Fun Walk, Doorprize, dan Umrah: Ketika Jalan Santai Lebih Ramai daripada Diskusi Soal Harga Sembako

Jalan santai memang selalu menjadi kegiatan yang sulit ditolak masyarakat. Tiket murah, olahraga ringan, hiburan tersedia, dan yang paling penting, ada doorprize. Jika hadiah utamanya dua paket umrah, jangan heran kalau peserta rela datang sejak subuh demi mendapatkan nomor undian yang dianggap membawa keberuntungan.

Pekan Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS) 2026 yang digelar MUI Kota Medan kali ini semakin meriah dengan agenda Fun Walk. Wali Kota Medan Rico Waas pun hadir melepas ribuan peserta dan mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai inovasi positif yang mengajak masyarakat hidup sehat.

Tidak ada yang salah dengan jalan santai. Tidak ada yang keliru dengan olahraga bersama. Bahkan kegiatan seperti ini memang mampu mempererat silaturahmi dan menggerakkan pelaku UMKM di sekitar lokasi acara. Persoalannya, negeri ini kadang terlalu piawai menciptakan keramaian, tetapi belum tentu sama piawainya menyelesaikan persoalan yang lebih mendasar.

Ribuan orang bisa berkumpul dengan semangat karena hadiah umrah, sepeda, televisi, dan berbagai doorprize lainnya. Namun coba adakan forum terbuka membahas persoalan banjir, pelayanan publik, atau kenaikan biaya hidup. Belum tentu jumlah pesertanya mampu menyaingi antrean pengambilan kupon undian.

Beginilah ironi masyarakat modern. Jalan sehat menjadi sangat menarik ketika di ujungnya ada hadiah. Padahal kesehatan sendiri seharusnya sudah cukup menjadi hadiah bagi setiap orang.

Pemerintah tentu patut diapresiasi karena mendukung kegiatan yang mendorong pola hidup sehat. MUI juga layak mendapat penghargaan karena terus mempromosikan produk halal dan pemberdayaan UMKM. Namun jangan sampai kemeriahan acara membuat kita lupa bahwa ekonomi umat tidak akan tumbuh hanya karena panggung hiburan semakin besar atau peserta semakin banyak.

UMKM membutuhkan lebih dari sekadar bazar tahunan. Mereka membutuhkan akses permodalan, kepastian pasar, pelatihan yang berkelanjutan, hingga kebijakan yang benar-benar memudahkan usaha kecil berkembang. Keramaian selama beberapa hari memang menyenangkan, tetapi roda ekonomi berputar sepanjang tahun.

Pekan KHAS disebut sebagai bagian dari upaya mengembangkan ekonomi syariah. Itu adalah tujuan yang baik. Namun ekonomi tidak pernah tumbuh karena slogan. Ekonomi tumbuh karena transaksi yang nyata, pembeli yang datang kembali, dan pelaku usaha yang memperoleh keuntungan secara berkelanjutan.

Menariknya, hampir setiap kegiatan besar selalu dibungkus dengan narasi kebersamaan. Semua berkumpul, tersenyum, berjalan bersama, lalu pulang membawa harapan memenangkan hadiah. Tetapi setelah panggung dibongkar, tenda dilepas, dan spanduk diturunkan, kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Pedagang kembali menghitung omzet, masyarakat kembali memikirkan kebutuhan rumah tangga, dan pemerintah kembali dihadapkan pada pekerjaan yang jauh lebih rumit daripada melepas peserta jalan santai.

Inilah tantangan sesungguhnya. Menyelenggarakan acara meriah memang penting untuk membangun optimisme masyarakat. Namun membangun kota tidak cukup hanya dengan menciptakan momen yang menyenangkan. Kota yang sehat bukan hanya diukur dari ramainya peserta Fun Walk, tetapi juga dari bersihnya lingkungan, mudahnya akses layanan kesehatan, serta stabilnya kondisi ekonomi warganya.

Doorprize memang mampu menarik ribuan orang untuk berjalan beberapa kilometer. Sayangnya, hadiah tidak bisa dijadikan strategi jangka panjang untuk membangun kesadaran hidup sehat ataupun memperkuat ekonomi masyarakat.

Pada akhirnya, Pekan KHAS 2026 layak diapresiasi sebagai ruang silaturahmi, promosi produk halal, dan pemberdayaan UMKM. Namun akan lebih bermakna jika semangat yang terlihat di jalan santai juga hadir dalam menyelesaikan berbagai persoalan kota yang tidak bisa diundi dengan kupon keberuntungan.

Sebab masyarakat tidak hanya membutuhkan acara yang ramai. Mereka juga membutuhkan kebijakan yang dampaknya bertahan jauh lebih lama daripada euforia ketika nomor doorprize dipanggil dari atas panggung.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *