Di tengah hiruk-pikuk kota yang terkenal dengan kemacetan legendaris dan suhu yang tak kalah dari gurun, Tri Adhianto akhirnya bersiap mencicipi “versi asli” dari panas yang selama ini hanya jadi bahan candaan warga: Tanah Suci.
Bergabung dalam Kloter 25, beliau bersama sang istri tak mau setengah-setengah. Manasik haji di SMA Muhammadiyah 9 Kota Bekasi pun dijalani dengan penuh semangat—mulai dari senam sehat (biar thawaf nanti nggak ngos-ngosan), jalan sehat (simulasi ringan sebelum sa’i), hingga praktik ibadah yang membuat suasana terasa seperti “miniatur Makkah versi Bekasi.”
Para calon jemaah tampak antusias. Mungkin sebagian membayangkan nanti akan lebih sering jalan kaki daripada naik ojek online. Kebersamaan pun terasa hangat—meski suhu Bekasi sendiri sudah cukup melatih mental untuk menghadapi Arab Saudi.
Melalui bimbingan KBIHU An Namiroh, Tri optimistis pelaksanaan haji tahun ini akan lebih baik. Harapan klasik namun selalu relevan pun disampaikan: sehat, lancar, dan pulang dengan predikat haji mabrur—bonusnya, mungkin juga lebih sabar menghadapi rapat-rapat setelah pulang nanti.
Rencananya, 17 Mei 2026 para jemaah Kloter 25 mulai masuk asrama haji. Momen ini biasanya jadi titik di mana koper sudah penuh, tapi tetap merasa ada yang tertinggal—minimal charger atau sandal yang “paling nyaman sedunia.”
Sebagai Wali Kota, Tri tak lupa memberi pesan. Selain menjaga kesehatan dan kekompakan, beliau juga mengingatkan agar para jemaah menjadi “duta Bekasi” yang baik. Artinya, bukan cuma tertib dan disiplin, tapi juga membuktikan bahwa warga Bekasi bisa sabar—bahkan tanpa klakson.
Pada akhirnya, perjalanan ini memang bukan sekadar perjalanan fisik. Ini perjalanan spiritual—yang, kalau dipikir-pikir, mungkin juga jadi kesempatan langka bagi warga Bekasi untuk merasakan macet yang bukan di Summarecon atau Kalimalang.
Semoga seluruh jemaah diberi kelancaran, kesehatan, dan pulang dengan hati yang lebih bersih. Dan tentu saja, dengan cerita-cerita baru yang siap dibagikan—selain cerita lama tentang panasnya Bekasi yang ternyata… masih kalah saing.






