Setiap kali pemerintah menghadapi persoalan sosial yang rumit, mulai dari lingkungan, narkoba, judi online, hingga rendahnya kesadaran masyarakat, selalu ada satu kelompok yang dianggap siap menjadi penyelamat bangsa: mahasiswa.
Kali ini, Pemko Medan mengajak mahasiswa menjadi garda edukasi lingkungan dan antinarkoba. Sebuah gagasan yang terdengar mulia. Namun di balik kalimat yang indah itu, publik juga berhak bertanya, apakah mahasiswa sedang diajak berkolaborasi atau sedang diberi pekerjaan tambahan untuk menutupi kegagalan sistem yang seharusnya sudah berjalan?
Persoalan lingkungan di Medan bukanlah masalah yang muncul kemarin sore. Banjir datang hampir setiap musim hujan. Drainase bermasalah sudah menjadi cerita tahunan. Sampah masih menjadi pemandangan yang akrab di banyak sudut kota. Jika kondisi ini masih terus berulang, apakah yang kurang selama ini adalah mahasiswa, atau justru konsistensi kebijakan dan pengawasan pemerintah?
Begitu pula dengan narkoba. Ancaman narkoba memang nyata dan mengkhawatirkan. Namun narkoba tidak tumbuh subur karena kurangnya seminar kampus atau minimnya spanduk sosialisasi. Narkoba berkembang karena jaringan peredarannya masih hidup, pengawasannya belum maksimal, dan penegakan hukumnya sering kali kalah cepat dibandingkan kreativitas para pelaku.
Menariknya, setiap kali masalah sosial membesar, solusi yang muncul hampir selalu sama: edukasi. Seolah-olah masyarakat belum tahu bahwa narkoba itu berbahaya, judi online merugikan, atau membuang sampah sembarangan itu salah. Padahal persoalannya bukan lagi soal tahu atau tidak tahu. Persoalannya adalah bagaimana aturan ditegakkan secara konsisten.
Mahasiswa kemudian diposisikan sebagai agen perubahan. Istilah yang sudah begitu sering digunakan hingga terdengar seperti slogan yang dicetak ulang setiap tahun. Mereka diminta menjadi pelopor, penggerak, motivator, edukator, bahkan terkadang menjadi pemadam kebakaran sosial ketika program pemerintah belum mampu menyentuh akar persoalan.
Ironisnya, mahasiswa sering diminta mengubah masyarakat, sementara mereka sendiri masih berjuang menghadapi biaya pendidikan, sulitnya lapangan pekerjaan, dan ketidakpastian masa depan setelah lulus. Mereka didorong menjadi solusi bagi banyak persoalan publik, tetapi belum tentu memperoleh ruang yang cukup untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan yang melahirkan persoalan tersebut.
Dalam audiensi itu, Pemko Medan juga membuka peluang bagi ASN untuk melanjutkan pendidikan magister di Universitas Medan Area. Tentu ini langkah positif. Peningkatan kualitas sumber daya manusia memang penting. Namun pendidikan lanjutan seharusnya tidak hanya menghasilkan gelar tambahan, melainkan juga kemampuan menghasilkan kebijakan yang lebih efektif dan berdampak nyata.
Karena publik tidak membutuhkan lebih banyak sertifikat yang dipajang di dinding kantor. Publik membutuhkan lebih banyak solusi yang terlihat di lapangan. Jalan yang tidak tergenang. Lingkungan yang lebih bersih. Pelayanan yang lebih cepat. Dan kota yang lebih aman dari narkoba.
Kampus memang memiliki peran penting dalam pembangunan. Namun kampus bukanlah lembaga yang bertugas menggantikan fungsi pemerintah. Perguruan tinggi adalah mitra kritis yang seharusnya mampu memberi masukan, mengawasi, bahkan mengoreksi kebijakan yang kurang tepat.
Jika mahasiswa hanya dijadikan corong sosialisasi, maka potensi intelektual mereka sedang dipersempit. Sebab tugas mahasiswa bukan sekadar menyampaikan pesan pemerintah kepada masyarakat, tetapi juga menyampaikan suara masyarakat kepada pemerintah.
Pada akhirnya, kolaborasi antara Pemko Medan dan perguruan tinggi patut diapresiasi. Namun kolaborasi yang sehat bukanlah ketika kampus hanya diminta membantu menyelesaikan masalah yang ada. Kolaborasi yang sehat adalah ketika pemerintah juga bersedia mendengar kritik dari kampus terhadap penyebab masalah tersebut.
Karena kota yang maju tidak dibangun oleh mahasiswa yang hanya diminta patuh. Kota yang maju lahir dari keberanian mahasiswa untuk berpikir kritis dan keberanian pemerintah untuk menerima kritik tanpa merasa terganggu.(***)






