Kalau ada satu hal yang mampu menyatukan banyak orang tanpa harus memperdebatkan perbedaan, itu adalah doa. Di tengah dunia yang semakin ramai oleh opini dan perdebatan, sesekali masyarakat memang perlu diingatkan bahwa kedamaian juga bisa dibangun dari rasa syukur yang dipanjatkan bersama.
Suasana itulah yang terasa dalam acara Doa Bersama Lintas Agama dan Ucapan Syukur yang digelar Polrestabes Medan di Lapangan Apel Polrestabes Medan pada Senin (4 Mei 2026). Kegiatan ini menjadi bentuk rasa syukur atas situasi keamanan dan ketertiban masyarakat yang tetap kondusif setelah peringatan Hari Buruh Internasional pada 1 Mei 2026.
Ketua DPRD Kota Medan, Drs. Wong Chun Sen, M.Pd.B., turut menghadiri kegiatan tersebut bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, serta berbagai elemen masyarakat. Acara dibuka langsung oleh Kapolrestabes Medan, Dr. Jean Calvijn Simanjuntak, S.I.K., M.H., sementara Pemerintah Kota Medan diwakili Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Medan, Muhammad Sofyan, S.Sos., M.A.P.
Boleh dibilang, keberhasilan menjaga keamanan sering kali justru tidak terasa. Ketika situasi aman, masyarakat menganggapnya sebagai hal biasa. Padahal, di balik suasana yang kondusif, ada kerja sama panjang antara aparat keamanan, pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat yang terus menjaga komunikasi agar perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan.
Acara ini juga diisi dengan pemberian santunan dan tali kasih kepada anak-anak yatim. Sebuah pengingat bahwa rasa syukur tidak hanya diucapkan lewat doa, tetapi juga diwujudkan dalam kepedulian kepada mereka yang membutuhkan.
Yang menarik, kegiatan ditutup dengan doa lintas agama. Sebuah pemandangan yang sederhana, tetapi memiliki makna besar. Sebab setiap agama mungkin memiliki cara berdoa yang berbeda, namun harapan yang dipanjatkan tetap sama: kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Satire-nya begini, di media sosial orang sering berlomba mencari perbedaan untuk diperdebatkan. Di lapangan, justru para tokoh lintas agama berkumpul untuk mencari persamaan demi menjaga kerukunan. Ternyata, hidup berdampingan jauh lebih produktif daripada sibuk memperpanjang perdebatan yang tidak pernah selesai.
Ketua DPRD Kota Medan menilai sinergi seperti ini perlu terus dipelihara. Keamanan bukan hanya tugas kepolisian, dan kerukunan bukan hanya tanggung jawab tokoh agama. Keduanya adalah hasil dari kesadaran seluruh elemen masyarakat untuk saling menghormati dan menjaga ruang kebersamaan.
Harapannya, semangat kebersamaan yang terlihat dalam kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Kota Medan yang dikenal dengan keberagaman budaya, suku, dan agama membutuhkan ruang-ruang seperti ini agar toleransi terus tumbuh menjadi budaya, bukan sekadar slogan.
Karena pada akhirnya, kota yang damai bukanlah kota yang tidak pernah memiliki perbedaan. Kota yang damai adalah kota yang mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan. Dan kadang, langkah paling sederhana untuk merawatnya adalah berkumpul, saling mendoakan, lalu pulang dengan keyakinan bahwa persaudaraan selalu lebih berharga daripada permusuhan.(***)






