Galeri Dekranasda Medan: UMKM Diberi Etalase, Tapi Apakah Sudah Diberi Pasar?

Pemerintah Kota Medan kembali menghadirkan kabar baik untuk pelaku UMKM. Sebuah Galeri Dekranasda disiapkan sebagai etalase produk unggulan Kota Medan. Tempat yang digadang-gadang menjadi ekosistem baru bagi pelaku usaha kreatif lokal, sekaligus destinasi wajib bagi wisatawan yang mencari oleh-oleh khas Medan.

Konsepnya terdengar menjanjikan. Produk lokal dipajang rapi, pelaku UMKM mendapat ruang promosi, wisatawan punya tujuan belanja yang jelas. Semua tampak ideal. Setidaknya sampai muncul pertanyaan sederhana yang sering terlupakan dalam setiap proyek serupa: apakah yang dibutuhkan UMKM hanya etalase?

Selama bertahun-tahun, pelaku UMKM di Indonesia telah menjadi langganan berbagai program pemerintah. Mereka diundang ke seminar, dilibatkan dalam pameran, diberikan sertifikat pelatihan, diajak foto bersama pejabat, bahkan sering dijadikan simbol keberhasilan ekonomi kerakyatan. Namun ketika acara selesai dan spanduk diturunkan, banyak yang kembali menghadapi persoalan yang sama: pembeli tetap sedikit, modal tetap terbatas, dan akses pasar tetap sulit.

Karena itu, ketika Galeri Dekranasda disebut sebagai ekosistem baru, publik tentu berharap yang dimaksud benar-benar ekosistem, bukan sekadar ruang pajang yang diberi nama lebih modern.

Kata “ekosistem” saat ini menjadi salah satu istilah favorit dalam dunia pemerintahan. Hampir semua proyek diberi label ekosistem. Padahal ekosistem bukan hanya soal gedung yang bagus atau rak yang tertata rapi. Ekosistem berarti ada pembeli, ada transaksi, ada promosi berkelanjutan, ada pendampingan usaha, ada akses pembiayaan, dan yang paling penting ada keuntungan nyata bagi pelaku usaha.

Jika hanya memindahkan produk dari rumah produksi ke lemari pajangan dalam gedung pemerintah, itu bukan ekosistem. Itu hanya relokasi barang.

Wali Kota Medan Rico Waas memang patut diapresiasi karena menunjukkan perhatian terhadap produk lokal. Bahkan ia mengajak seluruh pimpinan perangkat daerah dan camat untuk melihat langsung galeri tersebut. Sebuah langkah yang menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mendukung UMKM.

Namun di sisi lain, mengajak para camat berburu UMKM potensial juga menyisakan pertanyaan menarik. Jika selama ini setiap kecamatan memiliki data UMKM, mengapa masih perlu dilakukan “penyisiran” ulang untuk menemukan pelaku usaha yang layak masuk galeri? Apakah datanya belum lengkap, atau selama ini perhatian terhadap mereka memang belum maksimal?

Pernyataan bahwa produk UMKM Medan tidak kalah dari daerah lain juga sebenarnya bukan kabar baru. Hampir setiap daerah di Indonesia mengklaim hal yang sama. Masalahnya bukan pada kualitas produk. Banyak produk lokal memang sangat baik. Yang sering kalah justru sistem pemasarannya, jaringan distribusinya, dan kemampuan menghadirkan pembeli secara konsisten.

Sebab dalam dunia usaha, kualitas tanpa pasar hanya akan menghasilkan gudang yang penuh stok.

Wisatawan tentu senang jika memiliki satu lokasi yang menjual produk khas Medan. Namun wisatawan tidak akan datang hanya karena pemerintah berharap mereka datang. Mereka datang jika tempat itu dikenal, mudah diakses, nyaman, dan menawarkan pengalaman yang menarik.

Inilah tantangan terbesar Galeri Dekranasda. Bukan saat launching yang penuh seremoni dan dokumentasi. Tantangan sesungguhnya adalah enam bulan setelah peresmian, ketika kamera media sudah pergi dan perhatian publik mulai beralih ke program lain.

Apakah galeri itu tetap ramai? Apakah transaksi terus berjalan? Apakah UMKM benar-benar memperoleh peningkatan omzet? Atau justru berubah menjadi ruang sunyi yang sesekali ramai ketika ada kunjungan pejabat?

Karena sejarah pembangunan di negeri ini menunjukkan bahwa membangun tempat jauh lebih mudah daripada menjaga aktivitas di dalamnya tetap hidup.

Pada akhirnya, pelaku UMKM tidak membutuhkan pujian bahwa produk mereka bagus. Mereka sudah tahu kualitas produknya. Yang mereka butuhkan adalah pembeli yang datang, transaksi yang meningkat, dan keuntungan yang cukup untuk mengembangkan usaha.

Jika Galeri Dekranasda mampu mewujudkan itu, maka ia layak disebut ekosistem baru UMKM Medan. Namun jika hanya menjadi ruang pamer yang indah untuk difoto dan dikunjungi saat acara resmi, maka yang berkembang hanyalah etalasenya, bukan usahanya.

UMKM tidak hidup dari pujian. UMKM hidup dari penjualan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *