Kalau ada acara yang dihadiri puluhan kepala daerah dari seluruh Indonesia, masyarakat biasanya punya satu harapan sederhana: semoga yang dibawa pulang bukan sekadar foto bersama dan cendera mata. Karena tantangan kota hari ini terlalu besar jika hanya selesai di ruang seminar.
Itulah semangat yang mewarnai Rakernas XVIII APEKSI 2026 di Kota Medan. Mengusung tema “Kota Tangguh, Bangsa Berdaulat,” forum ini mempertemukan para wali kota untuk berbagi pengalaman, merumuskan solusi, dan memperkuat kerja sama menghadapi persoalan yang hampir dirasakan semua kota: anggaran yang semakin ketat, tuntutan pelayanan publik yang semakin tinggi, hingga ancaman bencana yang kian sering datang tanpa undangan.
Wakil Wali Kota Bekasi, Abdul Harris Bobihoe, hadir mewakili Pemerintah Kota Bekasi bersama jajaran perangkat daerah. Kehadiran itu menjadi bagian dari upaya memperluas kolaborasi sekaligus belajar dari berbagai inovasi yang telah diterapkan kota-kota lain.
Satirnya sederhana. Dulu orang berlomba membangun kota paling megah. Sekarang tantangannya bergeser: siapa yang paling cepat menyelesaikan persoalan warganya dengan anggaran yang justru semakin terbatas.
Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, mengingatkan bahwa pemerintah kota harus memperkuat kolaborasi, mempercepat transformasi digital, meningkatkan kualitas pelayanan publik, dan menjaga ketahanan fiskal. Sebuah daftar pekerjaan yang terdengar sederhana di atas kertas, tetapi sering kali jauh lebih rumit ketika bertemu kenyataan di lapangan.
Abdul Harris Bobihoe menilai Rakernas APEKSI menjadi ruang penting untuk saling belajar. Sebab tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan menemukan rumus baru. Kadang, jawabannya sudah lebih dulu ditemukan oleh kota lain yang mengalami masalah serupa. Tinggal ada kemauan untuk belajar dan keberanian untuk menerapkannya.
Forum ini juga berlangsung pada momentum yang tidak ringan. Sepanjang tahun 2025, banyak pemerintah daerah harus menyesuaikan program akibat kebijakan efisiensi anggaran. Di saat yang sama, meningkatnya bencana alam mengingatkan bahwa membangun kota hari ini bukan hanya soal memperbanyak gedung atau memperlebar jalan, tetapi juga memperkuat daya tahan menghadapi krisis.
Karena kota yang tangguh bukan kota yang tidak pernah mengalami masalah. Kota yang tangguh adalah kota yang mampu tetap melayani warganya ketika masalah datang.
Rakernas APEKSI memang tidak akan langsung menghilangkan banjir, mengurai kemacetan, atau menambah anggaran daerah dalam semalam. Namun forum seperti ini tetap penting jika benar-benar menjadi tempat bertukar solusi, bukan sekadar bertukar kartu nama.
Pada akhirnya, masyarakat tidak terlalu mempermasalahkan berapa banyak rapat yang dihadiri pemerintah daerah. Yang lebih mereka tunggu adalah berapa banyak hasil rapat yang benar-benar terasa di lingkungan tempat mereka tinggal.
Karena ukuran keberhasilan sebuah forum bukanlah panjangnya rekomendasi yang ditulis, melainkan seberapa banyak rekomendasi itu berubah menjadi pelayanan yang lebih cepat, kebijakan yang lebih tepat, dan kota yang semakin nyaman untuk dihuni. Jika itu yang dibawa pulang dari Medan ke Bekasi, maka perjalanan dinas ini benar-benar memiliki arti.(***)







