GoVirtual Datang, Medan Makin Digital: Semoga yang Virtual Bukan Kemajuannya

Di era digital, hampir semua persoalan tampaknya memiliki satu jawaban yang sama: aplikasi. Ketika promosi wisata kurang maksimal, muncullah platform digital. Ketika investasi belum tumbuh sesuai harapan, hadir teknologi virtual. Ketika pemerintah ingin terlihat modern, istilah seperti immersive technology, transformasi digital, dan smart city pun menjadi kosa kata wajib dalam setiap konferensi pers.

Kini, Kota Medan menyambut GoVirtual, sebuah platform yang diklaim mampu memetakan sektor strategis daerah sekaligus memperkenalkan potensi kota kepada wisatawan dan investor melalui teknologi virtual imersif.

Gagasannya memang menarik. Sebelum datang ke Medan, calon wisatawan bisa “berjalan-jalan” secara virtual ke kawasan Kesawan, Lapangan Merdeka, Istana Maimun, hingga Masjid Raya. Investor pun dapat melihat potensi kota dari layar komputer tanpa harus naik pesawat terlebih dahulu.

Namun di sinilah muncul pertanyaan yang lebih penting: apakah teknologi mampu menggantikan kenyataan?

Sebuah kota memang bisa dibuat terlihat indah melalui kamera 360 derajat. Jalan yang bersih bisa direkam dari sudut terbaik. Bangunan heritage dapat dipoles dengan pencahayaan yang sempurna. Video promosi selalu berhasil membuat semua tampak mengagumkan.

Masalahnya, wisatawan pada akhirnya tidak akan tinggal di dalam video.

Mereka akan datang ke kota yang nyata. Mereka akan berjalan di trotoar yang sesungguhnya, menghadapi lalu lintas yang sebenarnya, menikmati pelayanan yang mereka rasakan langsung, dan menilai Medan bukan dari tampilan virtual, melainkan dari pengalaman nyata.

Karena itu, digitalisasi seharusnya menjadi pelengkap, bukan penutup kekurangan.

Teknologi virtual memang dapat membantu promosi. Tetapi promosi hanya efektif jika produk yang dipromosikan memang siap. Tidak ada gunanya membuat etalase digital berkelas internasional jika pelayanan publik masih lambat, kawasan wisata kurang terawat, atau infrastruktur pendukung belum memadai.

Pernyataan bahwa Medan memiliki potensi besar sebagai kota investasi juga bukan sesuatu yang baru. Hampir setiap kepala daerah mengatakan hal yang sama. Potensi memang selalu ada. Yang sering menjadi persoalan adalah bagaimana potensi itu diubah menjadi kepastian bagi investor.

Investor tidak hanya melihat video yang menarik. Mereka juga melihat kepastian hukum, kemudahan perizinan, stabilitas kebijakan, keamanan investasi, dan konsistensi pemerintah dalam menjalankan komitmennya.

Begitu pula dengan wisatawan. Mereka memang tertarik melihat visual yang indah. Tetapi mereka akan datang kembali jika pengalaman yang diperoleh lebih baik daripada ekspektasi yang dibangun melalui promosi.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah tampaknya semakin akrab dengan istilah transformasi digital. Hampir setiap program diberi sentuhan teknologi agar terdengar lebih futuristis. Padahal teknologi hanyalah alat. Ia tidak pernah bisa menggantikan kualitas tata kelola.

Aplikasi secanggih apa pun tidak akan memperbaiki birokrasi yang lambat. Platform virtual secanggih apa pun tidak akan menghilangkan sampah yang masih menumpuk di sudut kota. Kamera 360 derajat juga tidak bisa memperbaiki jalan berlubang yang setiap hari dilalui masyarakat.

Inilah tantangan terbesar setiap proyek digital pemerintah. Terlalu sering teknologi dijadikan simbol kemajuan, padahal yang dibutuhkan masyarakat adalah hasil dari teknologi tersebut.

Kehadiran GoVirtual tentu layak diapresiasi jika benar-benar mampu memperluas promosi Medan ke tingkat nasional maupun internasional. Kolaborasi dengan sektor swasta juga menjadi langkah positif untuk mempercepat transformasi digital daerah.

Namun masyarakat tentu berharap proyek ini tidak berhenti sebagai demonstrasi teknologi di ruang rapat atau materi presentasi yang memukau. Yang lebih penting adalah apakah setelah semua dipetakan secara virtual, jumlah wisatawan meningkat, investasi bertambah, UMKM memperoleh pasar baru, dan ekonomi masyarakat benar-benar bergerak.

Sebab pada akhirnya, yang dicari publik bukan kota yang terlihat modern di layar gawai, melainkan kota yang benar-benar modern saat mereka menginjakkan kaki di dalamnya.

Karena kemajuan sebuah kota tidak diukur dari seberapa canggih cara ia dipromosikan, tetapi dari seberapa nyaman kota itu ketika akhirnya dikunjungi. Jangan sampai Medan menjadi kota yang luar biasa di dunia virtual, tetapi masih menyisakan terlalu banyak pekerjaan rumah di dunia nyata.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *