Joging Bersama Warga Itu Baik, Tapi Kota Tidak Bisa Disehatkan Hanya dengan Car Free Day

idak ada yang salah ketika seorang wali kota berlari bersama warga di Car Free Day (CFD). Justru itu adalah pemandangan yang menyenangkan. Pemimpin yang mau turun ke jalan, berkeringat bersama masyarakat, tentu lebih baik daripada pemimpin yang hanya terlihat di balik meja atau ruang rapat.

Namun persoalannya, Kota Medan tidak akan menjadi lebih sehat hanya karena wali kotanya rajin joging setiap Minggu pagi.

Belakangan ini publik semakin sering melihat aktivitas Rico Waas di ruang terbuka. Mulai dari gotong royong, meninjau banjir, menghadiri festival, berdialog dengan warga, hingga kini ikut senam di Car Free Day. Semua itu membangun citra pemimpin yang dekat dengan masyarakat. Tetapi kedekatan tidak boleh menjadi pengganti efektivitas pemerintahan.

Yang dibutuhkan warga bukan hanya pemimpin yang mudah diajak swafoto di Lapangan Merdeka. Yang lebih dibutuhkan adalah birokrasi yang cepat merespons laporan, drainase yang tidak lagi tersumbat, jalan yang tidak berlubang, lampu jalan yang menyala, dan pelayanan publik yang tidak membuat masyarakat harus bolak-balik mengurus satu dokumen.

Ajakan hidup sehat tentu patut diapresiasi. Tetapi kesehatan masyarakat tidak cukup dibangun dengan mengajak warga berolahraga seminggu sekali. Kota yang sehat lahir dari lingkungan yang bersih, kualitas udara yang baik, sistem pengelolaan sampah yang efektif, ruang hijau yang memadai, sanitasi yang layak, serta pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau semua lapisan masyarakat.

Ironisnya, beberapa hari terakhir pemerintah sendiri masih disibukkan dengan berbagai persoalan mendasar. Mulai dari banjir akibat drainase yang bermasalah, keluhan lampu penerangan jalan yang mati, ancaman longsor, hingga polemik anggaran operasional yang menjadi sorotan publik. Semua itu jauh lebih mendesak daripada sekadar membangun citra pemimpin yang aktif berolahraga.

Car Free Day memang menjadi ruang yang baik untuk mempererat hubungan antara pemerintah dan masyarakat. Namun hubungan yang sehat bukan hanya dibangun melalui senam bersama. Hubungan yang sehat lahir ketika warga tidak perlu lagi mengeluh berulang kali agar persoalannya ditangani.

Kehadiran wali kota di tengah masyarakat seharusnya bukan menjadi peristiwa yang luar biasa. Justru itu adalah kewajiban seorang pemimpin. Yang luar biasa adalah ketika kehadiran tersebut diikuti dengan perubahan nyata yang bisa dirasakan warga setelah acara selesai.

Pemerintah sering mengatakan bahwa kesehatan adalah modal pembangunan. Pernyataan itu benar. Tetapi kesehatan sebuah kota juga diukur dari sehatnya tata kelola pemerintahan. Jika birokrasi masih lamban, pengawasan lemah, dan pelayanan publik belum maksimal, maka kota itu belum sepenuhnya sehat, meskipun setiap Minggu dipenuhi kegiatan olahraga.

Pada akhirnya, masyarakat tidak akan mengingat seberapa jauh wali kota berlari saat Car Free Day. Yang akan mereka ingat adalah seberapa jauh pemerintah berhasil membawa Medan keluar dari persoalan-persoalan yang selama ini terus berulang. Sebab pemimpin bukan dinilai dari jumlah langkah yang ditempuh saat joging, melainkan dari langkah kebijakan yang benar-benar mengubah kualitas hidup warganya.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *