Digitalisasi Pasar Petisah: Ketika ‘Potong Tengah’ Akhirnya Dianggap Masalah, Bukan Tradisi

Ada satu kalimat yang paling menarik dari peluncuran digitalisasi Pasar Petisah oleh Wali Kota Medan Rico Waas. Bukan soal modernisasi. Bukan soal teknologi. Bukan juga soal kenyamanan pedagang. Melainkan kalimat sederhana yang terdengar seperti pengakuan jujur atas penyakit lama birokrasi pasar: “Tidak ada lagi istilah potong tengah.”

Kalimat itu seharusnya membuat publik berhenti sejenak. Sebab jika hari ini pemerintah harus membuat sistem agar tidak ada lagi “potong tengah”, berarti selama ini publik patut bertanya, memang selama bertahun-tahun ada apa di tengah?

Digitalisasi akhirnya datang ke Pasar Petisah. Sebuah langkah yang memang sudah seharusnya dilakukan sejak lama. Di saat pedagang kecil sudah menerima transfer QRIS, penjual gorengan menerima pembayaran digital, bahkan tukang parkir mulai mengenal dompet elektronik, sebagian pengelola pasar tradisional justru masih berkutat dengan sistem yang membuat uang berpindah tangan lebih banyak daripada laporan pertanggungjawabannya.

Selama ini kebocoran anggaran selalu terdengar seperti hantu. Semua orang tahu keberadaannya, tetapi tidak ada yang pernah benar-benar melihat wajahnya. Angkanya hilang entah ke mana, setoran tidak sesuai target, pendapatan tak maksimal, namun anehnya semuanya berjalan normal. Seolah kebocoran adalah bagian dari desain bangunan, bukan masalah yang harus diperbaiki.

Ketika DPRD berulang kali menyoroti sektor kontribusi pedagang yang rentan bocor, masyarakat sebenarnya sudah lama memahami apa yang terjadi. Jika uang harus melewati terlalu banyak tangan sebelum sampai ke rekening resmi, maka transparansi bukan lagi soal teknologi, melainkan soal keberanian memutus rantai kebiasaan lama.

Ironisnya, digitalisasi ini dipromosikan sebagai sebuah terobosan besar pada tahun 2026. Padahal di banyak sektor, pembayaran non-tunai sudah menjadi kebutuhan dasar sejak bertahun-tahun lalu. Ini seperti seseorang yang baru membeli payung setelah rumahnya kebanjiran selama satu dekade, lalu menggelar konferensi pers untuk mengumumkan bahwa ia akhirnya menemukan cara agar tidak kehujanan.

Namun di sisi lain, publik tetap layak memberi apresiasi. Sebab mengubah sistem yang selama ini nyaman bagi sebagian pihak memang bukan pekerjaan mudah. Teknologi sering kali bukan ancaman bagi masyarakat, melainkan ancaman bagi mereka yang selama ini menikmati ruang abu-abu dalam pengelolaan keuangan.

Pernyataan bahwa seluruh pembayaran pedagang akan langsung masuk ke rekening PUD Pasar tanpa perantara sebenarnya terdengar sederhana. Tetapi justru kesederhanaan itu menunjukkan betapa rumitnya sistem sebelumnya. Sebab jika uang harus langsung masuk ke rekening resmi, lalu mengapa selama ini tidak demikian?

Pasar tradisional memang menghadapi tantangan berat. E-commerce tumbuh pesat. Ritel modern menjamur. Konsumen semakin kritis. Tetapi ancaman terbesar pasar tradisional bukanlah marketplace digital atau pusat perbelanjaan mewah. Ancaman terbesar justru datang dari tata kelola yang lamban berubah, birokrasi yang gemar mempertahankan cara lama, dan kebiasaan yang menganggap ketidakjelasan sebagai sesuatu yang wajar.

Digitalisasi Pasar Petisah pada akhirnya bukan sekadar soal aplikasi, rekening bank, atau transaksi elektronik. Ini adalah ujian apakah pemerintah benar-benar serius membangun transparansi atau hanya mengganti buku catatan dengan layar monitor tanpa mengubah mentalitas pengelolanya.

Sebab teknologi bisa mencatat setiap rupiah yang masuk. Tetapi teknologi tidak bisa menggantikan integritas. Sistem digital bisa menutup celah kebocoran. Namun hanya manusia yang bisa memutus kebiasaan lama yang membuat kebocoran itu terus terjadi.

Masyarakat Medan tentu berharap peluncuran ini bukan sekadar seremoni dengan spanduk besar dan pidato optimistis. Karena sejarah birokrasi kita terlalu sering dipenuhi proyek yang terdengar revolusioner saat peluncuran, lalu menghilang dalam sunyi ketika pengawasan mulai longgar.

Jika digitalisasi ini benar-benar berjalan konsisten, maka Pasar Petisah bisa menjadi simbol perubahan. Tetapi jika setelah semua kamera dimatikan masih ada “potong tengah” yang hidup dengan nama baru, maka yang berubah hanyalah cara transaksi, bukan budaya yang selama ini menjadi sumber masalah.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *