Bunda Literasi Bekasi Jadi Juri, 15 Finalis Cerpen Buktikan Gen Z Tak Cuma Jago Scroll
KOTA BEKASI — Di tengah zaman ketika jempol kadang lebih cepat bergerak daripada pikiran, para pelajar SMP/MTs Kota Bekasi justru memilih cara yang sedikit lebih serius untuk menyampaikan isi kepala: menulis cerita.
Sebanyak 15 pelajar terpilih mengikuti Grand Final Lomba Menulis Cerpen Tingkat SMP/MTs Kota Bekasi Tahun 2026 yang digelar Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kota Bekasi. Kegiatan tersebut turut dihadiri Bunda Literasi Kota Bekasi, Wiwiek Hargono Tri Adhianto, yang sekaligus menjadi salah satu dewan juri, kemarin.
Lomba tahun ini mengangkat tema “Gen Z 5.0: Kreatif Digital, Bijak Berliterasi”. Tema yang cukup dekat dengan keseharian generasi muda hari ini—generasi yang bisa menemukan hampir semua informasi hanya dalam beberapa detik, tetapi tetap perlu belajar membedakan mana informasi, mana opini, dan mana yang sebaiknya tidak ikut dibagikan.
Sebanyak 73 sekolah SMP/MTs mengikuti rangkaian perlombaan. Setelah melewati proses seleksi, terpilih 15 finalis yang berasal dari enam sekolah untuk bertarung di babak Grand Final.
Menariknya, kompetisi ini tidak berhenti ketika pemenang diumumkan.
Karya para finalis terpilih akan mendapatkan kesempatan untuk dibukukan oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kota Bekasi. Kumpulan cerpen tersebut rencananya diterbitkan dengan judul yang sama dengan tema lomba, “Gen Z 5.0: Kreatif Digital, Bijak Berliterasi”.
Langkah ini menjadi bentuk apresiasi sekaligus upaya agar karya para pelajar tidak berhenti sebagai naskah yang disimpan di laptop, ponsel, atau folder yang suatu hari entah masih bisa ditemukan atau tidak.
Dengan dibukukan, karya mereka memiliki kesempatan untuk dibaca lebih luas dan menjadi bagian dari dokumentasi perkembangan literasi pelajar Kota Bekasi.
Dalam Grand Final tersebut, Wiwiek ikut menilai karya para peserta bersama jajaran dewan juri lainnya. Penilaian mencakup sejumlah aspek, mulai dari kesesuaian dengan tema, ide dan kreativitas, alur cerita, penggunaan bahasa, hingga pesan yang disampaikan.
Wiwiek mengapresiasi keberanian para peserta dalam menuangkan gagasan melalui tulisan.
“Literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis, tetapi juga bagaimana kita mampu mengolah informasi, berpikir kritis, dan menuangkan gagasan secara kreatif. Saya berharap kegiatan seperti ini dapat terus dikembangkan agar semakin banyak pelajar Kota Bekasi yang memiliki budaya literasi dan percaya diri dalam menghasilkan karya,” ujarnya.
Pernyataan tersebut terasa relevan dengan tema lomba. Sebab di era digital, kemampuan literasi tidak lagi cukup sekadar bisa membaca dan menulis.
Pelajar juga dituntut mampu memahami informasi, memeriksa kebenarannya, berpikir kritis, serta menyampaikan pendapat tanpa harus ikut-ikutan menjadi “penerus pesan” dari setiap informasi yang lewat di layar.
Di sinilah menulis cerpen punya peran yang menarik. Sambil berimajinasi, pelajar sebenarnya sedang belajar menyusun gagasan, memahami sudut pandang, membangun argumentasi, dan menyampaikan pesan kepada orang lain.
Wiwiek juga memberikan apresiasi kepada para guru, sekolah, dan Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kota Bekasi yang telah mendukung pelaksanaan lomba.
Bagi para finalis, Grand Final tentu menjadi ajang untuk membuktikan kemampuan. Tetapi lebih dari sekadar mencari juara, kegiatan ini memberi ruang kepada pelajar untuk menunjukkan bahwa kreativitas anak muda tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk konten singkat berdurasi beberapa detik.
Ada juga yang memilih duduk, berpikir, menyusun kata, lalu membuat orang lain membaca sampai halaman terakhir.
Grand Final Lomba Menulis Cerpen Tingkat SMP/MTs Kota Bekasi Tahun 2026 pun diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya literasi di kalangan pelajar.
Sebab generasi yang hidup berdampingan dengan teknologi memang tidak cukup hanya menjadi generasi yang melek digital.
Mereka juga perlu menjadi generasi yang melek informasi, kritis, kreatif, dan tahu kapan harus menekan tombol “bagikan” serta kapan lebih baik menekan tombol “baca dulu”.
Dan dari 15 finalis cerpen ini, setidaknya ada kabar baik: di tengah dunia yang serba cepat, masih ada anak-anak muda yang mau memperlambat jempolnya untuk mempercepat pikirannya.(***)





