyita 328 gram sabu, lengkap dengan timbangan digital, plastik klip, uang tunai, dan telepon genggam. Paket komplit seorang “pengusaha” yang omzetnya dibayar dengan kehancuran hidup orang lain.

Ironisnya, bisnis sabu memang selalu terlihat menggiurkan bagi mereka yang hanya menghitung uang, tetapi lupa menghitung air mata.

Satu paket sabu bukan sekadar barang haram. Ia adalah surat undangan menuju rumah sakit jiwa, ruang rehabilitasi, penjara, bahkan liang kubur. Barang putih itu tak pernah memilih korban. Ia bisa merampas masa depan pelajar, menghancurkan rumah tangga, membuat orang tua menjual harta, hingga melahirkan pencurian, perampokan, dan berbagai kejahatan lain demi satu isapan berikutnya.

Sabu tidak pernah membuat orang kaya. Yang kaya hanyalah bandar di puncak rantai. Kurir dan pemasok hanyalah pion yang sewaktu-waktu dikorbankan. Ketika tertangkap, bandar menghilang. Ketika divonis, keluarga yang menangis. Ketika meninggal karena overdosis, tak ada satu gram pun keuntungan yang ikut dikuburkan.

Lebih tragis lagi, residivis sering kali menjadi bukti bahwa penjara belum tentu mengubah cara berpikir. Ada yang menjadikan hukuman sebagai pelajaran. Ada pula yang menjadikannya sekadar tempat transit sebelum mengulangi kesalahan yang sama.

Sindiran paling pahit untuk para pengedar adalah ini: mereka menyebut diri mencari rezeki, padahal yang mereka jual adalah kematian secara mencicil. Mereka tidak berdagang sembako, melainkan memperdagangkan kecanduan. Mereka tidak membuka lapangan kerja, tetapi membuka jalan menuju kriminalitas.

Patut diapresiasi langkah Satresnarkoba Polrestabes Medan yang selama sebulan melakukan pengintaian hingga berhasil menangkap tersangka dan menyita ratusan gram sabu. Upaya mengejar jaringan di atasnya juga penting, karena memutus rantai pasok jauh lebih efektif daripada sekadar menangkap pemain lapangan.

Namun perang melawan narkoba tidak cukup hanya mengandalkan polisi. Selama masih ada pembeli, akan selalu ada penjual. Selama masyarakat diam terhadap peredaran narkoba di lingkungannya, bandar akan terus menemukan pasar.

Karena pada akhirnya, sabu tidak pernah membangun masa depan siapa pun.

Ia hanya mengubah manusia menjadi pelanggan kehancuran, keluarga menjadi korban, dan negeri menjadi penonton atas generasi yang perlahan dirampas oleh serbuk putih bernama narkoba.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *