Di Indonesia, anak muda memiliki banyak gelar kehormatan. Mereka disebut agen perubahan, generasi emas, motor inovasi, pemimpin masa depan, hingga garda terdepan pembangunan. Hampir setiap forum pemerintahan dipenuhi kalimat yang memuji energi dan kreativitas generasi muda.
Masalahnya, setelah tepuk tangan selesai dan panggung dibongkar, berapa banyak anak muda yang benar-benar diberi ruang untuk mengambil keputusan?
Dalam pembukaan Youth City Changers APEKSI 2026 di Medan, Wali Kota Rico Waas kembali mengobarkan semangat agar generasi muda menjadi bagian penting dalam membangun kota yang tangguh. Ajakan itu tentu layak diapresiasi. Kota memang membutuhkan energi baru, ide segar, dan keberanian berpikir di luar kebiasaan birokrasi.
Namun ada ironi yang terus berulang.
Setiap kali berbicara tentang masa depan, pemerintah selalu memanggil anak muda. Tetapi ketika berbicara tentang pengambilan kebijakan, kursi-kursi utama masih didominasi pola pikir lama yang sering kali alergi terhadap kritik dan gagasan berbeda.
Anak muda diminta menjadi relawan. Diminta menjadi pelopor. Diminta menjadi agen perubahan. Tetapi ketika mereka mulai mempertanyakan kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat, tidak sedikit yang justru dicap terlalu idealis, kurang pengalaman, atau dianggap belum mengerti bagaimana birokrasi bekerja.
Seolah-olah anak muda hanya boleh menjadi perubahan selama perubahan itu tidak mengganggu kenyamanan sistem yang sudah ada.
Rico Waas menggunakan pengalaman banjir besar tahun 2025 sebagai pelajaran bahwa ketangguhan kota tidak hanya diukur dari kemampuan menghadapi bencana, tetapi juga dari kemampuan bangkit setelah bencana berlalu. Pandangan itu patut diapresiasi.
Karena memang benar, sebuah kota tidak diuji saat langit cerah. Kota diuji ketika hujan turun tanpa kompromi, sungai meluap, listrik padam, dan ribuan warga kehilangan tempat tinggal. Di situlah terlihat apakah sistem benar-benar bekerja atau hanya terlihat rapi di atas dokumen perencanaan.
Namun membangun kota tangguh membutuhkan lebih dari sekadar semangat.
Gotong royong memang penting. Relawan memang luar biasa. Anak muda memang memiliki energi besar. Tetapi semua itu tidak boleh menjadi alasan bagi pemerintah untuk mengurangi tanggung jawabnya sendiri.
Jangan sampai setiap persoalan publik selalu diselesaikan dengan satu kalimat yang terdengar indah: “Mari kita bergotong royong.”
Gotong royong adalah nilai luhur bangsa. Tetapi gotong royong bukan alasan untuk menutupi lemahnya tata kelola, buruknya perencanaan, atau lambatnya mitigasi bencana.
Forum Youth City Changers sendiri sebenarnya memiliki potensi besar. Jika benar-benar dijadikan ruang lahirnya gagasan, forum seperti ini bisa menjadi laboratorium kepemimpinan masa depan. Anak muda tidak kekurangan ide. Mereka hanya sering kekurangan akses untuk mengubah ide menjadi kebijakan.
Yang dibutuhkan generasi muda bukan hanya panggung untuk berbicara selama lima belas menit dalam sesi diskusi. Mereka membutuhkan kursi di meja tempat keputusan dibuat. Mereka membutuhkan kepercayaan untuk memimpin proyek nyata, mengelola program publik, dan ikut menentukan arah pembangunan kotanya.
Karena perubahan tidak pernah lahir hanya dari seminar, sharing session, atau foto bersama para pejabat.
Perubahan lahir ketika keberanian berpikir kritis bertemu dengan keberanian pemerintah untuk mendengarkan.
Pada akhirnya, ajakan Rico Waas agar anak muda menjadi garda terdepan kota tangguh adalah pesan yang baik. Tetapi kata “garda terdepan” seharusnya tidak berhenti sebagai slogan yang diulang setiap acara kepemudaan.
Jika anak muda benar-benar dianggap garda terdepan, maka berikan mereka ruang, kepercayaan, dan kesempatan untuk ikut mengambil keputusan.
Sebab tidak ada gunanya terus menyebut mereka sebagai masa depan Indonesia jika hari ini mereka hanya diberi peran sebagai penonton yang diminta bertepuk tangan setiap kali pidato tentang perubahan selesai dibacakan.
Kota yang tangguh tidak dibangun hanya oleh pemimpin yang pandai berbicara kepada anak muda. Kota yang tangguh dibangun oleh pemimpin yang berani berbagi ruang dengan anak muda untuk memimpin bersama.







