KOTA BEKASI — Rabu, 22 April 2026, Lapangan Eraska di Kranggan, Kecamatan Jatisampurna, kembali menjadi saksi sebuah seremoni penuh optimisme: pembukaan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 tahun anggaran 2026. Tema yang diusung pun terdengar gagah: “TMMD Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa.” Sebuah kalimat yang, kalau diucapkan dengan cukup lantang, hampir terdengar seperti solusi dari semua persoalan.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, dengan penuh keyakinan menegaskan bahwa TMMD bukan sekadar membangun jalan atau fasilitas. Ini tentang dampak sosial, tentang gotong royong, tentang kebersamaan. Sebuah konsep yang selalu terdengar indah—seperti brosur perumahan: rapi, menjanjikan, dan selalu terlihat sempurna dari luar.
Kolaborasi lintas sektor pun kembali menjadi mantra utama. TNI, pemerintah, dan masyarakat diminta bergerak bersama. Sebuah ajakan yang terdengar seperti ajakan olahraga pagi: semua diajak, tapi biasanya yang benar-benar konsisten hanya segelintir orang yang itu-itu saja.
Di Kelurahan Jatirangga, pembangunan fisik mulai digerakkan. Jalan diperbaiki, fasilitas umum disentuh, dan harapan kembali dicor bersama adukan semen. Di sisi lain, program non-fisik seperti penyuluhan, pelayanan kesehatan, dan edukasi masyarakat juga digelar—karena pembangunan, seperti yang sering diingatkan, tidak boleh hanya terlihat, tapi juga harus terasa.
Namun di balik semua narasi itu, ada pertanyaan yang terus berulang, seperti lubang jalan yang ditambal berkali-kali tapi selalu muncul lagi: mengapa pembangunan yang “tepat sasaran” selalu perlu diulang dari awal setiap tahun? Jika benar sudah tepat, mengapa masih banyak yang belum kena?
Program seperti TMMD datang dengan semangat gotong royong, tapi sering kali berjalan di atas kenyataan yang lebih keras: bahwa ketimpangan tidak selesai dengan slogan, dan kebutuhan masyarakat tidak berhenti hanya karena proyek telah diresmikan. Jalan bisa saja mulus untuk sementara, tapi persoalan yang lebih dalam—akses, pemerataan, dan keberlanjutan—sering kali tetap berjalan di tempat.
Dan di situlah satire ini berhenti menjadi sekadar sindiran, lalu berubah jadi cermin. Karena ketika pembangunan terus dirayakan sebagai pencapaian tahunan, sementara masalahnya tetap menjadi langganan tahunan, maka yang sebenarnya kita bangun bukan hanya infrastruktur—melainkan juga rutinitas untuk terlihat bekerja, tanpa pernah benar-benar selesai.(***)






